Tampilkan postingan dengan label Hakikat Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Hati. Tampilkan semua postingan

QALBU HATI

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
" Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fu'ad (hati) itu semuanya akan
ditanya tanggung jawabnya. " QS 17:36

Karena peran qalbu terhadap anggota tubuh yang lain dan kedudukannya yang
Sangat Penting bagaikan seorang raja yang mengatur anak buahnya, di mana seluruh
anggotanya tersebut bergerak dan bekerja sesuai dengan perintah sang raja
(qalbu/hati) ... maka Rasulullah Saw bersabda :

" Ingatlah ! Bahwa dalam tubuh itu ada segumpal darah. Bila ia baik, maka
baiklah seluruh tubuhnya; dan bila ia rusak, maka rusak jugalah seluruhnya.
Itulah Qalbu ! " (HR Bukhari dan Muslim)

Jadi, Hati merupakan Raja dari seluruh anggota badan, di mana mereka
melaksanakan segala apa yang diperintahkannya.. Suatu amal (perbuatan) tidaklah
benar, kecuali bila diawali dengan "Niat" yang Benar di dalam Hati. Sebab Hati
itulah yang kelak bertanggungjawab terhadap sah tidaknya segala amal perbuatan
kita... Setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap semua hal yang dipimpinnya...
Dengan demikian, meluruskan dan membuat Niat menjadi BENAR adalah pekerjaan
yang Paling Utama yang harus dilaksanakan oleh hamba-hamba yang meniti Jalan
menuju Allah Ta'ala... Segala sesuatu dinilai dari Niat yang tumbuh berasal dari
dalam Qalbu (Hati).
Memeriksa (menghisab) dan mengobati penyakit-penyakit Hati adalah suatu
Kewajiban setiap hamba Allah Ta'ala..



PEMBAHAGIAN QALBU (HATI) :

1. Hati yang Selamat (Sehat)
2. Hati yang mati
3. Hati yang mengandung penyakit-penyakit (sakit)

1. Hati yang Selamat (Sehat) / Qalbin Saliim
adalah Hati yang hanya dengannya manusia dapat datang dan berjumpa Allah Ta'ala
dengan Selamat di hari Kiamat.

" Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat. Kecuali manusia yang
datang kepada Allah dengan Hati yang Selamat (Sehat). " QS 26:88-89

Qalbu yang Selamat ini adalah Qalbu yang Selamat dari setiap hawa /
keinginan / kehendak yang menyalahi Kehendak / Perintah Allah Ta'ala, Selamat
dari setiap syubhat dan kesalahfahaman yang bertentangan dengan Kebaikan
(Kebenaran), sehingga sang Hati ini Selamat dari penghambaan kepada selain Allah
Ta'ala, dan Lepas dari perbuatan yang menjadikan hakim selain Rasulullah Saw..
Sehingga akhirnya membuahkan KEIKHLASAN dalam setiap perilaku (yang sesungguhnya
pun merupakan rangkaian Ibadah) kita semata-mata Hanya kepada Allah Ta'ala,
penuh dengan segenap Mahabbah, Tunduk, Pasrah dan Tawakal, Taubat, Takut dan
Penuh Harap hanya kepada Allah Ta'ala...
Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintainya hanya karena Allah
Ta'ala... Dan bila ia membenci sesuatu, maka ia pun membencinya hanya karena
Allah Ta'ala jua..
Bila ia memberi, hanyalah karena Allah Ta'ala, dan bila ia melarang ataupun
mencegah sesuatu, itupun hanya karena Allah Ta'ala...
Bahkan tidak hanya sampai di situ, ia pun terlepas dari segala ke-tunduk-an
dan per-tahkim-an kepada setiap hal yang bertentangan dengan Ajaran Rasulullah
Saw. Qalbu (Hati) nya terikat sangat Kuat kepada ajaran ataupun contoh
Rasulullah Saw... baik dalam setiap ucapan maupun perbuatan.

" Wahai orang-orang yang ber-Iman ! Janganlah kalian mendahului Allah dan
Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. " QS 49:1

2. Qalbu (Hati) yang mati
adalah hati yang Tidak Mengenal Allah Ta'ala, Tidak Beribadah kepada-Nya..
dengan Tidak Menjalankan Perintah dan hal apapun yang diRidhai-Nya...

