Tampilkan postingan dengan label Tarekat Tersohor Naqsyabadiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarekat Tersohor Naqsyabadiyyah. Tampilkan semua postingan

TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYYAH : JEJAKNYA DI NUSANTARA

Mulai dikenal di Timur Tengah, Tariqat Naqshbandiyah Khalidiyah kemudian menyebar di kalangan jamaah haji di Makkah, termasuk para jamaah dari Nusantara. Dari situ, tersebarlah tarekat tersebut di penjuru Tanah Melayu, termasuk Indonesia. Dan pendalaman tarekat tersebut pun berkembang melalui keguruan.

BJ O Schrieke dan Martin Van Bruinessen, seperti dikutip www.moboskunks.blogspot.com, menyebutkan bahwa Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan Minangkabau pada 1850.

Christine Dobbin (2008) menyebutkan, tarekat Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau sejak abad ke-17. Tarekat itu masuk melalui daerah pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam hingga ke Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sedangkan Azyumardi Azra pernah menuliskan bahwa tarekat Naqsyabandiyah diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh pertama abad k-17 oleh Jamaluddin, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum melanjukan ke Bayt Al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir, dan India.

Dalam hal keguruan tarekat, Syekh Sulaiman Zuhdi (silsilah tarekat ke-32) yang berkedudukan di Jabal Quraisy menjadi guru bagi sejumlah syekh yang kemudian menjadi penerusnya, seperti Syekh Usman Fauzi (Jabal Quraisy).

Selain itu, tercatat pula beberapa ulama dari Nusantara yang berguru pada Syekh Sulaiman Zuhdi, yakni Syekh M Hadi (Girikusumo-Jawa Tengah) dan putranya, Syekh Ali Ridho (yang kemudian menjadi penerus silsilah keguruan), Syekh Sulaiman (Huta Pungkut-Sumatera Barat), dan Syekh Abdul Wahab Rokan (Babussalam-Aceh).

Sekembali dari Jabal Qubaisy, berpusat di Huta Pungkut-Sumatera Barat, Syekh Sulaiman mengembangkan tarekat ini. Ia memiliki murid yang sangat cemerlang, yakni Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi (Buayan-Sumatera Barat). Syekh Hasyim Al-Khalidi kemudian melawat ke Jabal Qubaisy dan memperoleh ijazah keguruan pada silsilah ke-34.

Berdasarkan penjelasan yang dikutip dalam www.baitulamin.org, Syekh Hasyim Al-Khalidi inilah yang kemudian menjadi guru Syekh Prof DR Kadirun Yahya. Syekh Kadirun Yahya kemudian memperoleh ijazah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah dan menjadi pemegang silsilah ke-35. Ijazah keguruan juga ia peroleh dari Syekh Abdul Majid (Batusangkar) dan Syekh Syahbuddin (Sayurmatinggi), pemegang silsilah keguruan dari alur yang berbeda dengan Syekh Hasyim Al-Khalidi.

Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah yang diwarisi Syekh Kadirun Yahya diteruskannya hingga berkembang pesat di Indonesia, Malaysia bahkan juga di Amerika Serikat. Di Tanah Hindi, tarekat ini terkadang masih dikenali sebagai Tariqat Naqshbandiyah Mujaddidiyah.
Menurut penjelasan yang dikutip dari Majalah Mozaik edisi April 2008, rumah-rumah wirid tarekat ini tumbuh dan berkembang hampir di 700 tempat pada 2008.

Untuk mengelola tempat-tempat wirid yang tersebar luas itu, sekaligus untuk mewadahi aktivitas sosial kemasyarakatannya, ia mendirikan Yayasan Prof DR H Kadirun Yahya yang berpusat di Medan. Yayasan tersebut menaungi bidang ketarekatan dan lembaga pendidikan, mulai Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT).
Tokoh Naqsyabandiyah Khalidiyah Indonesia lainnya adalah seorang sufi asal Minangkabau, yakni Ismail Minangkabawi yang merupakan murid dari Abdullah Makki.

Setelah lama menetap di Makkah, Minangkabawi menetap di Pulau Penyengat di wilayah kepulauan Riau. Di sana, ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan yang telah mengenal Naqsyabandiyah melalui duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammad Mazhhar.

Minangkabawi juga pergi ke Melayu hingga Kedah (negeri-negeri yang membentuk Persekutuan Tanah Melayu; sekarang Malaysia), dan mempropagandakan Khalidiyah ke mana pun ia pergi. Namun usahanya merupakan rintisan, yang kemudian digantikan oleh dua orang Khalidiyah yang tinggal di Makkah, yakni Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi.

Dalam jangka panjang, Sulaiman Zuhdi lebih berhasil daripada Khalil Hamdi Pasya. Bahkan, Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat ia tinggal, dipandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Di antara murid-muridnya kemudian banyak yang mendirikan pusat penyebaran Khalidiyah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

Kemudian, Abdil Wahab Rokan dikirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi menyebarkan Khalidiyah di seluruh Sumatera, dari Aceh sampai Palembang. Misi yang sukses dilakukannya adalah mendirikan pusat penyebaran Khalidiyah di Babussalam, Lengkat. Ia juga pernah tinggal dan menetap di Johor selama tiga tahun, sehingga memungkinkannya untuk memperluas pengaruhnya hingga ke Semenanjung Malaya.

Babussalam, yang dikenal juga dengan Besilam, disebut-sebut sebagai pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Wikipedia menyebutkan, Babussalam dibangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) di atas tanah wakaf raja Langkat pada masa itu, Sultan Musa Al-Muazzamsyah.

Besilam atau Babussalam, yang berarti “pintu kesejahteraan,” merupakan sebuah perkampungan terpencil dan terisolasi di tengah hutan sekunder di ujung Tanjung Pura, Padang Tualang, Langkat, Sumatera Utara. Daerah itu dihuni para sufi yang mengamalkan ketaatan pada pengasingan dari kehidupan duniawi dan mencari jalan menuju Sang Khalik. Bahkan Sultan Musa al-Muazzamsyah diceritakan ikut menetap di sana dan mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

8 PRINSIP TAREKAT NAQSHBANDIYYAH


'Abdul Khaliq al-Ghujdawani mengemukakan butir-butir renungan ini yang kini dianggap sebagai prinsip Thariqat Naqshbandi Sufi: 

1.      Bernapas Secara Sadar ("Hosh dar dam")

Hosh berarti "pikir". Dar berarti "dalam". Dam berarti "napas". Artinya, menurut Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), bahwa :
"pencari/pejalan/murid yang bijak harus melindungi napasnya terhadap kealpaan/kesembronoan, menarik dan menghembuskan, dengan itu selalu menjaga kalbunya berada dalam Hadhirat Allah; dan dia harus menghidup kan napasnya dengan pengabdian dan penghambaan dan mempersembahkan pengabdian itu kepada Tuhannya penuh dengan kehidupan / kegairahan, karena setiap tarikan dan hembusan napas dengan demikian (Hadhirat) itu adalah hidup dan menyambung dengan Hadhirat Ilahi. Setiap tarikan dan hembusan napas dengan kealpaan/kecerobohan adalah mati, terputus hubungan dengan Hadhirat Ilahi."
Ubaidullah al-Ahrar (q) mengatakan, "Missi paling penting dalam Thariqat ini adalah untuk melindungi napasnya, dan dia yang tak dapat menjaga napasnya, baginya akan dikatakan, ‘dia telah kehilangan dirinya.'"
Shah Naqshband (q) mengatakan, "Thariqat ini dibangun atas dasar napas. Sehingga adalah suatu keharusan bagi semuanya untuk menjaga napasnya pada waktu menarik dan menghem buskan dan selanjutnya, untuk menjaga napasnya dalam interval antara menarik dan menghembuskan napas."
Shaikh Abul Janab Najmuddin al-Kubra mengatakan dalam bukunya, Fawatih al-Jamal, "Dhikr mengalir dalam diri setiap makhluq hidup dengan keharusan napasnya – meskipun tanpa niat – sebagi suatu tanpa ketundukan, yang adalah bagian dari penciptaannya. Melalui napasnya, bunyi huruf "Ha" dari asmaul husna Allah dibuat dalam setiap penghembusan dan penarikan dan itu adalah tanda dari Essensi Tak-Nampak sedang mengungkapkan penekanan Ke-Unik-an Allah. Jadi sangatlah penting untuk selalu “hadir” dengan napas itu, agar supaya menyadari (merasakan) Essensi dari Al Khaliqu."
Nama 'Allah' yang melingkupi sembilanpuluh sembilan asma ul-husna terdiri dari empat huruf : Alif, Lam, Lam dan Hah (ALLAH). Pengikut Sufi mengatakan bahwa Dzat Allah Azza Wa Jalla yang gaib sempurna dinyatakan dengan huruf terakhir, "Ha" itu. Huruf ini mewakili Dia Yang Maha gaib Sempurna (Ghayb al-Huwiyya al-Mutlaqa lillah 'azza wa jall). Lam pertama adalah untuk identifikasi (tacrif) dan Lam kedua adalah untuk penekanan (mubalagha).
Memelihara napasmu dari ketidak-pedulian akan menuntunmu kepada Hadhirat Nya secara utuh, dan Hadhirat Utuh akan menuntun engkau kepada Pandangan (Vision) utuh, dan Pandangan (Vision) utuh akan menuntun engkau kepada Manifestasi Utuh sembilanpuluh sembilan asma ul husna Allah. Allah akan menuntun engkau kepada Manifestasi sembilanpuluh sembilan Asma Nya dan keseluruhan Asma Nya yang lain, karena dikatakan bahwa, "Asma Allah adalah sebanyak napas umat manusia."
Hendaknya diketahui oleh semua bahwa menyelamatkan napas dari ketak-pedulian adalah suatu proses yang sukar bagi seorang pencari.. Sehingga mereka harus melakukan hal itu dengan mencari ampunan (istighfar) karena mencari ampunan akan membersihkan dan mensucikan diri kita dan mempersiapkan si pencari untuk Manifestasi Sesungguhnya Allah yang memang berada dimana-mana. 

