Tampilkan postingan dengan label Hakikat Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Shalat. Tampilkan semua postingan

APAKAH SOLATMU DITERIMA ALLAH?

Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman

“Sesungguhnya Aku (Allah) hanya akan menerima solat orang orang yang merendahkan dirinya kerana kebesaranKu, dia tidak sombong dengan makhlukKu yang lain, dia menyayangi orang orang miskin dan menderita, menahan diri dari hawa nafsunya kerana Aku, melazimkan hatinya untuk takut kepadaKu, memberi makan pada yang lapar, dan memberi pakaian bagi yang telanjang, memberi perlindungan bagi orang yang kena musibah dan orang orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari, Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan, Aku akan berikan ilmu ketika ia tidak tahu, Aku akan lindungi dia dengan kebesaranKu, akan Kusuruh malaikat untuk menjaganya, jika ia berdoa, Aku akan menjawabnya, kalau dia meminta, Aku akan segera memenuhinya, perumpamaannya di hadapanKu seperti perumpamaan firdaus“.

Menurut hadits qudsi diatas, tanda orang yang diterima solatnya oleh Allah Swt adalah sebagai berikut :

Pertama, Mereka yang datang dengan merendahkan dirinya kepada Allah.

Yang dimaksud dengan merendahkan diri dihadapan Allah swt dalam solat adalah bahwa kita datang menghadapNya dalam rangka memohon pertolongan bukan untuk ujub dan sum’ah (merasa bangga dan kagum dengan diri sendiri) , kerana itu kita mesti mengakui segala kekurangan kita, menyadari betapa kita sangat kecil dihadapan kebesaranNya, kita tidak memiliki kekuatan apapun kecuali atas pertolonganNya. Memang kecacatan pertama dalam beribadah adalah bangga dengan diri sendiri, kerana itu buanglah segala macam kesombongan, ujub dan riya’, lalu serahkan semua urusan dan bertawakallah secara total kepa Allah swt.

Kedua, Mereka yang tidak sombong dengan makhluk Allah yang lain.

Dihadapan Allah setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada manusia yang lebih suprior atau inferior terhadap manusia lainnya. Demikian juga tidak ada suatu ras, suku, kelompok atau bangsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari ras, suku, kelompok atau bangsa lainnya, semuanya berkedudukan sama dihadapan Allah, yang membezakan mereka hanyalah kadar ketaqwaannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (Qs.49 : 13)

Ketiga, Mereka yang menyayangi orang-orang miskin dan menderita.

Menurut Alqur’an, orang yang enggan memberi pertolongan kepada orang-orang miskin tetapi mendirikan solat tetap disebut mendustakan agama dan celaka. Disebutkan ” Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang solat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya, yang menjadikan solat sebagai alat berbuat riya, Dan enggan memberi pertolongan kepada orang miskin dengan barang berguna (Qs. 107 : 1-7)
Jadi bila ada orang rajin solat tetapi tidak pernah memberi makan orang miskin maka solatnya tidak diterima, demikian juga bila ada orang rajin memberi makan orang miskin tetapi tidak pernah melakukan solat, maka iapun tidak dihitung sebagai solat yang diterima. Dalam pandangan Islam, orang yang solat tetapi solatnya tidak member impak positif kepada persekitaran dan orang lain, maka ia tidak dihitung solat sekalipun melaksanakan solat.

Keempat, Mereka yang dapat menahan nafsu dari setiap keinginan yang dilarang Allah.

Orang yang betul-betul menegakkan solat mestinya dapat mengekang dan mengendalikan hawa nasfsunya dari perbuatan yang dilarang Allah, kerana memang salah satu maksud dari mendirikan solat adalah dalam rangka mencegah yang bersangkutan dari perbuatan keji dan mungkar. sebagaimana disebutkan dalam Qs. 29 : 45 ” Dan Dirikanlah solat. Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar “.

Dalam sebuah hadits disebutkan ” Kalau solat seseorang tidak mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar maka solatnya tidak menambah sesuatu kecuali hanya akan menjauhkannya dari Allah Swt”.

Kelima. Mereka yang banyak berdzikir kepada Allah Swt

Salah satu tujuan solat adalah untuk berdzikir kepada Allah, sebagaimana ditegaskan alqur’an Assholatu lidzikiri. (bersolatlah untuk berdzikir kepadaKu). Berdzikir artinya mengingat Allah, Ketika kita mengingat Allah maka Allah juga akan mengingat kita, sebagaimana janjiNya ” ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.
Semakin sering kita mengingat Allah, semakin sering pula Allah mengingat kita (Qs. 62 : 10). Ketika Allah sering mengingat kita, maka Allah akan bersama kita, mencintai kita dan menolong kita, bila Allah telah menjadi penolong kita, maka tidak ada satupun hal yang sulit bagi kita dalam menjalankan kehidupan ini. Sebaliknya orang yang solat tetapi tidak berdzikir kepada Allah, berarti ia gagal dalam solatnya.

Keenam, Mereka yang mempunyai kepekaan dan kesedaran sosial dan kemanusiaan yang tinggi .