Hati yang seperti ini selalu berada dan berjalan bersama hawa / keinginan /
kehendaknya, walaupun itu diBenci dan diMurkai Allah Ta'ala.. Ia tidak peduli
apakah Allah Ta'ala ridha kepadanya ataukah tidak..
Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintai sesuatu karena mengikuti hawa
(nafsu) nya / keinginannya.. dan bila ia membenci sesuatu, maka ia membencina
karena hawa (nafsu) nya.. Begitu juga apabila ia menolak atau mencegah
sesuatu... hawa nya telah menguasainya dan menjadi pemimpin sekaligus pengendali
bagi dirinya...
Kebodohan dan kelalaian adalah supirnya.. Ia diselubungi... dipenjara oleh
kecenderungan / kecintaannya kepada dunia (yaitu hal-hal selain Allah Ta'ala dan
Rasul-Nya).. Hatinya telah ditutupi oleh selubung kabut gelap cinta kehidupan
dunia dan hawa nafsunya...
Ia tidak menyambut dan menerima panggilan Allah Ta'ala... seruan Allah
Ta'ala.. seruan tentang Hari Kiamat.. karena ia mengikuti syetan yang
menunggangi hawa (nafsu) nya.. Hawa nya telah membuatnya tuli dan buta, sehingga
ia tidak tahu lagi manakah yang batil dan manakah yang haq...
Maka berteman dan bergaul dengan orang-orang yang Hatinya telah mati seperti ini
berarti mencari Penyakit..

3. Qalbu (Hati) yang sakit
adalah hati yang Hidup namun mengandung Penyakit-penyakit.

Hati semacam ini mengandung 2 unsur :
1. Di satu pihak mengandung Iman, Ikhlas, Tawakal, Mahabbah, dan sejenisnya..
yang membuatnya menjadi Hidup
2. namun di pihak lain mengandung kecintaan / kecenderungan kepada hawa (nafsu),
seperti cinta / senang pada kehidupan dunia, sombong, ego, harga diri tinggi,
keluhan, iri (dengki), dan sifat-sifat lain yang dapat mencelakakan dan
membinasakannya...

Hati seperti ini diisi oleh 2 jenis santapan : santapan berupa seruan
(panggilan) dan Perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya akan Hari Kiamat... dan
santapan lain berupa panggilan / kecintaan kepada dunia..
Yang akan disambutnya dari kedua seruan (panggilan) inilah yang paling dekat
kepadanya..

Maka... Hati yang pertama itulah yang Selamat karena Sehat dari berbagai macam
Penyakit Hati, senantiasa Khusyu', Tunduk, Ikhlas, Ridha, bersifat Lembut..
Sedangkan hati jenis kedua itulah hati yang mati... dan hati jenis ketiga yaitu
hati yang sakit karena mengandung Penyakit, yang mungkin bisa kembali dengan
Selamat (Sehat)... atau ia akan Celaka (Mati)...

MENEROKA PONTENSI HATI

Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, bahwa ilmu laduni adalah ilmu yang terbit dari kekuatan ruhani atau dengan istilah “ilmu rasa”, sedang ilmu yang lain adalah dari kekuatan potensi akal dan potensi fikir atau dengan istilah “ilmu rasio”. Adalah ibarat dua lautan yang tidak bertepi. Titik pertemuan dua ilmu tersebut—di dalam hati seorang hamba,— adalah dugaan tempat terbitnya ilmu laduni. Oleh karena itu, pertemuan kedua sosok tersebut (nabi Musa dan nabi Khidhir) sebagai sosok karakter—bukan sosok personal—adalah lambang sumber ilmu laduni yang harus digali oleh para salik di dalam karakternya sendiri. Karakter tersebut dibentuk dengan ilmu, iman, amal dan akhlakul karimah. Sebagaimana yang diisyaratkan Allah SWT. Kepada Musa as. saat berdialog dengan-Nya, "Yaitu seseorang yang paling berilmu tinggi adalah ketika dia telah mampu menyampaikan ilmu orang lain kepada ilmunya sendiri".

Seandainya—sebagai seorang murid—nabi Musa mau mengalah dan percaya kepada nabi Khidhir, membenarkan perbuatan gurunya, yang notabene menurut dirinya adalah salah, dengan diam tidak bertanya, sambil mencari rahasia kebenaran yang dikandungnya melalui proses pengaksesan kepada

“potensi-potensi fasilitas ilmu laduni” yang telah disiapkan oleh Allah bagi setiap manusia, maka akan dibuka di hatinya rahasia-rahasia dan hikmah urusan yang ghaib di balik kejadian-kejadian yang lahir tersebut, sehingga akan terbit suatu pemahaman yang baru terhadap hal yang selama ini belum pernah dipahami sama sekali. Adalah proses yang datangnya tidak terduga merupakan sebab-sebab pertama dari terbukanya “rahasia sumber ilmu laduni” di dalam hati seorang hamba. Tidak dengan sebaliknya, yaitu hanya memaksakan ilmunya supaya diterima oleh ilmu orang lain, ketika terjadi konflik ilmiyah di dalam pikirannya.

Keadaan tersebut, sebagaimana yang digambarkan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya: Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran - Dan tidaklah urusan Kami kecuali hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata QS.al-Qomar/49-50.

Dalam waktu yang kadang-kadang relatif kurang dari satu detik itu apa saja bisa terjadi, suatu pengertian yang selama ini belum diketahui, dapat terbit dalam hati yang luasnya tidak dapat tertampung baik oleh ucapan maupun tulisan, bahkan kadang-kadang dapat menghidupkan kemampuan daya kreasi yang selama ini belum pernah dimiliki oleh seseorang. Seperti orang bermimpi, yang kadang-kadang hanya sekejap tapi jalan ceritanya mampu diceritakan sepanjang hari, bahkan tidak habis-habis meski diceritakan sehari semalam, layaknya kejadian seumur hidup terulang kembali. Yang demikian itu adalah sunnatullah, siapapun berpotensi dapat memasukinya, asal terlatih dengan bimbingan yang benar.