2.      Perhatikan Langkahmu ("Nazar bar qadam")

Itu artinya bahwa sang pencari sewaktu berjalan hendaknya pandangan matanya hanya tertuju kepada kakinya saja. Kemanapun kakinya hendak dia tempatkan, pandangan matanya hendaknya berada disitu pula. Dia tidak diperkenankan melemparkan pandangannya kesana kemari, untuk melihat kekiri atau kekanan atau kedepannya, karena pemandangan yang tak perlu akan menutupi kalbunya. Kebanyakan tabir pada kalbu diciptakan oleh gambar(an) yang ditransmisikan dari mata kepada pikiran selama menjalani kehidupan sehari-hari. Hal-hal ini mungkin (boleh jadi) mengganggu (menggoncangkan) kalbumu dengan turbulensi (gambaran dari gerak air sewaktu ombak mendampar karang), karena berbagai macam keinginan yang (telah) dicetak di dalam pikiran kita (oleh berbagai gambar(an) itu). Bayangan-bayangan tersebut adalah seperti tabir yang menutupi kalbu. Mereka menghadang Cahaya Hadhirat Ilahiah. Itulah sebabnya para wali Sufi tidak membolehkan para pengikutnya, yang telah membersihkan kalbu mereka melalui Dhikr berkesinambungan, untuk melihat selain kepada kaki mereka. Kalbu mereka sudah seperti kaca cermin, memantulkan dan menyerap gambar (image) secara mudah. Gambar ini akan menyimpangkan mereka dan membawa berbagai kekotoran (ketak-murnian) kedalam kalbu mereka. Maka para pencari diperintahkan untuk merendahkan pandangannya agar supaya tidak diserbu oleh anak panah syaithan.
Merendahkan pandangan juga merupakan tanda kerendahan hati; orang yang bangga dan sombong tidak pernah melihat kaki mereka. Itu juga suatu indikasi bahwa seseorang sedang mengikuti jejak (yang dicontohkan) Nabi (s.a.w.),  yang jika berjalan tidak pernah melihat ke kiri atau ke kanan, tetapi selalu melihat ke kakinya, bergerak dengan tegas dan mantap menuju arah tujuannya. Itu juga sebuah tanda  dari sebuah ketinggian maqam bila seorang pencari tidak melihat kemana-mana kecuali hanya kepada Tuhannya. Seperti seorang yang ingin sampai ke tujuannya dengan cepat, demikian juga seorang pencari Hadhirat Allah bergerak dengan cepat, tidak melihat ke kanan atau ke kirinya, tidak melihat kepada keinginan duniawi, tetapi hanya melihat kepada Hadhirat Ilahiah.
Imam ar-Rabbani Ahmad al-Faruqi (q) mengatakan dalam suratnya ke 295 dari Maktubat nya:
"Pandangan mendahului langkah dan langkah mengikuti pandangan. Perjalanan mendaki (mi’raj) ke maqam yang lebih tinggi mula-mula dengan Pandangan, diikuti Langkah. Apabila Langkah mencapai level Ketinggian dari Pandangan, maka Pandangan akan naik lagi ke tingkat berikutnya, atas itu Langkah juga mengikuti secara bergilir. Maka Pandangan akan diangkat ke tempat yang lebih tinggi lagi dan Langkah akan mengikutinya secara bergilir. Dan begitu seterusnya sampai Pandangan mencapai tingkat Kesempurnaan ke arah itulah Langkah akan ditarik (oleh Pandangan). Kita katakan, 'Bila Langkah mengikuti Pandangan, sang murid telah mencapai tingkat Kesiapan dalam mendekati Langkah Nabi (s.a.w.). Maka Langkah Nabi (s.a.w.) itu disebut juga sebagai Awal atau Sejatinya semua langkah lainnya.'"
Shah Naqshband (q) mengatakan, "Jika kita (hanya) melihat kesalahan shahabat kita, kita akan ditinggalkan tanpa teman, karena tak seorangpun sempurna." 

3.      Perjalanan Pulang ("safar dar watan")

Itu artinya perjalanan menuju kampung halaman. Itu artinya sang pencari berjalan dari dunia ciptaan menuju kepada dunia Sang Pencipta. Diceritakan bahwa Nabi (s.a.w.) mengatakan, "Saya akan mengunjungi Tuhan ku dari satu maqam ke maqam yang lebih baik dan dari satu stasiun ke stasiun yang lebih tinggi." Dikatakan bahwa sang pencari harus berjalan dari Kenginan untuk hal terlarang kepada Keinginan untuk Hadhirat Ilahi.
Thariqat Naqshbandi membagi perjalanan itu menjadi dua kategori. Pertama adalah perjalanan eksternal dan kedua adalah perjalanan internal. Perjalanan eksternal adalah berjalan dari satu tempat ke tempat lain mencari seorang pembimbing yang sempurna untuk membawa dan mengarahkan engkau ke sasaran yang engkau tuju. Ini akan memungkinkan engkau untuk menapak ke kategori kedua, perjalanan internal. Para pencari, sekali mendapatkan pembimbing sempurna (mursid), dilarang untuk melakukan perjalanan eksternal lainnya. Dalam perjalanan eksternal terdapat banyak kesukaran yang tak akan sanggup ditanggung oleh pemula tanpa jatuh kepada tindakan terlarang (haram), karena mereka memang masih lemah dalam ibadahnya.
Kategori kedua adalah perjalanan internal. Perjalanan internal memerlukan para pencari meninggalkan akhlaq buruk mereka dan meningkat ke akhlaq yang lebih tinggi, mencampakkan semua keinginan dunia dari kalbunya. Dia akan diangkat dari keadaan tidak bersih ke keadaan bersih atau murni. Pada saat itu dia tidak lagi memerlukan perjalanan internal lainnya. Dia telah mensucikan kalbunya, membuatnya jernih seperti air, transparan seperti kristal, mengkilap seperti cermin, memperlihatkan kebenaran dari semua hal yang esensi dari kehidupannya sehari-hari, tanpa memerlukan gerakan eksternal dari sisinya. Dalam kalbunya akan muncul semua hal yang diperlukan untuk kehidupannya dan untuk kehidupan mereka yang berada di sekelilingnya. 

