Tampilkan postingan dengan label Dialog Kerohanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Kerohanian. Tampilkan semua postingan

DIALOG AKAL DAN NAFSU DENGAN TUHAN

Allah SWT menciptakan akal.

Allah SWT berfirman,
"Wahai akal, menghadaplah engkau."


Maka akal pun menghadap Allah SWT, kemudian Allah SWT berfirman,
"Wahai akal, berbaliklah engkau." Lalu akal pun berbalik.


PENGAKUAN AKAL.

Kemudian Allah SWT berfirman,
"Wahai akal, siapakah aku?".


Lalu akal pun menjawab,
"Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang dhaif dan lemah."

Lalu Allah SWT berfirman,
"Wahai akal, tidak Aku ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."



PENGAKUAN NAFSU.


Setelah itu Allah SWT menciptakan nafsu.

Allah SWT berfirman,
"Wahai nafsu, menghadaplah kamu.".

Nafsu tidak menjawab sepatah kata pun, malah sebaliknya, mendiamkan diri.
Kemudian Allah SWT berfirman lagi,
"Siapakah engkau dan siapakah aku?".


Lalu nafsu berkata,
"Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."

Setelah itu Allah SWT menyiksanya di neraka Jahannam selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya.


Allah SWT berfirman lagi,
"Siapakah engkau dan siapakah aku?".

Lalu nafsu berkata,
"Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."

Lalu Allah SWT menyiksa nafsu itu dalam neraka lagi selama 100 tahun.

Setelah itu nafsu dikeluarkan dan Allah SWT berfirman lagi,
"Siapakah engkau dan siapakah Aku?".

Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata,
"Aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku."



PUASA BOLEH  MELAWAN NAFSU


Untuk itulah Allah SWT mewajibkan kita berpuasa, karena nafsu itu sangat jahat.
Hendaknya kitalah yang mengawal nafsu itu dan jangan biarkan nafsu yang mengawal kita, karena kalau dia yang mengawal, maka kita akan menjadi musnah.

Setelah itu Allah SWT memasukkan akal dan nafsu ke dalam diri Adam a.s.
Pada saat Nabi Adam a.s datang ke bumi, keturunan manusia bertambah banyak, maka peranan nafsu dan akal tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Kemungkaran yang terjadi di atas bumi ini adalah dari nafsu, bukan dari akal.

Karena akal dan nafsu ada dalam diri manusia, maka terjadilah pertentangan antara nafsu dan akal
, bertentangan antara satu dengan yang lain.
Peperangan nafsu dan akal tidak pernah ada henti-hentinya, terkadang nafsu yang menang, terkadang akal yang menang.

Misal saja kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang baik, maka nafsu akan menolaknya dan mengajak kepada kejahatan, sedangkan akal mengajak kepada kebaikan.

Kalau kita mengikuti nafsu, artinya kita kalah, dan sebaliknya, jika kita mengikuti akal maka kita akan menang.

Namun bagaiman pun juga, nafsu ini tetap diperlukan oleh manusia, bila nafsu musnah, manusia juga akan musnah.


Sebagai contoh saja nafsu makan, kalau nafsu makan kita tidak ada, maka manusia akan mati, dan nafsu makan ini merupakan fitrah alami jadi tidak akan hilang.
Begitu juga dengan nafsu terhadap lawan jenis, jika nafsu ini tidak ada, maka manusia tidak akan berketurunan dan akhirnya musnahlah manusia.

DIALOG SETAN DAN RAHIB



Dari Wahab bin Munabbih ra, diberitakan oleh Muhammad bin Abil Qasim bahwasanya pada masa Nabi Isa as, setan berniat menjerumuskan seorang rahib yang sedang bertapa.
Namun usaha setan tersebut tidak membuahkan hasil walaupun dengan berbagai cara ia menggoda.

Kemudian setan mendatangi sang rahib dengan rupa yang menyerupai Nabi Isa as.
Setan memanggil,
"Wahai rahib, mendekatlah kepadaku, aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu."
Sang rahib berkata,
"Menjauhlah dariku, aku tak mau menghabiskan umurku dengan membuang-buang waktu."

Setan terus menerus membujuk.
"Marilah mendekat kepadaku, aku adalah Isa Al-Masih."
Sang rahib menjawab,
"Jika engkau benar-benar Isa Al-Masih as, aku sama sekali tidak membutuhkanmu."
"Bukankah dia telah memerintahkan kepada kami untuk beribadah dan memperingati kami dengan hari kiamat."

"Menjauhlah dariku, aku tidak membutuhkanmu," kata rahib.
Maka setan pun pergi dan meninggalkan sang rahib.

DIALOG IBLIS DENGAN PENEBANG KAYU



Dari Hasan, Mubarak bin Fadhilah telah meriwayatkan untuk kita semua. Sebuah kisah teladan islami yang bisa dijadikan panutan untuk umat Islam agar selalu zikir dan ingat terhadap Allah SWT.
Kisahnya.
Dahulu ada sebuah pohon yang disembah, selain Allah SWT.
Kemudian datanglah seorang laki-laki mendatanginya dan berkata,
"Aku akan menebang pohon ini."
Pada mulanya si penebang pohon ini datang untuk menebang karena takut akan Murka Allah SWT.

Maka iblispun datang dengan bentuk menyerupai manusia dan menghadang si penebang pohon,
"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya iblis.
"Aku hendak menebang pohon yang dijadikan sembahan selain Allah SWT," jawab si penebang pohon.
"Jika engkau tidak menyembahnya, ia tidak akan membahayakanmu," jawab iblis.
"Aku tetap akan menebangnya," kata si penebang kayu.

Iblis terus menerus menggoda si penebang pohon.
"Adakah jalan lain yang lebih baik untukmu? Jika engkau tidak menebang pohon itu maka engkau akan mendapatkan 2 dinar setiap pagi di bawah bantalmu." kata iblis.
"Darimana engkau mendapatkannya?" tanya si penebang kayu.
"Aku yang akan memberikannya kepadamu." jawab iblis yang menjelma menjadi manusia itu.

Kemudian laki-laki penebang pohon kembali pulang ke rumahnya dan mengurungkan niatnya untuk menebang pohon. Maka pada paginya ia mendapatkan uang 2 dinar di bawah bantalnya.
Namun pada hari berikutnya uang tersebut tidak ditemukan di bawah bantalnya lagi. Si penebang kayu marah dan bergegas menuju pohon yang jadi sembahan tersebut dan bermaksud menebangnya kali ini.

Di tengah perjalanan, iblis muncul lagi dengan rupa asli dan menghadangnya.
"Apa yang hendak engkau lakukan?" tanya iblis.
"Aku hendak menebang pohon yang disembah selain Allah SWT," jawab si penebang kayu.
"Engkau telah berbohong, engkau tidak akan bisa menebang pohon itu," kata iblis lagi.

Akhirnya penebang pohon tetap pergi untuk menebang pohon. Namun iblis juga tak membiarkannya, ia memukul dan mencekiknya sampai hampir mati.

Lalu iblis berkata,
"Tahukah engkau siapa sebenarnya aku? Aku adalah Iblis. Pertama kali engkau marah dan hendak menebang pohon itu karena hanya mencari ridha Allah SWT. Saat itu, aku tidak mampu emnghalangimu, maka aku membujukmu melalui uang 2 dinar. Saat itu engkau tudak jadi menebang pohon terwebut. Maka ketika engkau marah dan hendak menebang pohon hanya karena uang 2 dinar, aku dapat menghalangi dan mengalahkanmu."