Seperti itulah arti kesalahan seorang murid terhadap gurunya, dia melanggar perjanjian yang sudah disepakati bersama, sehingga murid terlepas dari kesempatan emas untuk mendapatkan sumber ilmu laduni yang sudah di depan mata. Bukan ilmu dan pengalaman yang sudah ada yang disalahkan akan tetapi cara memanfa’atkannya yang harus lebih mendapatkan perhatian. Seorang murid yang sudah bai’at (melaksanakan janji untuk mengikuti) kepada gurunya, sedikitpun tidak boleh mempunyai prasangka jelek kepada gurunya, meski dihadapkan kepada perbuatan maksiat. Seorang guru mursyid, seperti seorang dokter, memang terkadang harus mampu berbuat jelek kepada muridnya. Itu seperti seorang Dokter ketika dia mengadakan pembedahan untuk mengangkat penyakit yang ada dalam jasad pasien, guru mursyid pun demikian. Ketika guru mursyid harus menguji murid-muridnya dengan perbuatan yang tidak masuk akal sehat, menyakiti perasaan dengan menjatuhkannya di depan orang banyak umpamanya, hal tersebut sejatinya semata-mata untuk mengangkat penyakit-penyakit ruhani yang ada dalam karakter muridnya. Yang demikian itu adalah bagian tarbiyah yang harus mampu dilaksanakan oleh seorang guru mursyid kepada anak-anak asuhnya. Kejadian seperti itu pernah terjadi pada diri Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jilani ra. ketika menjalani tarbiyah dari nabi Khidhir as., padahal asy-Syekh, tidak mengenalnya, asy-Syekh diperintah untuk tinggal di suatu tempat selama tiga tahun, dan hanya setahun sekali nabi Khidhir as. mengunjunginya.

Nabi Khidhir berkata kepadanya: “Perbedaan pendapat (antara murid dan gurunya) akan menjadi sebab perpisahan”. *Lujjainid dani*.

Sebagai bagian bentuk pengabdian yang harus dilakukan, suatu saat seorang murid harus mampu mengosongkan akalnya dari ilmu yang sudah dimiliki untuk membenarkan perbuatan gurunya walau menurut ilmunya perbuatan gurunya itu salah. Hal itu bertujuan, ketika telah terjadi pengosongan supaya “nur ilmu” yang dipancarkan seorang guru mursyid—niat di balik ujian yang diberikan—mampu mengisi bilik akal yang sudah terkondisi tersebut.

Seperti menanam bibit, kadang-kadang di tanam pada waktu yang tepat—setelah tanah siap tanam—adalah yang lebih menentukan kwalitas tanaman itu daripada bibit itu ditanam pada waktu yang tidak tepat. Adalah urusan-urusan “dalam” (ruhani) yang harus dimengerti oleh seorang salik, seperti ilmu teori, supaya praktek yang dijalankan tidak salah jalan. Ketika terjadi pergolakan di dalam hati, sakit hati akibat terpaksa harus membenarkan orang lain yang semestinya menurut ilmu syari’at salah, arus itu menimbulkan hawa panas dalam hati yang akan mampu membakar hijab-hijab. Hal tersebut merupakan mujahadah “bil hal” (mujahadah hati) yang harus dilaksanakan oleh murid. Saat itulah, ketika kristal-kristal hijab berhasil dilelehkan oleh hawa panas yang membakar hati, lalu kristal itu larut di dalam samudera ilmu Allah yang tidak terbatas, dengan izin Allah Ta’ala, pintu matahati seorang hamba akan terbuka, sehingga yang selama ini ghaib menjadi nyata dalam pandangan hati. Itulah pengendapan ilmu, ketika seorang hamba mampu melaksanakannya, maka garis-garis urat wajah akan ikut tertata sehingga sinar wajah menjadi cemerlang dan menyejukkan. Mujahadah di jalan Allah tidak selalu dengan melaksanakan wirid dan dzikir saja. Namun juga menerima pendapat orang lain, memaafkan kesalahan, membiarkan dirinya dihina dan difitnah, adalah mujahadah yang jauh lebih berat, akan tetapi juga dapat menghasilkan kemanfaatan yang lebih utama: “Dan orang-orang yang bermujahadah untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kamitunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yangberbuat baik”. QS.al-Ankabut/69.