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menegaskan : Perumpamaan kaum muslimin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan dan kesetia kawanan ibarat satu tubuh, bila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainpun ikut juga merasakannya. Mereka Ibarat satu bangunan, yang satu menguatkan yang lainnya. Kerana itu menurut baginda, barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka mereka bukan termasuk golongan umat Islam.

Maka bila sering solat tetapi tidak peka dengan nasib saudaranya yang lain, tidak memiliki kesedaran sosial yang tinggi, maka bererti kita masih tergolong dalam kelompok yang disebut Nabi saw sebagai “akan datang suatu zaman dimana orang berkumpul di masjid untuk solat berjamaah tetapi tidak satupun diantara mereka yang beriman “dan tidak satupun juga yang dihitung sebagai orang yang menegakkan solat.

Dari huraian diatas dapat dilihat bahwa solat yang akan diterima oleh Allah Swt adalah solat yang tidak saja memberikan keuntungan dan manfaat kepada individu yang melakukannya, tetapi yang lebih penting adalah mempunyai akses dan nilai manfaat sosial kemasyarakatan yang luas.

Kalau kita mampu melakukan itu semua, maka berarti solat kita telah diterima dan Allah akan melindungi kita dengan kebesaranNya. Perlindungan itu bukan saja dapat diperoleh di akhirat kelak, tetapi juga di dunia. Allah Swt berfirman dalam Qs. 41 : 31 “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta

10 JENIS SOLAT YANG TIDAK DITERIMA OLEH ALLAH S. W. T



Rasulullah S. A. W. telah bersabda yang bermaksud :
"Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya." (Tabyinul Mahaarim) Rasulullah S. A. W telah bersabda bahawa : "10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S. W. T, antaranya :

1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu.
2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.
4. Orang lelaki yang melarikan diri.
5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).
6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.
7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.
8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
9. Orang-orang yang suka makan riba'.
10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar."

Sabda Rasulullah S. A. W yang bermaksud : "Barang siapa yang solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S. W. T dan jauh dari Allah."

Hassan r. a berkata : "Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buru"

ALLAH MEMBERIKAN 3 PELUANG DALAM SHALAT

Imam Jakfar Shadiq as berkata,

“Ketika seorang hamba shalat, Allah Swt akan memalingkan wajah-Nya kepada hamba dan selalu memperhatikannya sampai hamba-Nya berpaling dari Allah sebanyak tiga kali, dan ketika hamba berpaling tiga kali, maka ketika itulah Allah juga akan berpaling darinya.”

Ulama' terkenal menjelaskan hadis tersebut dan mengatakan, 

“Itu adalah terjemahan  dari riwayat tersebut, dan akan saya kemukakan beberapa poin. 

Pertama, jelas sudah bahwa ketika hamba menghadap dan memalingkan muka kepada Allah Swt, maka Allah juga akan berpaling kepadanya. Inilah inti dari riwayat tersebut.
Mengapa? Karena shalat adalah ritual menghadap kepada Allah Swt dan jika hamba memalingkan perhatiannya kepada Allah, maka Allah juga akan memperhatikannya dengan perhatian penuh.”


“Kedua, jika hamba memalingkan wajah (perhatian) dari Allah Swt maka Dia juga akan memalingkan wajah-Nya (perhatian) dari hamba itu. Untuk yang satu ini ada batasnya, jika sekali ia memalimgkan wajahnya dari Allah Swt, maka Allah masih akan memperhatikan hamba-Nya. Sampai tiga kali, dan ketika sudah tiga kali hamba itu memalingkan perhatiannya dari Allah Swt, maka Allah Swt juga tidak akan memperhatikannya lagi. Riwayat ini tentang shalat. Dalam shalat memalingkan wajah dari Allah Swt berarti hamba ketika shalat memperhatikan selain Allah Swt. Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika manusia shalat dua rakaat dan sepenuhnya khusyu, maka Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa kecilnya. Perhatian atau khusyu berarti agar manusia tidak memikirkan masalah duniawi ketika shalat. Yakni ketika kalian shalat, untuk beberapa menit saja jangan kalian memikirkan apapun kecuali memperhatikan Allah Swt. Karena shalat itu tidak lebih dari beberapa menit saja!”
“Ada  satu cerita tentang almarhum ulama  yang tidak ingin saya sebutkan namanya. Saya ingat waktu itu hari wafat. Kebetulan saya masih berada di jalan ketika waktu mendekati Zuhur. Ketika Zuhur, saya pergi shalat berjamaah di masjid beliau. Selesai shalat, beliau berdiri dan melihat ke arah saya padahal saya berdiri di tempat yang tidak mudah dilihat. Beliau menyalami saya. Dengan nada bergurau saya mengatakan, Anda shalat cepat sekali. Beliau menjawab, jangan bilang shalat saya cepat tapi bilang kepada mereka yang dua shalat mereka sama seperti satu shalat saya.”
“Intinya adalah mengapa harus tergesa-gesa dalam shalat. Bukankah shalat tidak lebih dari beberapa menit saja, mengapa harus tergesa-gesa? Perhatikan riwayat ini, jika kalian bepaling maka Aku juga akan berpaling. Aku (Allah Swt) akan memperhatikan kalian sepenuhnya, jika sekali kalian berpaling dari-Ku, maka Aku tetap akan memperhatikan kalian. Dua kali kalian bepaling dari-Ku, Akun tetap akan memperhatikan kalian. Akan tetapi untuk kali ketiga maka Aku juga akan berpaling dari kalian.”
“Sekarang, saya ingin menjelaskan bahwa kalian tahu shalat merupakan salah satu sarana terkabulkannya doa. Bahkan kita memiliki riwayat yang menyebutkan bahwa jika seseorang menunaikan shalat, shalat wajib, dan setelah shalat ia berdoa, maka doanya akan terkabul.
 Tapi doa kita tidak terkabul? Itu berarti kalian tidak khusyu dalam shalat! Kalian tidak memperhatikan Allah dalam shalat! Perhatian kalian tertuju pada masalah -masalah duniawi. Ketika tidak ada perhatian dalam shalat maka tidak ada gunanya.”