4.      Kesendirian dalam Keramaian ("khalwat dar anjuman")

"Khalwat" berarti menyendiri. Itu artinya secara tampak luar bersama dengan manusia di sekelilingnya sementara secara batin selalu bersama Allah. Terdapat juga dua kategori “khalwat”. Pertama adalah penyendirian eksternal dan kedua adalah penyendirian internal.
Penyendirian eksternal memerlukan para pencari unutk menyendiri dalam suatu tempat yang tiada orang lainnya. Tinggal disitu sendirian, dia konsentrasi dan meditasi pada Dhikrullah, mengingat Allah, agar supaya mencapai keadaan dimana Teritori Kebenaran Allah menjadi nyata (menjelma). Apabila engkau merantai indera eksternal, indera internal mu akan bebas untuk mencapai Teritori Kebenaran Langit (Surgawi). Ini akan membawamu ke kategori kedua : kesendirian internal.
Kesendirin internal berarti menyendiri diantara keramaian orang. Disitu kalbu pencari hendaknya hadir dengan Tuhannya dan absen dari  dunia ciptaan sambil secara fisik berada di antara mereka. Dikatakan, "Sang pencari akan begitu terkait mendalam dengan Dhikr sunyi (sir) dalam kalbunya, meskipun dia masuk ke kerumunan orang, dia tidak akan mendengar suara mereka. Keadaan Dhikr nya telah menguasainya. Kenyataan (manifestasi) dari Hadhirat Ilahi menariknya dan membuatnya tidak sadar kepada semuanya kecuali kepada Tuhannya. Ini adalah posisi tertinggi suatu khalwat, dan dianggap khalwat yang benar, sebagaimana disebut dalam al Qur'an: "Orang-orang yang tak dapat dialihkan perhatiannya dari mengingat Allah oleh bisnis maupun keuntungan " [24:37]. Inilah cara Tharekat Naqshbandi.
Khalwat utama seorang shaykh Tharekat Naqshbandi adalah kesendirian internal. Mereka bersama Allah dan sekaligus bersama umatnya. Sebagaimana dikatakan Nabi (s.a.w.), "Saya memiliki dua sisi : satu muka menghadap Al Khaliq muka lainnya menghadap ciptaan (makhluq)." Shah Naqshband menekankan kebaikan berjamaah, bermajelis (berkumpul) ketika dia mengatakan: Tariqatuna as-suhbat wa-l-khairu fil-jamciyyat ("Tharekat kita adalah persahabatan (kebersamaan), dan Kebaikan berada dalam Kebersamaan ").
Dikatakan bahwa seorang beriman yang bergaul dengan orang dan mengangkat (memikul) kesukaran mereka lebih baik dari seorang beriman yang menyendiri dari orang. Terhadap hal yang peka ini Imam Rabbani mengatakan,
"Hendaknya diketahui bahwa sang pencari pada awalnya mungkin menggunakan khalwat external untuk mengisolasi dirinya dari orang, beribadah dan konsentrasi kepada Allah, Azza wa Jalla, sampai dia mencapai tahap yang lebih tinggi. Pada waktu itu dia akan dianjurkan oleh shaikh-nya, dalam kata-kata Sayyid al-Kharraz, Kesempurnaan bukan pada peragaan kekuatan karomah, tetapi kesempurnaan adalah duduk bersama orang (banyak), menjual dan membeli, menikah dan mempunyai anak; namun tak pernah meninggalkan kehadiran Allah bahkan sekejabpun.'" 

5.      Dhikr Utama (Essensi) ("yad kard")

Arti 'Yad' adalah Dhikr. Arti 'kard' adalah essensi Dhikr. Sang pencari hendaknya melakukan Dhikr dengan penolakan (negasi) dan penerimaan (affirmasi) pada lidahnya sampai dia mencapai keadaan meditasi (kontemplasi) kalbu (muraqaba). Keadaan itu akan dicapai dengan setiap hari menyebut penolakan (negasi) : LA ILAHA dan penerimaan (affirmasi) ILLALLAH pada lidah, antara 5,000 dan 10,000 kali, membuang dari kalbunya segala elemen yang akan mengotori dan membuatnya berkarat. Dhikr ini mempoles kalbu dan membawa sang pencari ke dalam keadaan Kenyataan (Manifestasi). Dia harus melakukan dhikr harian itu, baik dengan kalbu atau dengan lidah, mengulang ALLAH, yang mewakili (meliputi) semua asma dan sifat Nya, atau dengan negasi dan affirmasi melalui penyebutan LA ILAHA ILLALLAH.
Dhikr harian ini akan membawa sang pencari kedalam kehadiran sempurna dari Huwa Allahu Ahad.
Dhikr dengan negasi dan affirmasi, dalam tatacara Shaykh Naqshbandi, menghendaki bahwa sang pencari menutup matanya, menutup mulutnya, menggigit giginya, melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napasnya. Dia harus membaca dhikr itu melalui kalbu, dengan negasi dan affirmasi, memulai dengan kata LA ("Tidak"). Dia mengangkat "Tidak" ini dari bawah pusarnya naik ke otaknya. Sampai di otak kata "Tidak" mengeluarkan kata ILAHA ("Tuhan"), bergerak dari otak ke bahu kiri, dan menabrak kalbu (jantung)nya dengan ILLALLAH ("kecuali Allah "). Apabila kata itu menabrak kalbu, energi dan panasnya memancar keseluruh bagian tubuh. Sang pencari yang telah menolak semua yang ada di dunia ini dengan kalimat LA ILAHA, dan menyatakan menerima kalimat ILLALLAH, artinya berada dalam keadaan bahwa semua yang exist (ada) hilang lenyap dalam Hadhirat Allah.
Sang pencari mengulang ini dengan setiap napas, menghirup dan meniup, selalu membuatnya mencapai kalbu, sesuai dengan jumlah angka yang di-instruksikan oleh shaikh-nya. Sang pencari secar berangsur akan mencapai keadaan dimana dalam satu napas dia dapat mengulang LA ILAHA ILLALLAH duapuluh tiga kali. Seorang shaikh mursid dapat mengulang LA ILAHA ILLALLAH tak terhitung banyaknya dalam setiap kali napas. Arti dari praktek ini adalah bahwa sasaran satu-satunya hanya ALLAH dan tidak ada sasaran lain lagi bagi kita. Dengan melihat Hadhirat Allah sebagai satu-satunya Kenyataan (Existensi), akan memasukkan kedalam kalbu murid itu cinta Nabi (s.a.w.) dan pada saat itu dia mengatakan, MUHAMMADUN RASULULLAH yang adalah jantung dari Hadhirat Allah. 

6.      Kembali ("baz gasht")

Ini adalah keadaan dimana sang pencari, yang melakukan Dhikr dengan negasi dan affirmasi, sampai kepada pengertian ungkapan Nabi (s.a.w.), ilahi anta maqsudi wa ridaka matlubi ("Ya Allah, Engkaulah yang kami Maksud dan Ridha Mu adalah dambaanku.") Pembacaan ungkapan ini akan menambah kesadaran sang pencari  tentang Ke-Esa-an Allah, sampai dia mencapai keadaan di mana keberadaan semua ciptaan (makhluq) lenyap dari pandangan matanya. Semua yang dilihatnya, kemanapun dia memandang, adalah Allahu Shamadu. Murid Naqshbandi membaca dhikr macam ini agar supaya menyuling dari kalbunya rahasia Al Ahad, dan untuk membuka diri mereka kepada Kenyataan Hadhirat Allahu Shamadu. Para pemula tidak berwenang  meninggalkan dhikr ini bila dia tidak mendapatkan kekuatan itu muncul dalam kalbunya. Dia harus tetap membaca dhikr ini mengikuti (meniru) Shaykh-nya, karena Nabi (s.a.w.) telah mengatakan, "Barang siapa meniru suatu golongan orang akan menjadi bagian dari golongan itu." Dan barang siapa meniru gurunya akan suatu hari mendapatkan rahasia itu terbuka untuk kalbunya.
Arti dari "baz gasht" adalah kembali kepada Allah Azza wa Jalla dengan menunjukkan kepasrahan diri sempurna dan tunduk kepada Kemauan Nya, dan kerendahan diri sempurna dengan menyampaikan semua pepujian kepada Nya. Itulah alasan Nabi (s.a.w.) menyebutkan dalam doanya, ma dzakarnaka  aqqa dzikrika ya Madzkar ("Kami tidak Mengingat Engkau sebagaimana seharusnya Engkau Diingat, Ya Allah"). Sang pencari tidak dapat datang kepada hadhirat Allah dalam dzikrnya, dan tidak dapat mengungkapkan Rahasia dan Sifat Allah dalam dzikrnya, bila dia tidak melaksanakan dzikrnya itu dengan Dukungan Allah dan dengan Allah Mengingat dirinya. Sebagaimana dikatakan Bayazid: "Ketika aku mencapai Dia aku melihat bahwa ingatan Dia (kepadaku) mendahului ingatan saya kepada Nya." Sang pencari tidak dapat melakukan dzikr oleh sendirinya. Dia harus mengetahui bahwa Allah adalah justru yang sedang melakukan Dzikr melalui diri hamba Nya itu. 

7.      Perhatian ("nigah dasht")

"Nigah" berarti pandangan (visi). Itu artinya sang pencari hendaknya mengendalikan qalbunya dan melindunginya dengan cara mencegah masuknya pikiran buruk. Kecenderungan buruk akan menghalangi qalbu dari penyatuan diri dengan Hadhirat Allah. Diakui dalam Naqshbandiyya bahwa bagi seorang pencari dapat melindungi qalbunya dari kecenderungan buruk selama lima menit saja adalah sebuah hasil yang besar. Untuk ini saja dia sudah akan diakui sebagai seorang sufi sejati. Sufisme adalah sebuah kekuatan untuk melindungi qalbu dari pemikiran buruk dan menjaganya dari kecenderungan rendah. Barang siapa berhasil dengan dua sasaran ini akan mengerti qalbunya, dan barang siapa mengerti qalbunya akan mengenali Tuhannya. Nabi s.a.w. mengatakan, "Barang siapa mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya."
Seorang shaikh Sufi mengatakan, "Karena saya melindungi qalbu ku untuk sepuluh malam, qalbuku melindungiku untuk duapuluh tahun."
Abu Bakr al-Qattani mengatakan, "Aku adalah penjaga pintu qalbuku selama 40 tahun, dan aku tak pernah membukanya untuk siapapun kecuali Allah, Azza wa Jalla, sampai qalbuku tidak lagi mengenali siapapun kecuali Allah Azza wa Jalla."
Abul Hassan al-Kharqani mengatakan, "Telah 40 tahun Allah melihat ke dalam qalbu saya dan mendapati bahwa tak seorangpun berada disana kecuali Diri Nya Sendiri. Dan memang tidak ada ruang dalam qalbu saya untuk selain Allah." 