Kadang-kadang hanya sekedar untuk mencabut rasa sombong yang sudah mengakar dalam karakter

manusia, eksistensi orang tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu dengan musibah dan fitnah-fitnah. Hal itu bertujuan supaya hatinya bersih dari sifat pengakuan diri yang dapat menerbitkan rasa sombong dan kemudian supaya mampu bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubatan nasuha. Seperti hutan ketika akan dibuka untuk lahan pertanian, setelah tanaman-tanaman ditebang kemudian dibakar, dan ketika hujan turun, baru kemudian tanah itu menjadi subur dan siap ditanami. Oleh karena manusia tidak mampu melaksanakan pensucian (tazkiyah) dengan pilihan hatinya sendiri, maka Allah Ta’ala membuka jalan dengan pilihan-Nya. Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jilani ra. berkata : “Apabila kebiasaan (buruk) telah mendominasi kehidupan manusia tanpa adanya kemauan untuk mensucikannya, Allah mengujinya dengan didatangkan berbagai penyakit (baik lahir maupun batin), sebagai peleburan dosa dan pensucian, supaya dia pantas menghadap (mujalasah) dan mendekatkan diri kepada

Allah. Yang demikian itu dikehendaki maupun tidak”.*Lujjainid Dani*

Setelah hati menjadi bersih dari sifat basyariyah yang tidak terpuji, disadari maupun tidak, ilmu yang didengar, walau sedikit akan tumbuh berkembang dalam ingatan. Sebab, seperti tanah, hati yang subur itu akan mudah menerima ilmu serta mengembang-kannya dengan tanpa terbatas : “Sebab itu sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku “ (yaitu) orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. QS.az-Zumar/17-18.

Kadang-kadang datangnya sumber “ilmu laduni” tersebut dimulai dengan kejadian di alam mimpi-mimpi. Seorang murid bertemu dengan gurunya misalnya, baik yang masih hidup maupun sudah mati, dia mendapatkan perintah dengan isyarat yang masih samar. Akan tetapi setelah bangun dari tidur, menjadikan tumbuhnya semangat yang kuat untuk melaksanakan benah-benah diri dan ibadah. Setelah isyarat mimpi itu ditindaklanjuti dengan mujahadah serta perjalanan ruhaniyah yang terencana, saat berikutnya, hatinya mendapatkan “futuh” dari Tuhannya sehingga isyarat-isyarat yang terdahulu masih samar tersebut kini menjadi kenyataan.

Sebagian besar para Nabi juga diperjalankan dengan cara demikian : “Sesungguhnya kamu telah4 Perintah kepada Nabi Ibrahim as. untuk menyembelih putranya, Nabi Isma’il as. juga dimulai dengan datangnya mimpi yang berturut-turut sebanyak tiga kali (Muqotil-Tafsir Qurthubi). Demikian juga “Futuh al-Makkah”. (kembalinya tanah kelahiran Nabi Muhammad saw. tersebut kepangkuan baginda Nabi). Dengan mimpi-mimpi itu dijadikan sebagi isyarat dariNya, maka membenarkan mimpi itu

", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” .QS.ash-Shooffat/105.

Sebab, sesungguhnya hati para Nabi tidak pernah tidur walau matanya sedang tidur. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya keadaan para Nabi, mata-mata kami tidur akan tetapi hati-hati kami tidak tidur. (Tafsir Qurthubi)

ZIKIR MENGUBAT HATI



SABDA Rasulullah SAW: “Ketahuilah bahawa dalam jasad manusia ada seketul daging (segumpal darah), jika baik daging itu, maka baiklah seluruh anggota dan jika rosak daging itu, maka rosaklah seluruh anggota, itulah hati.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Diri manusia terbahagi kepada dua iaitu fizikal dan spiritual. Spiritual termasuk akal, nafsu, perasaan dan yang paling utama ialah hati kerana tindakan, perbuatan, perilaku dan sikap seseorang dipengaruhi olehnya.

Sifat hati pula terbahagi empat iaitu kebuasan, kebinatangan, kesyaitanan dan ketuhanan. Tiga sifat pertama terbabit pula bukan mudah untuk dibuang, malah akibat daripada itu ramai umat Islam kecundang hingga akhirnya melakukan dosa besar.

Manakala sifat terakhir iaitu ketuhanan saja yang akhirnya mampu membawa kita ke jalan benar dan diredai Allah SWT, tetapi bukan mudah melakukannya kerana hanya yang benar-benar mahu berubah mampu melaksanakannya.

Secara umumnya, untuk membersihkan hati yang kotor, kita hendaklah membiasakan diri dengan berzikir, bertasbih dan bertahmid kepada Allah SWT.

Hati juga boleh diubati dengan mengamalkan beberapa perkara iaitu membaca al-Quran dan memahami serta mentadabbur maksudnya, meningkatkan amalan solat sunat pada waktu malam dan banyakkan menangis bertaubat kepada Allah SWT, berkawan dengan orang soleh juga alim ulama.

Selain itu, amalan lain ialah membiasakan diri dengan berpuasa sunat, kerap berzikir waktu siang atau malam serta sentiasa mengingati mati.

Penyakit paling berbahaya bagi hati ialah menyekutukan Allah SWT dengan yang lain, mendustakan kebenaran, hasad dengki terhadap sesama manusia, benci, dendam, bongkak, sombong, angkuh dan pelbagai lagi.