SOLAT SYARI’AT DAN SOLAT TAREKAT

Solat ada 2 iaitu SOLAT SYARIAT dan SOLAT TAREQAT

SOLAT SYARIAT ialah Solat seluroh badan yang zahir dengan gerakan seperti badan berdiri,lidah membaca,ruku,sujud,mengeluarkan suara dan bacaan 2.Olih itu dalam al quran ianya di sebut SELAWAT.

SOLAT TARIQAT ialah solat nya hati selama lama nya seperti di sebut dalam al quran …SOLATUL WUSTA iaitu solat hati,kerana hati berada di tengah badan,antara kanan dan kiri, antara atas dan bawah, antara BAHGIA DAN CELAKA !!

!Rasul berkata !!Sesunggoh nya hati manusia di antara 2 jari ALLAH,ALLAH membolak balikan nya sesuai dengan kehendak nya…2 jari ALLAH yang dimaksud kan ialah sifat ALLAH..1..Memaksa(hukum) 2.Pengaseh. Ini bermakna dalam solat,pokok nya kena jaga iaitu HATI,bila hati merewang dan lupa, rosak lah pokok,bila rosak pokok, rosak lah solat !!kata nabi…Tidak lah sah salat sesaorang kecuali hadir hati nya.!!

SOLAT SYARIAT ada batas waktu sehari semalam samada solat wajib atau solat sunnat.Salat ini kena ikut rukun dan apa yang di syariat kan olih rasul saw.

SOLAT TAREKAT ialah dilaku kan bila bila waktu samaada di dunia atau akhirat.Masjid NYA ADALAH HATI !.Jamaah nya IALAH TERPADU NYA KESUCIAN BATIN DENGAN SELALU MENGUCAP TASBIH TAUHID DENGAN LISAN BATIN.imam nya IALAH RASA RINDU KEPADA KEKASIH..IAITU..ALLAH, UNTUK SAMPAI KEPADA ALLAH.kiblat nya IALAH KE HADIRAT ALLAH YANG MAHA TUNGGAL DAN KEINDAHAN SIFAT ALLAH ITU BERDIRI SENDIRI.

Itulah dia solat yang hakiki dan maha sempurna, Hati dan roh bersolat bersama tidak terpisah juga ianya !!Hati yang tidak pernah tidur tanpa suara,tanpa lagu,..samaada duduk berdiri, berjalan,sentiasa berkata ‘AKAN ENGKAU LAH AKU IBADAT,AKAN ENGKAU LAH AKU MOHON PERTOLONGAN!!kerana begitu lah sunnah rasul !!!tidak lupa pada tuhan nya walau apa jua kaadaan nya !!!ALLAH HU AKBAR.
Kalau kita sudah mendapat solat se begini,baru lah kita makrifat kepada ALLAH,berpindah hati hanya kepada ALLAH, beralih ke HADRAT AHADIYAT( selalu berasa bersama ALLAH)…para wali dan nabi sentiasa solat samaada berpindah alam(wafat) seperti mana mereka bersolat di rumah !!hadith nabi.
Ini menunjukan mereka tidak mati, hidup disisi tuhan nya mendapat rezeki dari yuhan nya !!
Paduan antara SOLAT SYARIAT dan SOLAT TAREQAT tadi baru lah dikira kita benar benar bersolat,tinggi darjat nya jasmani solat itu dan batin nya solat itu..yang ARIF BILLAH.Untuk mencapai solat begitu, hati mesti lah di rendah kan hanya pada ALLAH,muhasabah diri,bersuluk (berduan dengan ALLAH)….