8.      Memori ("yada dasht")

Artinya pembaca Dzikr melindungi qalbunya dengan negasi dan affirmasi dalam setiap hembusan napas tanpa meninggalkan Hadhirat Allah Azza wa Jalla. Hendaknya sang pencari agar mempertahankan qalbunya supaya selalu berada dalam Hadhirat Allah. Ini akan membuatnya menyadari dan merasakan Cahaya Esensi dari Allah (anwar adh-dhat al-Ahadiyya). Dia kemudian membuang tiga dari empat bentuk pikiran : pikiran egoistik, pikiran jahat, dan pikiran malaikatis, sambil mempertahankan dan membenarkan hanya bentuk pikiran ke-empat, yaitu : pikiran kebenaran atau haqqani. Hal ini akan membimbing sang pencari menuju keadaan tertinggi dari kesempurnaan dengan membuang semua khayalannya dan hanya merengkuh Kebenaran yang adalah Ke-Esa-an Allah, 'Azza wa Jalla. 

'Abdul Khaliq al-Ghujdawani mempunyai empat orang khalifah. Yang pertama adalah Shaikh Ahmad as-Siddiq, berasal dari Bukhara. Yang kedua adalah Kabir al-Awliya ("Terbesar diantara Wali "), Shaikh Arif Awliya al-Kabir (q). Berasal dari Bukhara, dia adalah ulama terkemuka dalam Ilmu external dan internal. Khalifah yang ketiga adalah Shaikh Sulaiman al-Kirmani (q). Khalifah keempat adalah cArif ar-Riwakri (q). Kepada khalifah keempat inilah Abdul Khaliq (q) mewariskan Rahasia Mata Rantai Emas (Naqshbandi) sebelum dia meninggal pada 12  Rabi'ul-Awwal 575 H.

LIMA BINTANG CAHAYA TAREQAT NAQSHBANDIYAH


Silsilah tariqat Naqshbandi bermula daripada Khalifah – pengganti – Rasulullah (s.a.w) yang pertama iaitu, Abu Bakr Siddiq, sahabat yang paling rapat dan pengikut paling setia Rasulullah (s.a.w). Pewaris kepada beliau pula ialah Salman al-Farsi, dari Persia. Salman al-Farisi merupakan seorang sahabat yang sejak dai mudanya semasa di Persia, sentiasa mencari para ulama dan para‘ariffin’ (mereka yang arif tentang ilmu ketuhanan), lelaki mahupun wanita untuk menuntut ilmu daripada mereka, sehinggalah akhirnya beliau bertemu dengan orang yang dicari-carinya iaitu, Nabi dan Rasu pada zamannya, Muhammad sallallahu ‘alaihi wasalam. Pewaris kepada beliau pula ialah, Qassim bin Muhammad bin Abu Bakr, cucunda kepada Abu Bakr Siddiq, yang telah disebut diatas tadi. Seterusnya, rahsia amalan kesufian tariqat Naqshbandi ini pula diwarisi oleh Imam besar, Imam para ‘Ariffin’ dan Penunjuk Jalan Ketuhanan pada zamannya iaitu Jaf’ar as-Sadiq, orang yang Dipercayai. ! Beliau diakui sebagai Imam besar jalan ketuhanan oleh orang Islam yang berfahaman Sunni (ahlussunnah wal jama’ah) dan juga yang berfahaman Shi’a, Yahudi dan juga Kristian. Beliau merupakan generasi kelima keturunan Rasulullah (s.a.w) dan beliau mewarisi rahsia ilmu kesufian/ketuhanan ini daripada keluarga bondanya yang merupakan keturunan Abu Bakar dan juga daripada keluarga bapanya yang merupakan keturunan Nabi Muhammad melalui anak kesayangan baginda (s.a.w), Fatimah.
Bayazid al Bistami pula merupakan pewaris as-Sadiq didalam silsilah tariqat yang kaya dengan rahsia ilmu ketuhanan/kesufian ini. Datuk kepada Bayazid merupakan seorang majusi (penyembah api). Kehidupan zuhud yang menjadi amalan Bayazid tidak dapat ditandingi. Beliau merupakan ahli Sufi yang pertama yang mengutarakan konsep fana’un fillah (binasanya makhluk – sesungguhnya Allah jua yang wujud dan yang kekal).

Perkataan Naqshband, yang menjadi nama bagi tariqat ini bererti, ‘mengukir nama Allah didalam hati’. Sebab itulah, Imam tariqat ini dikenali sebagai Sultan Para Pengukir, yang masyhur bukan sahaja kerana merasai dan mengalami rasa dekatnya Allah dengan hambanya tapi juga kerana benar-benar dapat mengukir perkataan ‘Allah’pada dada nya. Ukiran perkataan ‘Allah’ dijumpai apabila beliau telah meninggal dunia, iaitu semasa pegurusan jenazah beliau. Karamah ini berlaku kerana beliau sentiasa berada didalam keadaan mengingati dan membasahkan lidah mereka dengan menyebut nama Tuhan yang Agung ‘Allah’. Kisah mengenai karamah beliau, rahmat tuhan kepadanya dan juga kata-kata puji-pujinya dan cintanya terhadap Tuhan, Keesaan Allah dan bekal untuk menyelami jalan menuju ke hadrat Allah s.w.t. banyak diperkatakan.


Salasilah Tarekat ini, mengandungi 40 imam-imam besar, yang bermula daripada Rasulullah (s.a.w) - kerana amalan, dzikir dan segala rahsia ketuhanan/kesufian tariqat ini diajari oleh Rasulullah (s.a.w) yang diwarisi turun temurun oleh imam-imam seterusnya. Pada setiap zaman terdapat satu imam yang merupakan Qutub dan Ghawth pada zaman tersebut. Imam-imam ini, mempunyai daya tarikan yang begitu kuat didalam 'mengajak' murid-muridnya ke hadrat Allah s.w.t. sehinggakan mereka akan datang dari jarak jauh hanya untuk berada dekat dengan imam-imam ini. Keupayaan ini untuk menggunakan kuasa kerohanian mereka tanpa sekatan masa dan ruang, merupakan penyebab berjuta-juta manusia mendekatkan diri mereka ke hadrat Allah s.w.t. - malah mungkin antara jutaan manusia itu tidak pun pernah bersua muka dengan Imam tadi.

Tariqat Naqshbandi mempunyai sejarah yang panjang iaitu silsilah pemimpin ataupun imam-imam besar bagi tariqat ini dapat dikesan sehingga ke Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, Khalifah Ar-Rasyidun yang pertama.Abu Bakar as-Siddiq menjadi pengganti pertama kepada Rasulullah (s.a.w) untuk memimpin Ummat Islam pada masa itu dan mengukuhkan rohani dan iman mereka. Firman Allah didalam Al-quran yang mulia

"...sedang dia salah seorang dari 2 orang ketika keduanya berada dalam gua,di waktu dia berkata kepada temannya,Janganlah kamu berdukacita sesungguhnya Allah beserta kita." (Al-Quran, 9:40)

Rasulullah (s.a.w) pernah memuji Abu Bakar as-Siddiq dengan sabdanya,"Dikala terbit atau terbenamnya matahari, sinarnya yang memancar itu, tidak pernah menyinar pada seorang yang lebih baik selain Abu Bakar melainkan para Nabi dan Rasul." (Tarikh al-Khulafa) Baginda (s.a.w) juga pernah bersabda,"Abu Bakar lebih utama daripada kamu bukan kerana banyaknya solat atau puasa beliau melainkan kerana sesuatu rahsia yang berakar umbi di dalam hatinya."(Manaqib as-Sahaba Imam Ahmad). Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda," Jika aku di kehendaki memilih teman yang kucintai,aku memilih Abu Bakr sebagai teman yang kucintai;tetapi dia adalah saudara dan sahabatku."(Sahih Muslim)

Tariqat Naqshbandi terbina asas dan rukunnya oleh 5 bintang yang bersinar diatas jalan Rasulullah (s.a.w) ini dan inilah yang merupakan ciri yang unik bagi tariqat ini yang membezakannya daripada tariqat lain. Lima bintang yang bersinar itu ialah Abu Bakr as-Siddiq,Salman Al-Farisi,Bayazid al-Bistami,Abdul Khaliq al-Ghujdawani dan Muhammad Bahauddin Uwaysi a-Bukhari yang lebih dikenali sebagai Shah Naqshband - Imam yang utama didalam tariqat ini.

Perkataan Naqshband berasal daripada dua cetusan idea : naqsh yang bermaksud "ukiran" dan ini diertikan sebagai mengukir nama Tuhan pada hati dan band pula bermaksud "ikatan" yang menunjukkan ikatan antara insan dan Penciptanya. Oleh itu ini bermakna Tariqat Naqshbandi mengajak murid-muridnya lelaki ataupun perempuan, agar melakukan solat dan menunaikan perkara yang wajib mengikut Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (s.a.w) dan kehidupan para sahabat berserta dengan sifat Ihsan. Agar terus bermujahadah dan dapat merasakan kehadiran Allah dan perasaan cinta kepada Allah didalam hati murid-murid tadi dan seterusnya terjalinlah ikatan antara murid dengan Penciptanya.

Salman al-Farisi
Selain daripada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq siapakah lagi bintang yang bersinar di dalam tariqat warisan Rasulullah (s.a.w) ini? Salah seorang daripada mereka ialah Salman al-Farisi.Beliau berasal daripada Ispahan, sebuah bandar di Persia. Didalam sejarah, beliau adalah sahabat yang bertanggungjawab memberikan cadangan pembinaan parit kepada ummat Islam ketika menghadapi para Musyrikin semasa peperangan Ahzab.Cadangan ini telah dapat mengelakkan korban jiwa yang banyak dan seterusnya membawa kepada perdamaian dalam waktu yang singkat. Setelah baginda Rasulullah (s.a.w) wafat, beliau berpindah ke al-Madain, ibu negara Persia ketika itu. Ia diangakat menjadi Putera dan gabenor kota tersebut. Beliau terus menetap di kota tersebut hingga ke mangkatannya.

Bayazid Tayfur al-Bistami (q)
Seorang lagi bintang yang menyinari tariqat ini ialah Bayazid Tayfur al-Bistami. Datuk beliau merupakan seorang penganut agama Majusi. Bayazid mendalami 'ilmu shariah dan mengamalkan kehidupan yang amat zuhud. Sepanjang hidupnya dia amat tekun dan bersungguh-sungguh didalam mengamalkan segala suruhan agama. Dia mengajar murid-muridnya agar menyerahkan segala usaha mereka, di dalam tangan Allah. Dia juga menggalakkan murid-muridnya untuk mengamalkan ajaran Tauhid yang benar dan suci dengan penuh keikhlasan.
Doktrin Ketauhidan Bayazid al Bistami
Lima elemen utama terkandung di dalam doktrin ini iaitu: tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban didalam agama berlandaskan wahyu (Al-quran) dan As-sunnah Nabi Muhammad (s.a.w)[hadith dan cara hidup baginda], sentiasa berkata benar, jauhi hati daripada menyimpan perasaan benci, menjauhi makanan yang membahayakan diri dan menjauhi bida'ah. Bayazid berkata, matlamat utama para Sufi ialah untuk melihat Allah di alam akhirat kelak.Dia pernah berkata: " Terdapat hamba-hamba Allah yang istimewa disisiNya, akan memilih dan meminta untuk dikeluarkan daripada syurga dengan segera sebagaimana penghuni neraka meminta untuk disegerakan keluar daripada neraka, SEKIRANYA pandangan mereka ditutup daripada berpeluang untuk memandang Allah di syurga."

Abdul Khaliq al-Ghujduvani (q)
Seorang lagi bintang yang bersinar, didalam tariqat warisan Rasulullah (s.a.w) ini, ialah Abdul Khaliq al-Ghujduvani. Beliau dilahirkan di sebuah kampung bernama Ghujduvani, berdekatan dengan Bukhara - sekarang dikenali sebagai Uzbekistan dan disinilah beliau dibesarkan dan dikebumikan. Beliau mempelajari 'Ilmu Wahyu, 'Ilmu Tafsir, Usul Fiqh dan 'Ilmu Hadith daripada Shaykh Sadruddin. Setelah menguasai 'Ilmu Ketuhanan (Shari'ah) dia meneruskan pula pengajiannya kepada Jihaddun Nafs iaitu memerangi nafsu yang ada didalam diri setiap insan. Beliau berusaha bersungguh-sungguh memerangi nafsu diri yang rendah sehinggalah beliau berada dan sampai kepada maqam kesucian dan keikhlasan. Beliau kemudian bermusafir ke Damascus dan membuka sekolah yang telah melahirkan ramai anak-anak murid yang meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran Islam yang sebenar ke kawasan Asia Tengah dan juga Timur Tengah.
Abdul Khaliq menyambung kajian dan ajaran pemimpin tariqat sebelum beliau dengan mengumpulkan kaedah dzikr menurut sunnah Rasulullah (s.a.w).Didalam surat-suratnya beliau telah menulis tentang adab-adab yang perlu dipatuhi oleh setiap murid tariqat Naqshbandiyya. Antara kata-katanya," Wahai anakku, aku menyeru kamu supaya menuntut 'ilmu dan melakukan amalan saleh dan takutlah kamu kepada Allah. Ikutilah jejak orang-orang yang saleh dan bertaqwa yang datang sebelum kamu pada jalan kerohanian, berpeganglah pada jalan dan cara hidup Rasulullah (s.a.w), bersahabatlah dengan mukmin yang ikhlas dan jujur.Bacalah kitab-kitab Hukum Shariah dan Usul Fiqh, pelajarilah 'ilmu hadith,'ilmu tafsir, jauhilah mereka yang menipu didalam agama dan tetaplah solat berjamaah. Berhati-hati terhadap bahaya kemasyhuran. Duduklah bersama-sama orang-orang biasa dan janganlah kamu meminta-minta jawatan."

Shah Naqshband Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari (q)
Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari dikenali sebagai Shah Naqshband, Imam Tariqat Naqshbandi yang tiada tandingannya. Dilahirkan pada tahun 1317 masihi di sebuah kampung yang bernama Qasr al-Arifin terletak dekat dengan Bukhara. Dalam usia muda 18 tahun beliau telah mahir dan mempunyai pemahaman yang mendalam tentang 'Ilmu Shariah. Seterusnya beliau sentiasa bersama Shaykh Muhammad Baba as-Samasi, yang merupakan Imam al-Muhaddithin (ilmu hadith) di Asia Tengah pada zaman itu. Selepas kemangkatan beliau, Shah Naqshband bersama pula dengan Shaykh Amir Kulal. Shaykh Amir Kulal meneruskan dan menyempurnakan pendidikan Shah Naqshband didalam 'Ilmu al-Quran dan 'Ilmu adz-dzikr yang diwarisinya daripada Nabi Muhammad (s.a.w), Abu Bakr as-Siddiq, Salman al-Farisi sehinggalah ke zamannya.

Anak-anak murid Shaykh Amir Kulal biasa berdzikir dengan suara yang kuat semasa berdzikir beramai-ramai. Apabila berseorangan mereka berdzikir secara senyap. Shah Naqshband pernah berkata,

"Ada dua kaedah berdzikir iaitu yang kuat dan yang senyap. Saya memilih yang senyap kerana ia mempunyai kesan yang lebih mendalam." Kerana inilah, kaedah dzikir secara senyap merupakan ciri yang khusus bagi Tariqat Naqshbandiyya yang membezakannya daripada lain-lain tariqat. Walaupun Abu Bakr as-Siddiq dan Shah Naqshband memilih dan cenderung kepada kaedah dzikir secara senyap, mereka tidak pernah mengkritik kaedah dzikir secara kuat.

Shah Naqshband telah menunaikan fardhu haji sebanyak 3 kali. Selepas itu beliau menetap di Merv dan Bukhara. Di penghujung hidupnya dia kembali ke tempat kelahirannya, kota Qasr al-Arifin. Ajarannya menjadi buah mulut orang ramai dan dan namanya meniti dari bibir ke bibir. Pelawat daripada jauh datang untuk menziarahi dan belajar dan mendapatkan nasihat daripada beliau. Murid-muridnya menimba ilmu didalam madrasah dan masjid yang dapat memuatkan 5000 orang dalam satu-satu masa yang dibina oleh beliau. Madrasah ini merupakan pusat pengajian Islam yang terbesar di Asia Tengah. Bangunan ini terus berdiri tegak hingga sekarang walaupun telah melalui zaman pemerintahan Komunis selama 70 tahun. Sekarang kerajaan tempatan mula memperbaiki dan menjaga bangunan tersebut.

Ajaran Shah Naqshband telah memberi cahaya kedalam hati-hati murid-muridnya yang selama ini berada di dalam kegelapan. Beliau mengajar anak muridnya mengenai Keesaan Allah yang mana bidang ini menjadi bidang kepakaran Imam-imam Tariqat ini yang datang sebelum beliau. Beliau menekankan kepada anak muridnya tentang peri pentingnya untuk merealisasikan maqam al-Ihsan berdasarkan kepada hadith Rasulullah (s.a.w), "Ihsan ialah menyembah Allah seperti kita dapat melihatNya..."