Lawan daripada menyucikan atau membersihkan hati ialah mengotorinya. Seseorang yang beriman hendaklah selalu mengutamakan kebersihan luaran juga dalaman diri kerana kekotoran akan membuka segala pintu kejahatan.

Contoh bukti kekotoran jiwa ialah perbuatan kaum Thamud yang tidak mengutamakan nilai-nilai budi dan kesopanan, meminum arak, malah melakukan zina secara terang-terangan.

Renungi firman Allah SWT dalam Surah al-A’raaf, ayat 179:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati tetapi tidak mahu memahami dengannya ayat-ayat Allah”

“Dan yang mempunyai mata tetapi tidak mahu melihat dengannya bukti keesaan Allah dan yang mempunyai telinga tetapi tidak mahu mendengar dengannya ajaran dan nasihat, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”

4 SIFAT HATI

Menurut imam ghazali,hati mempunyai empat sifat iatu sifat buas,binatang,syaitan dan tuhan.apabila hati dikuasai oleh perasaan marah ia melahirkn sifat buas seumpama binatang buas.pada suatu itu,lahir sifat suka bermusuhan,bersengketa,menyarang dan memaki.lihat tindakkan kaum nabi ibrahim selepas baliau menyampaikan risalah allah kpepada mereka.dalam surah al-anbiya ayat 68 allah berfirman yg bermaksud,"mereka(kaum nabi ibrahim)berkata,'bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak bertindak'." pada masa itu ,kaum nabi ibrahim bersikap buas tanpa dapat dikawal.

Apabila hati manusia dikusai nafsu syawat pula,lahirlah sifat binatang.pada masa itu,terserlah kerakusan,ketamakkan,keangkuhan dan sifat mementingkan diri.sifat-sifat ini yg menguasai qarun dabelum ini seperti mana yg dinyatakan allah dalam surah al-qasas ayat 78 yg bermaksud,"qarun berkata,"sesunguhnya aku diberikan harta kerana ilmu yg aku miliki'.Apakah dia mengetahui bahawa allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya sedangkan mereka lebih kuat dan lebih banyak menghimpun harta daripadanya."manusia seumpama  ini berkedudukan seperti binatang yg sesat.nafsu syawat di dalam diri mereka menutup pemikiran serta hati sehingga menjadi buta daripada kebenaran.

Dalam surah al-a'raf ayt 179 allah berfirman yg bermaksud,"sesugguhnya kami jadikan untuk neraka jahanam kebenyakkannya daripada jin dan manusia.mereka mempunyai hati tetapi
tidak menggunakannya untuk memahami(ayat-ayat allah),dan mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakannya untuk melihat(tanda-tanda kekuasan allah),dan mereka mempunyai telinga tidak digunakannya untuk mendengar(ayat-ayat allah).mereka seperti binatang ternakkan bahkan mereka lebih sesat daripada itu.mereka adalah golongan yg lalai."itu ialah sifat syaitan.

Apabila  hati manusia dikusai oleh sifat-sifat ketuhanan,ia mencari kemulian,kekuasaan,kemerdekaan,keilmuan serta kehebatan.semua ini digunakan bagi membina kecermelengan dan keunggulan.namun,andai kat apada masa itu sifat-sifat itu syaitan

TANDA HATI MATI…



Hati adalah tempat mangkalnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Hati juga menjadi sumber ilham dan permasalahan, tempat lahirnya cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran.

Hati juga sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotorannya yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang
empunya gemar mengotorinya.

Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara.
Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”

Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati. Di antaranya adalah pertama, taarikush shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (QS Maryam [19]: 59).

Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa. Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.

Kedua, adz-dzanbu bil farhi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (QS al-A’raf [7]: 3).

Ketiga, karhul Qur'an, benci pada Alquran. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Alquran. Tapi, justru ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan kitab yang menjadi mukjizat penuntun sepanjang zaman ini. Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Alquran.

Keempat, hubbul ma'asyi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.

Kelima, asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci. Keenam, ghodbul ulamai, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.

Selanjutnya, himmatuhul bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain. Keluarganya menderita, dia tetap saja cuek.
Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki. Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati



YANG DILIHAT HATI



Betapa Maha Adil-Nya sang Kuasa karena hanya melihat seseorang dari hatinya.

Hati…

Segalanya bermula dari sana. Jika ini tak bermakna, maka semuanya bernilai nol.

Misalkan tentang amal

    Innamal a’maalu bin niyyat, wainnamaa likullin riin maa nawaa. Sesungguhnya amal bergantung pada niat, dan sesungguhnya seseorang mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang ia niatkan.

Sebesar apapun amalan kita, tapi jika niatnya hanya ingin dilihat oleh orang lain, dipuji, (riya atau pamer diri) maka semua itu tak ada nilainya di mata Allah.

Namun betapa banyak pula amalan kecil yang menjadi besar karena disertai niat yang lurus dan bersih, ikhlas karena mencari ridlo Allah semata.