BAGAIMANA MENGATASI LALAI DALAM SEMBAHYANG

Tuhan ada berfirman di dalam Al Quran yang bermaksud: “Neraka Wail bagi orang yang sembahyang iaitu mereka yang lalai dalam sembahyangnya.” (Ayat Al Maun: 4 & 5)
Terdapat banyak tafsiran dan kupasan tentang maksud “lalai” dalam ayat ini. Maksud pertamanya ialah cuai bersembahyang hingga habis waktunya. Sembahyang itu sama ada diqadha ataupun ditinggalkan terus.
Maksud “lalai” yang kedua ialah tidak khusyuk dalam sembahyang. Iaitu tidak hadir hati dalam sembahyang. Dalam sembahyang teringat perkara-perkara diluar sembahyang yang tidak ada kena mengena dengan sembahyang. Malahan, bukan sahaja tidak hadir hati dalam sembahyang, maksud perbuatan dan lafaz dalam sembahyang pun tidak diketahui atau difahami. Jauh sekali untuk dihayati atau dijiwai.
Ketiga ialah tidak melaksanakan segala ikrar dan janji yang dibuat di dalam sembahyang. Dalam sembahyang berbagai-bagai ikrar dan janji dibuat. Diantaranya kita berikrar bahawa segala sembahyang, ibadah, hidup dan mati kita hanyalah kerana Allah. Tetapi selesai sahaja sembahyang , janji itu dilupakan. Buat kerja seolah-olah Tuhan itu tidak wujud atau tidak relevan.
Walau bagaimana pun , kalau kita kaji betul-betul ketiga-tiga tafsiran di atas, kita akan dapati puncanya berbalik juga kepada ketiadaan khusyuk dalam sembahyang. Tidak khusyuk dalam sembahyang adalah kerana tidak khusyuk di luar sembahyang. Sekiranya seseorang itu khusyuk diluar sembahyang, khusyuk itu sudah pasti berterusan dan akan dibawa ke dalam sembahyang. Ertinya, orang yang khusyuk dalam hidupnya diluar sembahyang akan merasa khusyuk dalam sembahyang. Hanya apabila di dalam sembahyang, rasa khusyuknya lebih subur dan lebih tajam kerana sembahyang itu ada rukun dan disiplinnya.
Bagi orang yang khusyuk, tidak timbul masalah cuai bersembahyang hingga habis waktu kerana orang yang khusyuk itu selalu menanti-nanti dan menunggu-nunggu waktu untuk bersembahyang. Menunggu sembahyang itu baginya seperti menunggu untuk bertemu kekasih.Tidak juga timbul hati tidak hadir dalam sembahyang atau teringat perkara-perkara lain diluar sembahyang kerana orang yang khusyuk itu hatinya sentiasa bergelora dengan Tuhan.
Tidak menunaikan ikrar dan janji yang dibuat di dalam sembahyang adalah berpunca dari ketiadaan khusyuk. Apabila tidak khusyuk, segala janji yang dibuat hanyalah di lidah semata-mata. Paling tinggi, akal mungkin turut serta dalam membuat ikrar dan janji tersebut. Tetapi hati tidak ada peranan kerana tiada khusyuk. Khusyuk itu perkara hati. Oleh itu ikrar dan janji berkenaan dibuat tanpa komitmen dan kesungguhan kerana hati tidak dilibatkan dan tidak dibawa bersama. Ertinya ikrar dan janji itu tidak dibuat dari hati. Janji yang bukan dari hati bukan janjilah namanya. Tidak hairanlah kenapa janji hanya tinggal janji.
Khusyuk yang dituntut dari manusia bukan hanya ketika dalam sembahyang. Tuhan bukan wujud dalam sembahyang sahaja. Tuhan wujud setiap masa dan ketika. Oleh itu kita perlu khusyuk sepanjang masa. Orang yang khusyuk sembahyang itu ialah orang mukmin yang berjiwa Tauhid. Orang yang rasa cinta dan takutnya dengan Tuhan sentiasa mencengkam jiwa dan hati nuraninya. Rasa-rasa ini dibawanya ke mana-mana sahaja dia pergi. Lebih-lebih lagilah dalam sembahyangnya.