Semasa beliau sakit di saat-saat penghujung hidupnya, beliau mengunci dirinya didalam sebuah bilik. Murid-muridnya datang menziarahi beliau tanpa henti-hentinya dan beliau memberi kepada mereka apa yang mereka perlukan. Pada satu ketika beliau telah menyuruh anak-anak muridnya membaca surah Yaasin. Setelah mereka selesai membacanya, beliau mengangkat tangan dan terus berdoa.Seterusnya beliau mengangkat jarinya sambil membaca kalimah syahadah. Setelah selesai membaca kalimah tersebut, ruh beliau pergi meninggalkan jasad untuk kembali ke hadrat ilahi,pada malam Isnin tahun 1388 masihi. Beliau dikebumikan didalam tamannya, seperti yang beliau wasiatkan. Raja-raja yang memerintah Bukahara selepas itu, menjaga serta membesarkan madrasah dan masjid yang telah beliau bina dan menambahkan jumlah wang waqaf bagi pemeliharaan dan kegunaan madrasah tersebut.

Shaykh-shaykh Tariqat Naqshbandi yang datang selepas Shah Naqshband telah banyak menulis tentang riwayat hidup beliau. Antaranya ialah Masoud al-Bukhari dan Sharif al-Jurjani yang menulis Risala Bahaiyya yang menerangkan secara terperinci mengenai kehidupan dan ajaran serta fatwa-fatwa yang telah di keluarkan oleh Shah Naqshband. Shaykh Muhammad Parsa yang meniggal di Madinah pada tahun 1419 menulis Risala Qudsiyya. Karya ini menceritakan mengenai kelebihan dan kesolehan serta ajaran-ajaran Shah Naqshband.

Banyak karya-karya yang telah ditinggalkan oleh Shah Naqsband untuk generasi selepas beliau. Antaranya termasuklah, al-Awrad al-Bahaiyya, Amalan-amalan Shah Naqshband, Tanbih al-Ghafilin Maslakul Anwar dan Hadiyyatus Salikin wa Tuhfat at-Talibeen. Dia juga telah menulis puji-pujian buat Rasulullah (s.a.w) dan mengeluarkan banyak fatwa pada zamannya. Antara pendapat beliau ialah, kesemua amalan dan kaedah penyembahan, samaada yang wajib ataupaun yang sunat, adalah dibenarkan untuk dilakukan bagi mencari dan mencapai haqiqat. Solat, puasa, zakat dan sedekah,berdzikir dan mnyebut nama-nama Allah, memerangi nafsu (mujahadatunnafs)dan kehidupan zuhud, merupakan kaedah-kaedah yang diutamakan agar seseorang murid itu, dapat sampai ke hadrat Ilahi. (Lihat 11 rukun Tariqat Nashbandi).
[Image] Shaykh Nazim al-Haqqani, Pemimpin Tariqat Naqshbandi pada masa ini, semasa menziarahi makam Shah Naqsband. Mufti Uzbekistan sedang memberi beliau segelas air daripada telaga air Shah Naqshband.

Shah Naqshband telah membina madrasah beliau untuk memperbaharui dan mengembalikan obor Islam bagi ummat Islam dizamannya untuk menghayati ajaran Islam sebagai cara hidup mereka. Beliau menekankan tentang pentingnya berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (s.a.w). Anak muridnya pernah bertanya kepada beliau,

"Apakah yang kami perlukan untuk mengikuti jalan Tuan?" Beliau menjawab, "Mematuhi dan menghayati jalan dan cara hidup Rasulullah (s.a.w) dengan penuh kecintaan."

Beliau menyambung lagi, "Jalan kita merupakan jalan yang jarang ditemui, kerana ia berpegang kepada Al-Urwatul Wuthqa, iaitu ikatan yang tidak boleh diputuskan. Jalan ini,tariqat ini hanya menghendaki pengikutnya, memegang pada jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah (s.a.w) - jalan yang suci lagi terpelihara - dan jalan yang dilalui oleh pengikut dan para sahabat baginda (s.a.w) di dalam perjuangan kita untuk menuju ke hadrat ilahi - mengenal hakihat ketuhanan."
Kehidupan Shah Naqshband amatlah zuhud. Beliau amat mementingkan kehalalan makan yang beliau makan. Beliau memakan roti daripada barli yang beliau tanam dan tuai sendiri. Beliau amat mencintai para fakir miskin dan selalu memasak dan melayan mereka serta menziarahi mereka apabila mereka sakit. Sebenarnya beliau seorang yang kaya dan suka membelanjakan hartanya semata-mata pada jalan Allah, bukan untuk diri atau keluarga. Sifat beliau yang pemurah itulah yang menyebabkan beliau amat dicintai dan sifat kedermawanannya sentiasa menjadi buah mulut orang ramai.

Shah Naqsband pernah berkata:

"Tariqat Naqshbandi ini, merupakan jalan yang paling mudah dan senang bagi seorang murid untuk memahami tentang Tauhid.Ia bebas daripada bida'ah ataupun sebarang peyimpangan dan perbuatan yang ekstrim (shaathiyyat) ataupun tarian dan sebutan yang sukar untuk difahami (sama'a). Ia tidak meminta muridnya untuk sentiasa berlapar ataupun berjaga sepanjang malam.Oleh kerana sifat-sifat inilah, Tariqat Naqshbandiyya tetap bebas daripada mereka yang jahil ataupun penipuan (mushawazeen). Kesimpulannya, kita pula mengatakan bahawa tariqat kita ini merupakan ibu bagi tariqat-tariqat lain dan penjaga amanah kerohanian. Jalan ini adalah jalan yang paling selamat, berhikmah, dan jelas. Ia umpama telaga air yang daripadanya dapat diminum air yang suci dan amat bersih. Sehingga kini Tariqat Naqshbandiyya bebas daripada ancaman ataupun serangan daripada mana-mana pihak keran ia berpegang teguh pada As-sunnah Rasulullah (s.a.w)- jalan yang terpelihara lagi diredhai.

ISTILAH-ISTILAH SUFI, TASAWWUF DAN TAREQAT NAQSYABANDIYAH


ISTILAH-ISTILAH
A
Abdal – Kelompok yand terdiri dari orang-orang suci yang di antara mereka terdapat kelompok Shiddiqun (orang yang benar dan jujur)
Ahadiyah – Keesaan tertinggi
Ahadits – Ucapan Nabi Muhammad saw
Ahli Suffah – Orang-orang yang ikut pindah dengan nabi dari Mekah ke Madinah
Ahamadiyah – Tareqat Syekh Ahamd Idris
Akhirat - Kehidupan yang kekal sesudah mati
Agama- Ad-Din, Syariat dan hukum-hakam Islam, ketaatan.
Ahadiyah- Keesaan
Ahmad- Yang Paling Terpuji
Ahwal- Hal-hal keadaan
Akabirin- Syeikh-syeikh besar
Akhfa- Yang paling tersembunyi, Latifah Alam Hahut di Alam Amar
Alam Amar - Alam di atas ‘Arasy
Alam Arwah - Alam Para Ruh
Alam Bahut - Alam Sifat-Sifat Allah, Alam Ketuhanan.
Alam Hahut - Alam Zat Allah, Alam Ketuhanan.
Alam Jabarut - Alam Para Ruh
Alam Kabir - Makrokosmos
Alam Khalaq - Alam di bawah ‘Arasy
Alam Lahut - Alam Bayangan Sifat-Sifat Allah, Alam Ketuhanan.
Alam Malakut - Alam Para Malaikat
Alam Saghir - Mikrokosmos
Allah - Nama Zat Tuhan yang wajib wujud secara mutlak, memiliki segala sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat kekurangan, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Alf Tsani - Seribu tahun kedua sesudah Hijrah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
Amir - Pemimpin jemaah
Anjuman - Khalayak ramai
Anwar - Kata jamak bagi Nur, cahaya-cahaya
Aqrab - Paling dekat
Aulia - Kata jamak bagi Wali
Awrad - Himpunan wirid-wirid
Azkar - Kata jamak bagi Zikir
‘Adadi - Bilangan
‘Ainul Yaqin - Syuhud, Ihsan
‘Aliyah - Yang tinggi
‘Aqidah - Pegangan i’tiqad, keimanan
‘Arasy - Tempat Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersemayam
Arif – Seseorang yang mengetahui
Arifbillah – Orang yang sangat mengenal Allah SWT
Auliya – Para wali Allah SWT
Autad – Dalam Hirarki sufi terdapat empat manusia sejati Al Autad, yang bertempat di empat penjuru dunia: sebelah timu, barat, Utara dan Selatan
B
Bai‘ah - Janji taat setia
Barakah – Suatu keagungan ; khususnya dikaitkan dengn kurnia Kerohanian yang dianugerahkan oleh Allah SWT
Baz Gasht - Kembali kepada Allah dengan lafaz “Ilahi Anta Maqsudi, Wa Ridhoka Matlubi, A’tini Mahabbataka Wa Ma’rifataka”.
Basirah - Pandangan mata hati/hati nurani/pandangan batin
Basyariyah - Sifat-sifat manusiawi
Bida ‘ah - Amalan yang tidak menuruti Sunna
C
Chishtiyah - Tariqat Hadhrat Maulana Syeikh Mu‘inuddin Chishti Rah. ‘alaih
D
Da‘I - Seorang pendakwah.
Dakwah - Menyeru kepada Agama Allah Ta’ala.
Darwisy – Pencari Allah SWT
Dawam - Secara berterusan, tetap, kekal.
Dawam Al Hudhur – Kehadiran Allah SWT secara terus menerus
Dawam Agahi - Sentiasa berjaga-jaga menantikan limpahan Faidhz. Dawam Hudhur - Kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berterusan.
Dehlawi - Nisbat kepada tempat iaitu Delhi, India..
Doa – Permohonan peribadi seorang hamba kepada Allah SWT
Dosa – Suatu kesalahan atau kekeliruan
F
Faidhz - Limpahan Ketuhanan.
Fana - Kehilangan diri.
Faruqi - Nisbat keturunan kepada Sayyidina Umar Khattab Faruq (R.‘anhu)
Fasad - Kerosakan, kejahatan
Fath - Pembukaan
Fauqaniyah - Yang kedudukannya bersifat teratas.
Faqir - Orang miskin yang menyerah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Feqah - Kefahaman Agama yang berkaitan Syari‘at.
Fikr – Kekuatan fikiran atau perenungan
Fu’ad – Tempat makrifat dan rahsia-rahsia atau alat penglihatan batin
G
Ghaib- Sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar
Ghairullah - Makhluk, segala sesuatu yang selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala..
Ghauts - Darjat kewalian yang tinggi.
H
Ha/Hiya - Dia (muannats).
Hadrah – Kehadiran sifat Tuhan
Hal – Keadaan rohani yang menguasai hati
Haq - Kebenaran.
Hafiz - Seorang yang menghafal Al-Quran.
Hakikat - Kebenaran.
Hanafi - Mazhab Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih.
Hambali - Mazhab Imam Ahmad Bin Hambal Rahmatullah ‘alaih.
Haqiqat - Kebenaran sesuatu.
Hadits/Hadis - Perkataan, perbuatan dan diam Hadhrat Nabi s.a.w.
Hadhrat - Kehadiran.
Hawa – Kecebderungan nafsu kepada Syahwat. Potensi kalbu tunyuk mrngerakkan kemahuan. Ada keinginan untuk keduniaan
Hidayah - Petunjuk.
Hijab - Penghadang, tirai.
Himmah – Kekuatan yang paling kuat dalam diri manusia
Hosh - Sedar.
Hosh Dar Dam - Sedar dalam nafas.
Hu/Huwa - Dia (muzakkar)
Hudhur – Kehadiran bersama Allah
I
Ibadah – Penghambaan kepada Allah SWT disertai kepatuhan dan cinta mutlak
Ihsan - Merasakan seolah-olah melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ijtihad - Menetapkan sesuatu hukum Syari‘at.
Ikhlas – Ketulusan dan kesucian niat kerana Allah SWT
Ilham – Pancaran Ilahi
Ilahi - Tuhan, Tuhanku
Imam - Pemimpin
Iman - Percaya dan yakin dengan perkara yang Ghaib.
Inabah - Kembali kepangkuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Insan kamil – Manuia sempurna atau Khalifah Allah
Insyirah – Kelapangan dada
Islah - Memperbaiki diri
Islam - Menyerahkan diri kepada Allah dengan perlaksanaan Syari‘at.
Ismu Zat - Nama bagi Zat Pencipta iaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Isyarah – Pengungkapan pengalaman kaum sufi
Isyaraqiyah – Bersinar/memancarkan cahaya , seakan seerti dengan kasyaf
Isyq – Cinta yang bergelora kepada Allah SWT
Istighfar - Memohon keampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Itsbat - Menetapkan.
‘Irfan - Limpahan Ma’rifat Ketuhanan.
J
Jabarut – Dunia kekuasaan Tuhan/hakikat Ilahi
Jalallah – Sebutan lafaz Alah
Jam‘iyat - Kesemua lataif yang tetap mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Jazb – Persaan sedang dimabuk rindu kepada Allah SWT
Jemaah - Secara berkumpulan.
Jihri - Menguat dan mengeraskan suara, lisan yang kedengaran.
Jazbah - Penarikan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
K
Kaifiat - Cara dan kaedah perlaksanaan.
Karamah – Kemuliaaan atau Kekeramatan
Kashaf - Pandangan batin./penyingkapan. Terbuka dari tabir
Khafi - Sesuatu yang bersifat tersembunyi, Latifah Alam Bahut.
Khalifah - Naib, pengganti.
Khalwat - Bersendirian, berseorangan.
Khalwatiyah – Tereqat Syaikh Umar Al Khalawti (Wafat 800/1397H)
Khalwat Kabirah - Bersendirian dengan Allah dalam kesibukan manusia.
Khalwat Saghirah - Bersendirian dengan Allah jauh dari kesibukan manusia.
Khandan - Kelompok, golongan, keturunan.
Khanqah - Tempat Syeikh mendidik Para Muridnya, Zawiyah, Ribat.
Khatrah - Kekhuatiran dan lintasan hati.
Khauf – Sap merasa takut kepada Allah swt kerana kurang sempurna pengabadiannya
Khilafah - Menerima tanggungjawab Khalifah.
Khudawanda - Oh! Tuhanku.
Khwajah - Guru Murshid, Syeikh.
Khwajagan - Kata jamak bagi Khwajah.
Kiamat / Qiyamat - Hari tertegaknya perhitungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
L
Laduni – Ilmu yang dipancarkan langsung oleh Tuhan ke lubuk hati manusia tanpa melalui belajar
La Ilaha Illa Allah - Tiada Tuhan Melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Lafaz - Sebutan.
Lahut – Sifat Ketuhanan
Lataif - Kata jamak bagi Latifah.
Latifah - Kehalusan sifat Rohani.
Lisani - Ingatan yang dilakukan menerusi lidah
M
Mabda - Tempat permulaan
Mabda Faidhz - Tempat sumber permulaan Faidhz
Mahabbah – Cinta
Makhafah – Perasaan takut kepada Allah da selalu ingat kepadaNYa kepada Allah SWT
Maqam – Kedudukan kerohanian
Maqamat – Tingakatan atau tahapan dalam mendekatkan diri
Ma’rifat – Pengetahuan yang sangat jelas dan pasti ntang Tuhan yang diperolehi melalui sanubari
Masjid - Tempat mendirikan solat berjemaah
Majzub - Seorang yang ditarik menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mahabbat - Cinta, kasih sayang
Malaikat - Makhluk Allah yang diciptakannya dari cahaya dan taat kepadaNya.
Malakutiyah - Sifat-sifat Malaikat
Malfuzat - Kata-kata, ucapan, perkataan yang dilafazkan
Maliki - Mazhab Imam Malik Bin Anas Rahmatullah ‘alaihima
Maqam - Tempat kedudukan
Masyaikh - Kata jamak bagi Syeikh
Maulana - Tuan Guru
Maulawi – Guru
Maulawiyah – Tareqat Maulana Jalalaluddin Rumi (672/1273M
Mawahib – anugerah ilahiyah
Mawrid Faidhz - Tempat yang hendak dilimpahkan Faidhz Mazhab - Jalan anutan Para Imam Ahlus Sunnah
Mi’raj - Perjalanan Ruhani dari tempat rendah ke tempat yang tinggi.
Mu’aqabah – Sangsi terhadap- pelanggaran
Mubatadi – Pemula
Muhadharah – Perasaan hadirnya Allah dalam hati
Muhasabah – perhitungan
Muhasanah – Memperbaiki keadaan diri masa kini
Mujaddid - Seorang yang memperbaharukan Agama Islam
Mujaddidiyah - Nisbat kepada Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani.
Mujahadah - Jihad melawan hawa nafsu
Mukasyafah – Terbuaknaya tadbir antara diri dengan Alah SWT
Mumkinat – Mungkin
Munfaridun – Orang-orang yandgselalu berzikir ingat kepada Allah SWT
Muntahi – Tingkat akhir
Muqaddimah - Pendahuluan
Muqarrabin - Orang-orang yang mendekatkan diri dengan Allah Ta’ala.
Muraqabah - Berjaga-jaga menantikan limpahan Faidhz dari Allah Ta’ala
Murshid - Syeikh, pembimbing Rohani
Murid - Seorang yang berkehendak kepada ilmu
Murad - Sesuatu yang dikehendaki
Musyahadah - Ihsan, Syuhud, menyaksikan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Mutabarikun – Orang-orang yeng terlibat dalam pemberkatan
Mutawassit - Pelanjut
N
Nabawiyah - Kenabian
Nafi - Menidakkan
Nafi Itsbat - Ucapan kalimah LA ILAHA ILLA ALLAH
Nafs - Latifah Alam Khalaq
Nafsu - Kehendak yang bersifat Duniawi
Naqsh - Ukiran
Naqshband - Ukiran yang terpahat
Naqshbandiyah - Nisbat kepada Tariqat Shah Bahauddin Naqshband Rah. ‘alaih
Nasut – Alam kemanusiaan
Nazar - Memandang
Nigah - Berjaga-jaga, memerhati
Nisbat – Pe rtalian hubungan
Nubuwwah - Kenabian
Nur – Cahaya
Nur Muhamma – Cahaya Muhammad
P
Pir - Syeikh, Murshid, Khalifah, pembimbing Rohani.
Q
Qadam - Kaki.
Qadiriyah - Nisbat kepada Tariqat Hadhrat Syeikh Abdul Qadir Jailani Rah.‘alaih.
Qadiriyah Naqsyabandiyah – Nisbat kepada tareqat yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib sambas (Wafat 1878M) seorang sufi besar dari Indonesia yang bermukim di Mekah
Qalb - Latifah Alam Malakut di Alam Amar.
Qalbi - Ingatan yang dilakukan dengan hati.
Qalbu - Hati.
Qalibiyah - Empat Latifah Alam Khalaq iaitu Tanah, Air, Api dan Angin.
Qana ‘ah - Bersederhana dalam segala urusan kehidupan.
Qaus - Maqam muraqabah di dalam Daerah Wilayah Kubra.
Qawali – Nyanyian sufi dalam bahasa Urdu dan Persia
Qiblah - Arah panduan.
Qurb – Kedekatan kepada Allah
Qutub - Seorang wali yang mencapai kedudukan tertinggi dan menghuraikan ilmu Hadhrat Baginda Rasulullah s.a.w.
Qutubul Aqtab - Wali Qutub yang bertanggungjawab ke atas sekelian Wali Aqtab.
R
Rabitah - Menghubungkan diri dengan Syeikh secara jasmani mahupun rohani.
Rabbani - Pemelihara, pemberi tarbiyah.
Raja’ - Berharap
Redha - Menerima Qada dan Taqdir Allah dengan lapang dada.
Rifaiyah – Nisbat kepada Tareqat Syaikh Ahmad Rifai (1182m)
Riyadah – latihan-latihan kerohanian
Rohani - Sesuatu yang bersifat kekal pada diri manusia.
Rahmat - Kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ruh - Latifah Alam Jabarut di Alam Amar.
S
Sabar - Tetap dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat.
Safar - Perjalanan.
Safar Dar Watan - Merantau di Alam Amar.
Salafus Soleh - Orang-orang Soleh yang terdahulu.
Salik – Penempuh jalan kerohanian
Sanad - Sijil.
Sair - Berjalan, bersiar-siar, merantau.
Sair Afaqi - Perjalanan di luar diri.
Sair Anfusi - Perjalanan di dalam diri.
Sanusiyah – Dinisbatkan tareqat kepada Syaikh Muhammad Ibn Ali Sanusi Al Idrisi
Shadiqun – Orang-orang yang jujur
Shidiqun – orang yang benar dan tulus
Sir - Latifah Alam Lahut di Alam Amar.
Solat - Sembahyang.
Sohbet - Berdamping, bersahabat.
Salik - Seseorang yang dalam perjalanan menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sirhindi - Nisbat kepada tempat Hadhrat Imam Rabbani.
Sayyid - Seorang yang berketurunan Hadhrat Baginda s.a.w.
Shauq - Keseronokan.
Syadziliyah – Nisbat Tereqat Syaikh Aul Hasan As –Syaziliyah (1258M)
Syafi‘I - Mazhab Imam Syafi‘i Rahmatullah ‘alaih.
Syaitan - Musuh yang nyata bagi orang-orang beriman
Syeikh - Pembimbing rohani.
Syeikhul Masyaikh - Syeikh kepada Para Masyaikh, Guru sekelian guru.
Syukur - Berterima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Silsilah - Kesinambungan rantaian sesuatu hubungan.
Subhanahu - Maha Suci Dia.
Sufi - Seorang yang membersihkan hati dari ingatan selain Allah Ta’ala.
Suhrawardiyah – Dnisatkan kepada Syaikh Abu Najib As-Suhrawardiyah
Sukr –Kemabukan kerohanian
Suluk - Perjalanan khusus menuju Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sunnah - Amalan Hadhrat Baginda Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
Syaikh – Guru Kerohanian
Syari‘at - Hukum hakam Agama Islam.
Syarif - Mulia
Syafa‘at - Pertolongan dan belas kasihan.
Syatariyah – Dinisbatkan kepada Syaikh Abdullah Syattar (wafat 1482 H)
Syawq- Kerinduan
Syuhud - Ihsan, musyahadah.
T
Ta’ala - Maha Memiliki Ketinggian.
Ta’ayyun – Ketepatan hati
Tabligh - Menyampaikan kebenaran Agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Taffakur – Perenungan terhadap sesuatu
Tahalli – Menghiaskan diri dengan perbuatan baik
Tajalli - Manifestasi, penzahiran.
Takhalli – Penarikan diri dari segala sesuatu
Takhliyyah - Pengosongan
Talqin - Menyebut dan mengajarkan sesuatu kalimah zikir.
Tanzih – Pembersihan dari noda
Tanazzul – Penyingkapan Tuhan dari kegaiban kea lam penampakan
Taqwa - Mentaati perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. dan RasulNya Sallallahu ‘Alaihi Wasallam serta meninggalkan laranganNya
Taslim Penyerahan
Taubat - Perjanjian tidak akan mengulangi dosa.
Taufiq - Asbab kemampuan untuk melakukan ketaatan.
Tariqat - Jalan khusus menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tasawwuf - Ilmu tentang membersihkan hati.
Taskiyyah - Penyucian
Taslim - Menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tauhid – Mengakui yang Maha Esa
Tawajjuh - Memberikan penumpuan.
Tawakkal - Berserah diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tijaniyah – Dinisbatkan tareqat kepada Syaikh Abas Ibnu At-Tijani (1815H)
Tilawah - Pembacaan Al-Quran secara lancar.
U
Ubudiyyah – Penghambaan
Uluhiyyah - Ketuhanan
Ulul ‘Azmi - Lima Nabi yang tertinggi dan teragung darjatnya iaitu Hadhrat Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Hadhrat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam,Hadhrat Nabi Musa‘Alaihissalam, Hadhrat Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam dan Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Uwaisi / Uwaisiyah - Nisbat Ruhaniah secara batin dengan seseorang Ahlullah yang jauh samada yang masih hidup ataupun yang sudah mati.
Uzlah – Mengasingkan diri
W
Wajd – Kegembiraan luar biasa
Wahdah – Kesendirian Tuhan
Wahiddiyah - Ketunggalan
Wali - Seorang wakil bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kalangan manusia.
Waqt – Masa sekarang
Wara’ - Memperbanyakkan amalan ibadah.
Warid - sesuatu yang terhasil dari amalan zikir.
Wasilah – Kedekatan dengan Allah
Wazifah - Amalan zikir yang khusus.
Wijdani - Suatu pengalaman yang dapat dirasai secara nyata.
Wilayah – Kewalian
Wirid – Sruan yang mengadung permohonan tertentu kepada Allah SWT
Wuquf - Hentian tetap.
Wuquf Qalbi- Menumpukan kepada hati dan hati menumpukan kepada Allah Ta’ala.
Wuquf ‘Adadi - Menumpukan kepada bilangan yang ganjil ketika berzikir Nafi Itsbat.
Wuquf Zamani - Menumpukan kembali ingatan kepada Allah selepas beberapa jam.
Y
Yad - Ingat, zikir.
Yad Dasyat - Zikir yang bersungguh-sungguh.
Yakin – Kepercayaan yang kukuh
Z
Zauq - Kelazatan.
Zamani - Berkaitan dengan masa.
Zat - Hakikat diri.
Zat Allah- Allah SWT dalam diriNya sendiri
Zauq - Rasa
Zihni - Kewujudan sesuatu di ruang fikiran.
Zikir - Mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Zikir Allah – Terdiri dari Tahmid (Al Hamdulillah), Tasbih ( Subahanallah), Takbir (Allahu Akbar), Tahlil (La Ilaha Illallah), Basmalah (Bismillahhirah manirahim), Istighfar (Astaghfirullah). Hawqalah (La hawlawala Quwata illa billah),
Zuhud - Meninggalkan kesenangan dan kelazatan Duniawi.
Zuriat - Anak-anak