Allah lebih menyukai orang yang sholat sunnah di rumah, daripada di masjid karena khawatir timbul rasa riya jika melakukan sholat sunnah di masjid. Allah memberikan naungan kepada orang yang meneteskan air mata di tempat yang sepi karena takut kepada Allah. Hanya merasa ada dia dengan Allah dan terhindar dari pandangan manusia lain.

Ada sebuah hadist: (ini tidak sesuai redaksi yang sebenarnya) hanya menceritakan kembali bahwa ada manusia yang sudah bersusah payah menghafalkan dan mengajarkan Al-Quran, tapi amalannya tidak diterima karena ia berniat hanya ingin disebut sebagai ahli Quran di mata manusia. Ada pula yang sudah mengorbankan nyawanya berjihad di jalan Allah, bertempur habis-habisan, tapi nasibnya sama dengan orang pertama, dijungkirkan ke dalam neraka karena ia ingin disebut sebagap pahlawan. Amalan2 tersebut jelas jika dilihat oleh manusia, merupakan amalan yang besar dan sulit dilakukan. Tapi sekali lagi Allah tidak hanya melihat penampakkan dari luar, Dia Melihat maksud terdalam dari hamba-Nya yang melakukan amal.

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu, tapi Dia Melihat hatimu”

Mungkin banyak di antara kita yang merasa telah banyak melakukan amalan besar, merasa sholeh, alim, tapi mari introspeksi diri kita kembali, apakah hati ini sudah benar-benar lurus, melakukan semuanya hanya untuk Allah, tidak ingin dilihat oleh siapapun, tidak ingin dipuji oleh siapapun.

    Sesungguhnya tanda-tanda kemunafikan jika seseorang menyukai pujian apa yang tidak ada pada dirinya.

Membersihkan hati lebih sulit dari membersihkan hal-hal yang lain, karena mungkin kita terbebas dari satu macam penyakit hati, namun masih ada lagi penyakit hati yang lain yang mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa itu adalah penyakit hati.