Lalai dalam sembahyang pula ada beberapa peringkat seperti berikut:
1. Lalai habis. Takbir sahaja sudah ingat perkara lain di luar sembahyang yang tidak ada kena mengena langsung dengan sembahyang. Ia berterusan sampai salam. Tidak ada rasa apa-apa dengan Tuhan sepanjang sembahyang. Malahan sedar pun tidak.
2. Dalam sembahyang, ada masa lalai dan ada masanya ingat dan sedar bahawa dia sedang bersembahyang. Sembahyang diselang-seli dengan lalai dan mengingat hal-hal dunia.
3.Boleh ikut dan menyorot apa yang dia baca dalam sembahyang tetapi tidak faham akan maksud apa yang dibaca dan dilafazkan. Kalau hendak diukur dengan nisbah khusyuk, ini masih dianggap lalai. Bila tidak faham, masakan boleh menghayati. Kalau tidak menghayati, masakan boleh merasa apa-apa dengan Tuhan.
4. Boleh faham segala apa yang dibuat, dibaca dan dilafazkan di dalam sembahyang. Sembahyang seperti ini sudah agak baik. Namun ini masih dianggap lalai mengikut kehendak dan tuntutan sembahyang kerana belum ada apa-apa rasa dengan Tuhan. Khusyuk adalah rasa bukan setakat tahu atau faham.
5. Faham akan segala apa yang dibaca dan dilafazkan dalam sembyang dan kadang-kadang ada rasa tetapi tidak pada sepanjang masa dan waktu di dalam sembahyang. Walaupun ini sudah baik tetapi masih ada lalai. Walaupun tidak membawa dunia ke dalam sembahyang tetapi rasa-rasa dengan Tuhan tidak wujud sepanjang waktu dalam sembahyang.
6.Sembahyang yang tidak lalai itu ialah yang sentiasa mempunyai rasa dengan Tuhan yang berubah-rubah dari satu rasa ke satu rasa yang lain mengikut apa yang dibaca dan apa yang dilafazkan,bermula dari takbiratulihram hinggalah kepada salam. Inilah sembahyang yang tidak lalai. Inilah sembahyang yang benar-benar khusyuk.
Pernahkah kita bersedih tertinggal sembahyang? Pernahkah susah hati terlewat mengerjakannya? Pernahkah terasa rugi tertinggal jemaah mendirikan sembahyang? Pernahkah kita risau hati lalai di dalam sembahyang? Pernahkah terasa berdosa tidak beradab menghadapi Tuhan? Jawapannya ada pada diri kita sendiri. Setiap orang boleh menilai dirinya. Tanyalah diri kita akan dapat jawapannya. Bila dapat jawapannya engkau kenal diri engkau. Bila engkau kenal diri engkau, engkau kenal siapa engkau. Kalau engkau kenal diri engkau engkau tidak akan nampak lagi kejahatan orang lain. Begitulah beberapa pertanyaan yang kita ajukan. Sebagai contoh untuk bertanya diri sendiri yang tidak disebutkan kita datangkan atau fikirkan tentu kita juga akan dapat jawapannya. Cara ini adalah salah satu cara buat kita menilai diri jika kita mahu menilai diri sendiri. Lebih-lebih lagi jika hendak membaiki diri tapi berapa ramaikah orang boleh ikut jalan ini?!
Sesuailah pembahagian peringkat-peringkat lalai ini dengan erti sebenar khusyuk dalam sembahyang. Khusyuk bukan setakat dapat menumpukan perhatian dan faham apa yang dibaca dalam sembahyang tetapi ialah dapat menimbulkan rasa-rasa dengan Tuhan. Kalau tidak ada rasa-rasa yang berubah dalam sembahayng seperti gerun, hebat, cinta, takut, berharap kepada Tuhan dan lain-lain, maka itu tanda tak khusyuk.
Lalai berpunca dari pengaruh dunia. Kalau dunia berada di hati,amat sukar untuk mendapat khusyuk dalam sembahyang. Dunia akan terbawa dalam sembahyang. Sebab itu kalau pun ada rasa di dalam sembahyang, hanyalah ada rasa-rasa keduniaan seperti seronok tadi baru berjumpa kawan atau rasa takut tengah-tengah sembahyang polis saman kereta kita salah parking atau tengah sembahyang, bimbang takut tak sempat pergi ke bank sebelum bank tutup dan sebagainya. Rasa-rasa ini ialah rasa dunia yang melalaikan, bukan rasa-rasa khusyuk.
Kalau kita berjalan-jalan dalam hutan dan keindahan hutan itu sangat mempengaruhi hati kita hingga apabila terserempak dengan harimau pun kita tak sedar dan tidak merasa takut, maka kita sebenarnya tidak kenal harimau. Kalau kenal, sudah tentu secara spontan kita rasa gerun dan takut. Begitu juga, kalau kita seronok dengan nikmat dunia ini hingga terbawa-bawa ke dalam sembahyang sampai kehadiran Tuhan sewaktu kita bersembahyang pun kita tak sedar, itu tanda kita tidak kenal Tuhan dan tidak terkesan atau terpengaruh dengan kehadiran Tuhan.
Sekiranya kita tidak kenal Tuhan, hanya setakat tahu dan percaya sahaja , kita tidak akan dapat rasa khusyuk. Paling tinggi ketauhidan kita hanya diperingkat akal atau fikiran sahaja kerana tahu dan percaya itu perkara akal. Kita dikatakan orang yang berfikiran tauhid, bukan yang berjiwa tauhid.
Mengenal Tuhan ialah langkah pertama untuk mendapat khusyuk. Setelah Tuhan kita kenal, barulah kita akan dapat merasakan kehebatan dan keagungan Tuhan dihati kita kerana kenal itu perkara hati. Barulah kita akan dapat rasa berTuhan. Selagi hati kita tidak dapat rasa berTuhan, ia tidak akan dapat rasa kehambaan dan ia tidak akan dapat rasa khusyuk.
Ada hadis berbunyi: “Awal-awal agama adalah mengenal Allah”
Maksudnya, selagi kita tidak kenal Allah, agak sukar untuk kita beragama. Kita tidak akan boleh khusyuk. Selagi kita tidak boleh khusyuk kita sebenarnya belum berjiwa Tauhid. Kalau kita belum berjiwa Tauhid kita tidak akan mampu mengamal dan menegakkan syariat Islam secara lahir dan batin. Mungkin kita boleh laksanakan syariat lahir tetapi batinnya kosong. Tidak ada khusyuk, tidak ada roh dan tidak ada jiwa. Padahal Islam itu mesti ada lahir dan batinnya.