PENYAKIT HATI ....PADA ALLAH DAN MANUSIA


Untuk mendapatkan hakikat (amalan batin) kita mesti melatih roh kita supaya taat pada Allah. Jasad batin (roh) kita semasa masih di alam roh lagi, yakni sebelum dimasukkan ke dalam sangkarnya jasad lahir yang memang sudah kenal
Allah dalam firman-Nya: Allah bertanya pada roh): Bukankah Aku Tuhanmu. Roh menjawab: Ya kami akui, Engkaulah Tuhan kami.(Al ‘Araaf 172)
Roh-roh kita sebelum masuk ke badan kita sudah kenal Allah, malah sudah mempersaksikan ketuhanan Allah dan sudah mengaku kehambaan pada Allah. Tetapi bila dilahirkan ke dunia, roh dikurung dalam jasad lahir bersama-sama musuhnya nafsu dan syaitan. Tentang nafsu
Allah berfirman: Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan. (YUSUF: 53)
Sabda Rasulullah SAW: Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambang engkau. (Riwayat Al Baihaqi)
Manakala tentang syaitan,
Allah berfirman: Sesungguhnya syaitan itu terhadap munusia musuh yang sangat nyata. (Surah Yusuf 5)
Berhadapan dengan dua musuh batin ini, roh kita jadi lemah (rosak atau hilang rasa kehambaan) walaupun dia sudah kenal Allah, tahu wujud dan Maha Perkasanya Allah, tetapi dia (roh) tidak boleh mentaati perintah Allah. Bujukan dan tarikan syaitan dan nafsu lebih kuat dan berpengaruh. Roh kita sudah derhaka pada Tuhan, seakan-akan sudah tidak kenal Tuhan. Roh kita terbelenggu da- lam jasad, dikongkong oleh nafsu dan syaitan itu. Roh kita sudah tidak takut dan tidak malu lagi pada Tuhan. Roh kita tidak rindu dan tidak cinta lagi pada Tuhan, tidak merasa hina, rendah diri dan bersifat ketuanan.
Roh kita sangatlah sombong, degil, hasad, tamak, berdendam, bakhil, gila dunia, kuat makan, kaki tidur dan lain-lain seumpama yang menyerupai kehendak nafsu yang terkutuk itu. Roh kita sudah dikuasai oleh jasad lahir yang beku ini (bersifat seperti tanah kera- na dicipta dari tanah). Umpama burung, roh terkurung dalam sangkar. Kerana sangkar itu kuat maka burung terpaksa ber- kurung di dalamnya yang sempit dan menyeksakan. Sebaliknya kalau burung lebih kuat dari sangkar, burung akan pecahkan sangkar dan dapat terbang bebas ke seluruh alam.
Demikian kalau roh kita lebih kuat dari nafsu dan syaitan, roh dapat menundukkan nafsu dan syaitan. Waktu itu bukan jasad lahir lagi yang menguasai roh tetapi roh yang menguasai jasad lahir. Roh akan bebas melakukan kehendaknya men- taati perintah Allah SWT. Roh akan terbang bebas ke mana-mana dan dapat mengesan perkara-perkara ghaib. Inilah yang berlaku pada roh para Nabi, Rasul dan wali-wali Allah. Roh tidak lagi dibelenggu dalam jasad lahir oleh nafsu dan syaitan tetapi sudah bebas, sudah dapat menundukkan nafsu dan syaitan di bawah kehendaknya, sudah melihat alam rohani, alam malakut dan alam jin. Jasad lahir tidak bererti apa-apa lagi kerana sudah diperalatkan oleh roh untuk menyembah Allah sepanjang masa. Berbeza dengan jasad lahir, roh bukan dibuat daripada tanah tetapi dari nur (cahaya) yang berupa sama seperti malaikat dan jin. Sebab itu roh yang dapat bebas dari kongkongan nafsu dan syaitan akan bergerak bebas seperti cahaya, tembus di setiap ruang dan bidang. Pandangan roh ialah pandangan tembus yang dapat membaca hati dan batin manusia.
Kerana itu bersabda Rasulullah SAW: Takutilah firasat (pandang tembus) orang Mukmin kerana ia memandang dengan cahaya Allah. (Riwayat Al Tarmizi)
Inilah rahsia diri kita yang mesti kita sedari. Bila kita sedar hakikat kejadian kita ini, barulah akan berlaku seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: Barangsiapa yang kenal dirinya, maka dia pasti kenal Tuhunnya.
Untuk meningkat ke darjat yang mulia itu, kita mesti berusaha bersungguh-sungguh, berjuang dan berkorban. Siapa sahaja boleh berjaya kalau dapat memenuhi syarat dan cara yang telah ditetapkan iaitu dengan mendidik roh kita kembali mengenal dan mencintai Allah SWT. Caranya ialah mujahadah(berperang) dengan nafsu dan syaitan.
Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, sabarlah kamu (dalam menegakkan agama Allah) dan sabarlah kamu dalam perjuangan menghadapi musuh (hawa nafsu) dan tetap teguhlah kamu (dalam barisan perjuangan) dan bertakwalah kamu kepada Allah moga-moga kamu mendapat kemenangan. (Ali Imran: ‘200)
Antara nafsu yang mesti diperangi ialah sifat me- mentingkan diri sendiri, tamak, gila dunia, kedudu kan dan kehormatan diri. Itu semua ialah pengha- lang yang cukup kuat untuk kita mendapat hakikat (amalanbatin) juga sebagai hijab yang menghalang kita dari mendapat sifat kerohanian sebab ia merasakan diri sebagai tuan.Supaya diyakini, di sini ada satu kisah benar pengalaman seorang wali bernama Yazid Bustami: Satu hari datang pada Yazid Bustami seorang temannya untuk mengadu: “Saya telah berpuasa setiap hari dan bersembahyang setiap malam selama 30 tahun tetapi tidak juga memperolehi keringanan batin seperti yang engkau ceritakan.”
Yazid Bustami pun memintas, “Kalaupun engkau bersembahyang dan berpuasa selama 300 tahun, engkau pasti tidak dapat menemukannya.”
“Kenapa?” Tanya temannya.
Jawab Yazid, “Sifatmu yang mementingkan diri sendiri dan tamak menjadi penghalang dan hijab antara engkau dengan Allah.”
Teman itu lantas bertanya, “Katakanlah pada ku apakah ubatnya?”
“Ada ubatnya,” kata Yazid, “tetapi engkau tidak akan sanggup melakukannya.
Setelah dipaksa oleh temannya Yazid pun berkata: “Pergilah ke kedai gunting yang terdekat dan guntinglah janggutmu. Bukalah sendiri bajumu kecuali ikat pinggang yang melingkari pinggangmu. Ambillah karung yang biasa di isi makanan kuda, isilah buah kenari dan gantungkanlah karung itu di lehermu. Kemudian pergilah ke pasar sambil menangis, laungkanlah begini: “setiap kanak-kanak yang memukul batang leherku akan dapat sebiji kenari!”
Selanjutnya pergilah ke tempat persidangan kadi, hakim dan ahli hukum, katakanlah kepada mereka: “Selamatkanlah jiwaku.”
Teman itu berkata, “Sungguh aku tidak sanggup berbuat begitu. Berilah cara pengubatan yang lain.” Yazid berkata, “Yang aku ceritakan tadi adalah cara pengubatan pendahuluan yang sangat perlu di- lakukan untuk mengubati penyakitmu. Tapi sebagai- mana yang aku katakan tadi, engkau tidak dapat di- sembuhkan lagi.”
Yazid Bustami seorang wali Allah yang mukasyafah dapat membaca hati (rahsia batin) temannya yang berjuang untuk nama, pangkat dan sanjungan manusia. Sebab itu beliau (Yazid) perintahkan sahabat itu bermujahadah dengan nafsunya itu dengan cara menghina diri di pasar dan mengaku jahat di hadapan kadi dan hakim. Perintah itu memang berat, tetapi pada Yazid tiada jalan lain lagi. Itulah cara mujahadatunnafsi yang mesti. Begitulah pentingnya mujahadatunnafsi kepada siapa sahaja yang ingin meningkatkan kerohaniannya. Selagi nafsu itu tidak dapat dipatahkan, selama itulah roh tidak akan suci dan bersih. Dan kalau roh tidak bersih, Allah tidak akan memasukkan taufik ke dalam hati yang kotor. Sebab benda yang berharga Allah akan letak di tempat yang mulia. Roh umpama wadah. Kalau ia kotor taufik tidak akan masuk. Kalau tiada taufik, roh kita akan terhi- jab dan kita tidak akan dapat meningkatkan keroha- nian (amalan batin) ke taraf kerohanian yang ting- gi. Dan tanpa kerohanian, hati (roh) tidak akan sela- mat dari penyakit-penyakit mazmumah. Firman Allah: Hari Qiamat ialah hari di mana anak dan harta tidak dapat memberi manfaat kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera. (Asy-Syuara’: 88-89)
Amalan lahir seperti sembahyang, puasa, walau- pun dilakukan sepanjang hari dan setiap malam sembahyang tahajjud (seperti cerita di atas), berjihad, berkorban, belajar, menutup aurat dan lain-lain, tidak akan dapat menjamin selamatnya hati. Apa yang menjamin selamatnya hati ialah mujahadatunnafsi. Inilah amalan batin yang wajib kita lakukan. Suatu hari di dalam kuliahnya, seorang ulama sufi, Bisyulhafi bercerita kepada muridnya bahawa, beristeri ramai itu tidak menafikan zuhud. Salah seorang muridnya yang mengetaui bahawa gurunya tidak pernah berkahwin, lalu bertanya: “Tuan, kalau begitu kenapa tuan tidak berkah- win? Bukankah menyalahi sunnah?”
Bisyulhafi pun menjawab, “Aku tidak sempat melakukan sunnah itu kerana sibuk. Sibuk melakukan perkara yang lebih fardhu yang belum selesai iaitu mujahadatunnafsi.”
Begitu pandangan ahli sufi tentang pentingnya mujahadatunnafsi. Mereka tidak pernah rehat memer- hatikan perjalanan nafsu dan syaitan, supaya nafsu dan syaitan itu sentiasa dapat diperangi dan dikalah- kan untuk menghambakan diri pada Allah SWT. Dan kita, kalau mahu berjumpa Allah dengan selamat, itulah juga jalannya. Tanpa jalan ini, kita dapat juga berjumpa Allah (kerana kita semua akan mati) tetapi dalam keadan susah-payah dan hina-dina, wal‘iyazubillah.
Jalan keselamatan itu ialah melakukan mujahada- tunnafsi. Kita mesti bermujahadah atas semua maz- mumah (penyakit hati yang dihidupkan oleh nafsu) setiap kali ia menyerang kita. Penyakit hati ini ialah semua sifat batin yang bertentangan dengan amalan batin yang dibahagikan kepada dua iaitu:
1. Penyakit hati PADA Allah.
2. Penyakit hati PADA manusia.