ABDIKAN JIWA KITA UNTUK SOLAT

Kita terdiri dari jiwa dan jasad. Kita sebenarnya adalah jiwa yang nantinya akan dipanggil Allah karena adalah milik Allah dan pasti akan satu hari dipanggil Allah.
Setiap kali kita solat, Allah memanggil jiwa kita untuk datang kepada-Nya, bukan sekadar jasad melakukan perbuatan solat. Alangkah ruginya kita apabila sentiasa hanya jasad menghadap Allah tetapi tidak jiwa kita.
Juteru,  haruslah praktik dari sekarang untuk menghadap Allah dengan jiwa yang bukan sekadar jasad.
Hakikatnya, manusia tidak sedar konsep jiwa sering kali digunakan. Umpamanya ketika mengalami musibah. Lihatlah bagaimana jiwa kita menghadap Allah dengan pasrah. Seluruhnya jiwa dihadapkan kepada Allah tanpa memikirkan hal yang lain.
Contoh yang lain ketika menyertai sukan bola atau bola jaring atau lumba lari. Sebenarnya ketika itu jiwa yang berlari ke sana sini dan badan kita hanya mengikut saja.
 Jiwa akan berasa bahagia apabila mendapat hasil yang baik dalam pelajaran atau pertandingan. Jiwa menjadi marah dan berdukacita, apabila menghadapi masalah atau ditekan oleh suasana dan keadaan.
Oleh itu, konsep jiwa sebenarnya telah lama diaktifkan. Hanya tidak disedari dan mengenali keupayaan ini. Apabila telah berupaya mengenali, abdikanlah jiwa ketika menghadap Allah dalam solat. Ketika telah siap persediaan jasad untuk solah, siapkanlah pula jiwa untuk berjalan menujunya.

 Apabila telah abadi jiwa kepada Allah, tinggalkan jasad ini melakukan perbuatan di bumi. Jiwa telah perlahan-lahan bergerak menuju Ilahi. Menuju kepada tuhan yang tiada batasan.
Sekarang bertakbirlah, “Allahuakbar”. Tangan hanya sampai di dada  tapi jiwa terus mikraj ke Allah. Perlahan-lahan bacalah doa Iftitah, dan bacalah dengan jiwa kita,yang lain dari bacaan di mulut. Diteruskan dengan al-Fatihah dan ayat yang mudah sambil jiwa terus fana’ kepada Allah.

Selanjutnya bawa jiwa untuk tunduk dan rukuk, biarkan dia turun untuk rukuk dan badan akan mengikuti saja. Lakukan dengan perlahan dan rasakan ada gerakan yang membawa jasad kita untuk rukuk. Kita rukukkan jiwa kita, selama ini hanya jasad saja kita bawa untuk rukuk. Setelah kita jatuh untuk rukuk, perlahan-lahan tempatkan tangan pada lutut dan bawa jiwa terus ke Allah dengan dalamnya, terus, terus, terus jangan berhenti, terus ke Allah dan kita akan dibawa ke satu daerah yang sangat dalam, luas tak terbatas.
Bangkitlah untuk iktidal dan bangkit juga dengan jiwa, jiwa akan bangkit dulu dan badannya akan ikut kemudian, serahkan segala pujian ke Allah (jiwa yang menyerahkan pujian ke Allah)
Kemudian bawalah jiwa kita untuk sujud ke Allah, dia akan segera untuk sujud, belum jasad kita sampai ke bawah, jiwa sudah sampai. Dan terus sujud, dengan dalamnya, terus bawa jiwa untuk sujud sehingga kita akan rasa ada gerakan ke bawah sehingga merasa menembus bumi sampai dalam yang luas tak terbatas. Rasakan ketenangan yang dialirkan Allah ke dalam jiwa ketika itu, biarkan, rasakan, nikmatilah keindahan sujud itu. Tidak mau bangun dari sujud? Ya begitulah nikmatnya yang tak terperi. Lanjutkan sujud dengan dalam. Kemudian dengan jiwa itu pujilah Allah dengan bacaan subhanarabbiyal ‘ala wabihamdi.
Bangun dari sujud dan bawa jiwa untuk duduk, jiwa akan duduk dengan sopan dan akan terus rasa dilihat Allah tanpa hentinya. Tidak perlu kita bersusah payah untuk merasa dilihat Allah. Kapan kita pergi ke Allah dengan jiwa kita, otomatis akan rasa jiwa dilihat Allah karena yang merasa itu adalah jiwa dan dia sedang menuju ke Allah yang luas tak terbatas dan yang yang sangat menenangkan jiwa ketika bertemunya. Tidak perlu dipaksa untuk sadar ke Allah karena yang sadar itu adalah jiwa dan saat jiwa itu di bawah ke Allah pasti dia sadar ke Allah sebab dia sedang ke Allah.
Bacalah bacaan duduk antara dua sujud dengan jiwamu, kemudian bawa jiwa itu sujud kembali dan duduk tahiyat akhir untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah dan salam hormat buat Rasulullah, para sahabat dan para solihin.
Diakhiri dengan salam juga dengan jiwamu.
Sahabat yang dirahmati Allah, jiwa yang selalu kepada Allah itulah jiwa yang mengingati Allah, maka di berikan ketenangan dan dilimpahi cahaya Allah yang akan membimbing jiwa itu. Jiwa yang tidak bisa melihat, tapi dibimbing oleh Yang Maha Melihat.
Bagaimana untuk membawa jiwa seluruhnya kepada Allah? Ingatilah bagaimana Siti Hajar membawa jiwanya ke Allah saat sudah tidak ada ketergantungan pada suami, pada air, pada makanan, atau pada siapa saja. Hanya ada Allah dan jiwa itu seluruhnya menyerah kepada-Nya.
Bila terasa tiada ketenangan di dalam jiwa, berhentilah sebentar dan bawalah jiwa ke Allah untuk menanyakan. Allah akan menghadiahkan ketenangan ke dalam jiwa itu dan kemudian insyaAllah di berikan petunjuk.

NERAKA WAIL BAGI YANG SEMBAHYANG….MASHA ALLAH


Tuhan ada berfirman di dalam Al Quran yang bermaksud:

 “Neraka Wail bagi orang yang sembahyang iaitu mereka yang lalai dalam sembahyangnya.”(Ayat Al Maun: 4 & 5)

Terdapat banyak tafsiran dan kupasan tentang maksud “lalai” dalam ayat ini. Maksud pertamanya ialah cuai bersembahyang hingga habis waktunya. Sembahyang itu sama ada diqadha ataupun ditinggalkan terus.
Maksud “lalai” yang kedua ialah tidak khusyuk dalam sembahyang. Iaitu tidak hadir hati dalam sembahyang. Dalam sembahyang teringat perkara-perkara diluar sembahyang yang tidak ada kena mengena dengan sembahyang. Malahan, bukan sahaja tidak hadir hati dalam sembahyang, maksud perbuatan dan lafaz dalam sembahyang pun tidak diketahui atau difahami. Jauh sekali untuk dihayati atau dijiwai.
Ketiga ialah tidak melaksanakan segala ikrar dan janji yang dibuat di dalam sembahyang. Dalam sembahyang berbagai-bagai ikrar dan janji dibuat. Diantaranya kita berikrar bahawa segala sembahyang, ibadah, hidup dan mati kita hanyalah kerana Allah. Tetapi selesai sahaja sembahyang , janji itu dilupakan. Buat kerja seolah-olah Tuhan itu tidak wujud atau tidak relevan.
Walau bagaimana pun , kalau kita kaji betul-betul ketiga-tiga tafsiran di atas, kita akan dapati puncanya berbalik juga kepada ketiadaan khusyuk dalam sembahyang. Tidak khusyuk dalam sembahyang adalah kerana tidak khusyuk di luar sembahyang. Sekiranya seseorang itu khusyuk diluar sembahyang, khusyuk itu sudah pasti berterusan dan akan dibawa ke dalam sembahyang. Ertinya, orang yang khusyuk dalam hidupnya diluar sembahyang akan merasa khusyuk dalam sembahyang. Hanya apabila di dalam sembahyang, rasa khusyuknya lebih subur dan lebih tajam kerana sembahyang itu ada rukun dan disiplinnya.
Bagi orang yang khusyuk, tidak timbul masalah cuai bersembahyang hingga habis waktu kerana orang yang khusyuk itu selalu menanti-nanti dan menunggu-nunggu waktu untuk bersembahyang. Menunggu sembahyang itu baginya seperti menunggu untuk bertemu kekasih.Tidak juga timbul hati tidak hadir dalam sembahyang atau teringat perkara-perkara lain diluar sembahyang kerana orang yang khusyuk itu hatinya sentiasa bergelora dengan Tuhan.
Tidak menunaikan ikrar dan janji yang dibuat di dalam sembahyang adalah berpunca dari ketiadaan khusyuk. Apabila tidak khusyuk, segala janji yang dibuat hanyalah di lidah semata-mata. Paling tinggi, akal mungkin turut serta dalam membuat ikrar dan janji tersebut. Tetapi hati tidak ada peranan kerana tiada khusyuk. Khusyuk itu perkara hati. Oleh itu ikrar dan janji berkenaan dibuat tanpa komitmen dan kesungguhan kerana hati tidak dilibatkan dan tidak dibawa bersama. Ertinya ikrar dan janji itu tidak dibuat dari hati. Janji yang bukan dari hati bukan janjilah namanya. Tidak hairanlah kenapa janji hanya tinggal janji.
Khusyuk yang dituntut dari manusia bukan hanya ketika dalam sembahyang. Tuhan bukan wujud dalam sembahyang sahaja. Tuhan wujud setiap masa dan ketika. Oleh itu kita perlu khusyuk sepanjang masa. Orang yang khusyuk sembahyang itu ialah orang mukmin yang berjiwa Tauhid. Orang yang rasa cinta dan takutnya dengan Tuhan sentiasa mencengkam jiwa dan hati nuraninya. Rasa-rasa ini dibawanya ke mana-mana sahaja dia pergi. Lebih-lebih lagilah dalam sembahyangnya.
Lalai dalam sembahyang pula ada beberapa peringkat seperti berikut:
1. Lalai habis. Takbir sahaja sudah ingat perkara lain di luar sembahyang yang tidak ada kena mengena langsung dengan sembahyang. Ia berterusan sampai salam. Tidak ada rasa apa-apa dengan Tuhan sepanjang sembahyang. Malahan sedar pun tidak.
2. Dalam sembahyang, ada masa lalai dan ada masanya ingat dan sedar bahawa dia sedang bersembahyang. Sembahyang diselang-seli dengan lalai dan mengingat hal-hal dunia.
3.Boleh ikut dan menyorot apa yang dia baca dalam sembahyang tetapi tidak faham akan maksud apa yang dibaca dan dilafazkan. Kalau hendak diukur dengan nisbah khusyuk, ini masih dianggap lalai. Bila tidak faham, masakan boleh menghayati. Kalau tidak menghayati, masakan boleh merasa apa-apa dengan Tuhan.
4. Boleh faham segala apa yang dibuat, dibaca dan dilafazkan di dalam sembahyang. Sembahyang seperti ini sudah agak baik. Namun ini masih dianggap lalai mengikut kehendak dan tuntutan sembahyang kerana belum ada apa-apa rasa dengan Tuhan. Khusyuk adalah rasa bukan setakat tahu atau faham.