Antara penyakit hati pada Allah:
• Tidak khusyuk beribadah
• Lalai dari mengingati Allah
• Tidak yakin dengan Allah
• Tidak ikhlas dengan Allah
• Tidak takut pada ancaman Allah
• Tidak harap pada rahmat Allah
• Tidak redha akan takdir Allah
• Tidak puas dengan pemberian Allah
• Tidak sabar atas ujian Allah
• Tidak syukur atas nikmat Allah Tidak terasa diawasi Allah
• Tidak terasa hebatnya Allah
• Tidak rindu dan cinta dengan Allah
• Tidak tawakal pada Allah
• Tidak rindu pada syurga dan tidak takut pada neraka
• Gila dunia, buang masa dengan sia-sia
• Penakut (takut pada selain Allah) Ujub
• Riak
• Gila puji dan kemasyhuran


Manakala penyakit hati (mazmumah) pada manusia:
• Benci membenci
• Rasa gembira kalau dia mendapat celaka dan rasa sedih kalau dia berjaya
• Mehdoakan kejatuhannya
• Tidak mahu minta maaf dan tidak memaaf- kan kesalahannya
• Hasad dengki
• Dendam
• Bakhil
• Buruk sangka
• Tidak bertolak ansur Tidak bertimbang rasa Tidak tolong-menolong Tamak
• Degil dan keras hati Mementingkan diri sendiri Sombong
• Tidak sabar dengan ragam manusia
• Memandang hina kepada seseorang
• Riak
• Ujub
• Rasa diri bersih

Terhadap semua penyakit ini kita wajib melaku kan mujahdatunnafsi.
Firman Allah: Wahai orang-orang beriman, sabarlah kamu (dalam menegakkan agamu Allah) dun sabarlah kumu dalam perjuangan menghadapi musuh (hawa nafsu) dan tetap teguhlah kumu (dalam barisan perjuangan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah moga-moga kamu mendapat kemenangan.
(Ali Imran: 200)