5. Faham akan segala apa yang dibaca dan dilafazkan dalam sembyang dan kadang-kadang ada rasa tetapi tidak pada sepanjang masa dan waktu di dalam sembahyang. Walaupun ini sudah baik tetapi masih ada lalai. Walaupun tidak membawa dunia ke dalam sembahyang tetapi rasa-rasa dengan Tuhan tidak wujud sepanjang waktu dalam sembahyang.
6.Sembahyang yang tidak lalai itu ialah yang sentiasa mempunyai rasa dengan Tuhan yang berubah-rubah dari satu rasa ke satu rasa yang lain mengikut apa yang dibaca dan apa yang dilafazkan,bermula dari takbiratulihram hinggalah kepada salam. Inilah sembahyang yang tidak lalai. Inilah sembahyang yang benar-benar khusyuk.
Sesuailah pembahagian peringkat-peringkat lalai ini dengan erti sebenar khusyuk dalam sembahyang. Khusyuk bukan setakat dapat menumpukan perhatian dan faham apa yang dibaca dalam sembahyang tetapi ialah dapat menimbulkan rasa-rasa dengan Tuhan. Kalau tidak ada rasa-rasa yang berubah dalam sembahayng seperti gerun, hebat, cinta, takut, berharap kepada Tuhan dan lain-lain, maka itu tanda tak khusyuk.
Lalai berpunca dari pengaruh dunia. Kalau dunia berada di hati,amat sukar untuk mendapat khusyuk dalam sembahyang. Dunia akan terbawa dalam sembahyang. Sebab itu kalau pun ada rasa di dalam sembahyang, hanyalah ada rasa-rasa keduniaan seperti seronok tadi baru berjumpa kawan atau rasa takut tengah-tengah sembahyang polis saman kereta kita salah parking atau tengah sembahyang, bimbang takut tak sempat pergi ke bank sebelum bank tutup dan sebagainya. Rasa-rasa ini ialah rasa dunia yang melalaikan, bukan rasa-rasa khusyuk.
Kalau kita berjalan-jalan dalam hutan dan keindahan hutan itu sangat mempengaruhi hati kita hingga apabila terserempak dengan harimau pun kita tak sedar dan tidak merasa takut, maka kita sebenarnya tidak kenal harimau. Kalau kenal, sudah tentu secara spontan kita rasa gerun dan takut. Begitu juga, kalau kita seronok dengan nikmat dunia ini hingga terbawa-bawa ke dalam sembahyang sampai kehadiran Tuhan sewaktu kita bersembahyang pun kita tak sedar, itu tanda kita tidak kenal Tuhan dan tidak terkesan atau terpengaruh dengan kehadiran Tuhan.
Sekiranya kita tidak kenal Tuhan, hanya setakat tahu dan percaya sahaja , kita tidak akan dapat rasa khusyuk. Paling tinggi ketauhidan kita hanya diperingkat akal atau fikiran sahaja kerana tahu dan percaya itu perkara akal. Kita dikatakan orang yang berfikiran tauhid, bukan yang berjiwa tauhid.
Mengenal Tuhan ialah langkah pertama untuk mendapat khusyuk. Setelah Tuhan kita kenal, barulah kita akan dapat merasakan kehebatan dan keagungan Tuhan dihati kita kerana kenal itu perkara hati. Barulah kita akan dapat rasa berTuhan. Selagi hati kita tidak dapat rasa berTuhan, ia tidak akan dapat rasa kehambaan dan ia tidak akan dapat rasa khusyuk.

Ada hadis berbunyi: “Awal-awal agama adalah mengenal Allah”

Maksudnya, selagi kita tidak kenal Allah, agak sukar untuk kita beragama. Kita tidak akan boleh khusyuk. Selagi kita tidak boleh khusyuk kita sebenarnya belum berjiwa Tauhid. Kalau kita belum berjiwa Tauhid kita tidak akan mampu mengamal dan menegakkan syariat Islam secara lahir dan batin. Mungkin kita boleh laksanakan syariat lahir tetapi batinnya kosong. Tidak ada khusyuk, tidak ada roh dan tidak ada jiwa. Padahal Islam itu mesti ada lahir dan batinnya.

MENINGGALKAN SOLAT…APAKAH BALASANNYA

Diriwayatkan bahawa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.
Apabila Rasulullah S.A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata,

“Wahai orang muda kenapa kamu menangis?”

Maka berkata orang muda itu, “Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya.”

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, “Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam.”

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, “Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?”

Berkata orang muda itu, “Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat.” Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, “Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam.”

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.
Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, “Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat.”

Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?”
Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :”
1.    Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah.
2.    Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.
3.    Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama.