Tampilkan postingan dengan label Rasulullah Luarbiasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah Luarbiasa. Tampilkan semua postingan

KESABARAN JUNJUNGAN RASULULLAH DALAM BERDAKWAH..(7) (AKHLAK SABAR SAW)

Anas bin Malik radhiyallahu `anhu pernah mengatakan : “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam saat beliau mengenakan jubah dari Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab gunung dan menarik jubah beliau secara keras. Akibat perbuatannya itu, aku melihat bekas tarikan tersebut pada sisi pundak beliau. Kemudian dia (orang Arab gunung itu) berucap : ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah, bahwa harta Allah yang ada padamu untukku.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melihat kepadanya dan tersenyum seraya memerintahkan untuk memberikan harta kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Contoh lain adalah kisah Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami, yang mengatakan : “Ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang dari satu kaum yang bersin. Maka aku mengucapkan yarhamukallah. Ketika semua orang melemparkan pandangannya kepadaku, sehingga aku berkata : ‘Duhai ibuku yang kehilangan aku, ada apa kalian melihatku?’ Mereka lalu menepuk tangan mereka ke pahanya. Ketika aku lihat, mereka menyuruh aku diam, lantas aku pun diam.
Setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selesai shalat –dengan bapak dan ibuku– sungguh aku belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lebih baik pengajarannya dari beliau shallallahu `alaihi wa sallam. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencelaku.
Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit pun ada ucapan manusia. Sesungguhnya shalat adalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.’ “ (HR. Muslim dalam kitab Masajid bab Tahrimul Kalam fish Shalah)
Demikian pula sikap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap seorang pemuda yang meminta ijin untuk berzina. Seperti diungkapkan Abu Umamah : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu, orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya mengatakan, ‘Mah, mah!’ Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’ Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi (khalah) mereka.’ ” Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan : “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ “ (Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370)
Kelembutan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun ditunjukkan pula terhadap seorang Arab gunung lainnya yang kencing di masjid.
Anas bin Malik mengisahkan : “Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab kampung. Orang itu lantas berdiri dan kencing di masjid. Maka (bangkitlah) para shahabat Rasulullah membentaknya seraya membentak, ‘Mah, mah!’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lantas mencegah para para sahabat sambil bersabda, ‘Jangan kalian putuskan kencingnya. Biarkan dia.’ Maka para shahabat pun membiarkannya sampai ia selesai. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memanggilnya dan menasehatinya, ‘Sesungguhnya masjid ini tidak patut sedikit pun untuk tempat buang air, (begitu pula) buang untuk kotoran. Masjid ini merupakan tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an.’ Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil seember air dan menyiramkannya.” (HR. Muslim)
Tidak hanya sampai di sini, kesabaran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam terhadap orang-orang bodoh. Bahkan, dalam riwayat Bukhari masih berlanjut kisah orang Arab gunung tersebut. Yaitu, ketika Rasulullah dan para shahabat shalat bersamanya, maka orang tadi berdoa dalam shalatnya, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah engkau rahmati seorang pun selain kami.” Maka ketika selesai shalat beliau bersabda, “Sungguh engkau telah mempersempit yang luas.” Yang dimaksud adalah rahmat Allah yang luas. Demikianlah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyikapi seorang yang memang bodoh, membutuhkan pengajaran dan pendidikan. Ketika orang Arab gunung itu setelah faqih (memahami agama) dia katakan, “Ayah dan ibuku sebagai jaminan. Sungguh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bangkit kepadaku tanpa mencela, menghardik atau pun memukulku.” Selain itu kita juga dapati sifat ta`anni beliau shallallahu `alaihi wa sallam ketika para shahabat membentak si orang gunung tersebut. Beliau malah mengatakan, “Biarkan dia”. Hal itu karena beliau berfikir dan melihat sisi hikmah, yaitu jika dibentak dan diganggu ketika dia sedang buang air, akan membawa dampak negatif yang lebih banyak. Bisa jadi najis dari kencingnya akan berceceran di tempat yang lebih luas, atau najis itu bisa saja mengenai pakaiannya. Bahkan, justru akan menjadikan penyakit bagi orang tersebut karena menahan kencing dan lainnya. Demikianlah semestinya sikap seorang mukmin, apalagi dia seorang da’i. Janganlah segera bersikap emosional, bersifatlah ta`anni.
Perlakukanlah orang-orang awam dan jahil dengan sabar serta ajarilah mereka dengan lemah lembut. Adapun orang-orang bodoh yang tidak mau mengerti perkataan orang, tinggalkanlah dan hindarilah dia dengan baik dan ucapkanlah ucapan yang baik. Allah berfirman dalam mengungkapkan sifat hamba-hamba-Nya : “Hamba-hamba Allah yang Maha Rahman adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (Al-Furqan: 63) Saat menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Yaitu jika orang-orang bodoh mengganggu mereka dengan ucapan yang jelek, mereka tidak membalasnya dengan yang semisal. Bahkan mereka memaafkan dan memaklumi serta tidak mengucapkan selain kebaikan semata. Sebagaimana Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak membalas kerasnya kejahilan seseorang melainkan dengan kelembutan yang amat sangat.”
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, seorang mencela orang lain kemudian orang yang dicela tersebut mengatakan alaikas salam (semoga keselamatan atasmu). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang mendengar ucapan itu langsung menegur, “Ketahuilah, sesungguhnya malaikat (yang menyaksikan) di antara kalian berdua membelamu. Setiap dia mencelamu malaikat itu berkata, ‘Bahkan engkau! Engkau lebih berhak dengannya!’ Sedang ketika engkau mengucapkan kepadanya, ‘alaikas salam,’ malaikat itu berkata, ‘bahkan atasmu! Engkau lebih berhak dengannya.’ “ (HR. Ahmad 5)
Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan berpaling dari orang-orang bodoh.“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A`raf: 199)
Berkenaan dengan ayat ini, kita tengok riwayat Umar bin Khattab. Dikatakan Ibnu Abbas : “Uyainah bin Hishn bin Huzaijah datang dan singgah di rumah saudaranya, Al-Har bin Qais. Beliau adalah salah seorang yang dekat dengan Umar bin Khattab. Pada waktu itu para pembaca Al Qur’an merupakan teman-teman duduk Umar dan tempat bermusyawarah, baik orang tua atau pun pemuda. Berkatalah Uyainah kepada anak saudaranya itu, ‘Wahai anak saudaraku, engkau memiliki kedudukan di sisi khalifah. Maka mintalah ijin agar aku diperkenankan menemuinya.’ Berkatalah Al-Har, ‘Aku akan mintakan ijin untukmu.’ ”
Ibnu Abbas mengungkapkan kisah selanjutnya : “Kemudian Al-Har bin Qais memintakan izin kepada Umar. Seketika itu Umar mengizinkannya. Ketika menghadap Umar, Uyainah ucapkan, ‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, engkau tidak memberi kami banyak. Tidak pula menghukumi kami dengan adil.’ Lantaran itu, marahlah Umar. Nyaris dilakukan sesuatu oleh Umar terhadapnya. Tetapi Al-Har malah mengucapkan, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al A’raf :199) Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang bodoh.” Demi Allah, Umar radliyallahu `anhu tidak melampaui apa yang dikatakan dalam ayat tersebut. Beliau memang seorang yang selalu ‘berhenti’ pada apa yang dikatakan pada kitab Allah.” (HR. Al-Bukhari, Demikianlah sikap Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika diberitahu bahwa ia (yang menghadap beliau) adalah orang bodoh. Sikap beliau tidak keluar dari apa yang dikatakan oleh Allah : “Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

CARA JUNJUNGAN RASULULLAH MENGAWAL SIFAT MARAH...(6) (AKHLAK SABAR SAW)

Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi s.a.w. dengan maksud ingin meminta sesuatu  pada Baginda. Nabi s.a.w. memberinya, lalu bersabda, “Aku berbuat baik kepada mu.” Badwi itu berkata, “pemberianmu tidak baik padamu.” Para sahabat rasa tersingguing, lalu mengugutnya dengan marah, namun Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.

Kemudian Nabi s.a.w. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan kepada Badwi itu. Nabi bersabda pada Badwi itu, “Aku berbuat baik pada mu?” Badwi itu berkata, “Ya, semoga Allah membalas kebaikan uan, keluarga dan kerabat.”

Keesokan harinmya, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada para sahabatnya, “Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar itu engkaui dengar, kemudian engkau tidak bersabar dan engkau membunuhnya, maka ia pasti masuk neraka. Namun, kerana saya bimbing dengan baik, maka ia selamat.” Beberapa hari selepas itu, si Badwi bersedia untuk di beri perintah bagi melaksanakan tugas penting yang berat mana sekali pun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan redho.

Rasulullah s.a.w. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak marah menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karekternya. Kalaupun saat itu dilakukan hukuman terhadap si Badwi itu , tentu hal itu bukan satu kezaliman, namun Rasulullah s.a.w. tidak berbuat demikian.

Baginda tetep sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, Nabi Muhammad s.a.w. ingin menunjukkan pada kita bahawa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya dari pada harta benda yang bertimbun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang berlonggok yang di pakai untuk makanan unta yang ganas. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan keperluannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan boleh di gunakan untuk menempuh perjalanan jauh.

Adakala, Rasulullah s.a.w. juga marah, Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun Baginda lakukan bukan kerana masaalah peribadi melainkan kerana kehormatan agama Allah.

Rasulullah bersabda:”Memaki hamun orang Mukmin adalah fasik(dosa) dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam).”(riwayat Bukhari).

Sabdanya lagi: “Bukanlah seorang Mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (riwayat At Tarmizi)

JUNJUNGAN JILID 1: KESABARAN RASULULLAH MENGHADAPI ANCAMAN PUAK QURAISY (5) (AKHLAK SABAR SAW)

Sesudah putus asa karena menghalangi Nabi Muhammad dengan cara kekerasan ternyata tidak menggentarkan Rasulullah saw dan para pengikutnya, Abu Jahal lalu mendatangi Abu Thalib, paman dan pelindung Rasulullah. Abu Jahal meminta agar disampaikan kepada Muhammad bahwa ia akan memberikan apa saja yang dikehendaki Muhammad; gadis-gadis yang paling cantik, harta kekayaan yang melimpah, atau kedudukan terhormat dalam jajaran kepemimpinan bangsa Arab. Abu Thalib segera menyampaikan tawaran Abu Jahal dan suku Quraisy itu kepada Nabi saw.
Dengan tegar Nabi mengatakan, “Demi Allah, wahai pamanku. Andaikata diletakan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, supaya saya menggagalkan perjuangan menegakan kebenaran, saya takkan surut, sampai tercapai kemenangan atau saya hancur binasa dalam perjuangan.” Itulah benih kegigihan dan ketangguhan Rasulullah semenjak awal perjuangan. Ternyata sifat beliau tidak berubah walaupun sudah berhasil menjadi pemimpin umat yang agung dan disegani.
Pada suatu malam terdengar ribut-ribut diluar kota Madinah. Para sahabat mengira musuh sedang bergerak hendak menyerang kota. Waktu itu Nabi saw sedang tidur. Jadi para sahabat sepakat untuk tidak memebritahukan Rasulullah sebab mereka tahu Nabi amat lelah. Mereka segera memberangkatkan sepasukan tentara menuju ke arah terjadinya ribut-ribut itu. Di tengah perjalanan, sebelum tiba ke tempat itu mereka berpapasan denga Rasulullah yang sedang mengendarai kuda hendak kembali ke Madinah. Di pinggangnya terselempang sebilah pedang.
Nabi berkata, “Wahai para sahabatku yang setia. Pulang sajalah kita ke Madinah. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada musuh. Aman belaka. Yang ribut-ribut tadi hanya suara kuda yang kedinginan.” Alangkah malunya para sahabat. Ternyata mereka kalah tanggap dan kalah cekatan dibandingkan Rasulullah saw yang disangka masih tertidur lelap di pembaringan.
Dalam suatu peperangan, Nabi terlau capai sampai lengah, beliau terduduk di bawah sebatang pohon tanpa sebilah senjata pun. Seorang pendekar kaum musyirikin yang ditakuti, tiba-tiba muncul di hadapannya, berdiri berkacak pinggang pada saat Nabi terkantuk-kantuk.
Dengan suara lantang, dedengkot musuh yang bernama Da’tsur itu menghardik Rasulullah sambil mengacungkan pedangnya, “Hai Muhammad. Siapa sekarang yang dapat menyelamatkanmu dari keganasan pedangku?”
Nabi tersentak sekejab, lalu menatap mata Da’tsur lurus matanya. Da’tsur tergetar melihat pandangan yang yang sejuk tetapi tidak kenal takut itu. Nabi menjawab tenang, “Karena sebagai manusia, aku sudah tidak punya daya, tiada lagi yang akan melindungi diriku kecuali Allah?”
Da’tsur menggigil mendengar jawaban itu. Macam apa pula kekuatan Allah yang disebut-sebut Muhammad itu, sampai ia yakin Allah pasti melindunginya? Kebimbangannya kian bertambah menyaksikan Nabi tetap tabah, sampai akhirnya pedang Da’tsur terlepas dari genggamannya dan jatuh.
Nabi segera mengambil pedang itu lantas mengacungkannya kepada Da’tsur, “Nah, kini siapakah yang akan menyelamatkanmu dari pedangku?” Dengan bibir bergetar Da’tsur menjawab, “Hanya engkau Muhammad yang dapat menyelamatkanku. Sungguh, hanya engkau belaka.”
Namun Nabi bukanlah tipe pemimpin yang suka menyimpan dendam. Beliau tidak ingin membelas kekerasan dengan kekerasan. Maka beliau segera menyerahkan pedang itu kembali pada Da’tsur selaku pemiliknya. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, kelak Da’tsur masuk Islam, dan menjadi pahlawan membela agama.

JUNJUNGAN JILID 1: KESABARAN RASULULLAH WAKTU MARAH...(4) (AKHLAK SABAR SAW)

Ketika Rasulullah sedang duduk-duduk di tengah para sahabatnya, salah seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos barisan jama’ah yang melingkarinya, seraya menyambar kain Rasulullah dan menghardiknya dengan kasar. Katanya, “Ya Muhammad! Bayarlah hutangmu. Kamu keturunan Bani Hasyim biasa memperlambat pelunasan.”
Pada waktu itu Rasulullah memang punya hutang kepada orang Yahudi itu, namun belum jatuh tempo. Umar yang melihat peristiwa itu langsung bangkit dan menghunus pedangnya, seraya memohon iin. Ucapnya, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku memenggal leher bedebah ini!”
Tetapi Rasulullah bersabda, “Ya Umar, aku tidak disuruh berdakwah dengan cara begitu. Antara aku dan dia memang sedang membutuhkan kebijaksanaanmu. Suruhlah dia menagih dengan sopan dan ingatkanlah aku supaya melunasinya dengan baik.”
Mendengar sabda Rasulullah tersebut, orang Yahudi itu berkata, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Sebenarnya aku tidak datang untuk menagih hutangmu, namun aku datang untuk menguji akhlakmu. Aku tahu, tempo pelunasan utang belum tiba waktunya. Akan tetapi aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat, dan ternyata terbukti semua, kecuali satu sifat yang belum aku uji, yaitu kebijakkanmu bertindak pada waktu marah. Ternyata tindakan bodoh yang ceroboh sekalipun engkau dapat mengatasinya dengan bijaksana. Itulah yang aku lihat sekarang ini. Maka terimalah Islamku ini, ya Rasulullah,

“Asyhadu alaa ilada illallah wa annaka ya Muhammad Rasulullah”


“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah.”

Cara bersabar dengan membiarkan orang marah tanpa melyaninya merupakan cara efektif dakwah Rasulullah yang sering beliau lakukan. Kesabaran beliau malah mendapat simpati dari seorang Yahudi sehingga dengan kesadarannya sendiri mau memeluk agama Islam.

JUNJUNGAN JILID 1: SABARNYA RASULULLAH KETIKA DILUDAH (3) (AKHLAK SABAR SAW)



Bukan hanya sekali saja Nabi dihina. Bahkan ada seorang wanita tua yang berani mencerca Nabi. Setiap kali Nabi melintas muka rumahnya, kala itu pula si wanita meludahkan air liurnya, “cuh,cuh,cuh.” Peristiwa itu berulangkali terjadi, bahkan hampir setiap hari.

Suatu kali, ketika Nabi lewat di depan rumahnya, si wanita tadi tak lagi meludahinya. Bahkan, batang hidungnya saja tak kelihatan pula. Nabi pun menjadi “kepingin” akan air ludah si wanita tadi. Karena penasaran, Nabi lantas bertanya kepada seseorang, “Wahai Fulan, tahukah engkau, dimanakah wanita pemilik rumah ini, yang setiap kali aku lewat selalu meludahiku?”

Orang yang ditanya menjadi heran, kenapa Nabi justru menanyakan, penasaran, dan tak sebaliknya merasa kegirangan. Namun, si Fulan tak ambil peduli, oleh karenanya ia segera menjawab pertanyaan Nabi, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa si wanita yang biasa melidahimu sudah beberapa hari terbaring sakit?”
Mendengar jawaban itu Nabi mengangguk-angguk, lantas melanjutkan perjalanan untuk ibadah di depan Ka’bah, bermunajat kepada Allah Pemberi Rahmah.
Sekembalinya dari ibadah, Nabi singgah  menjenguk wanita peludah. Ketika tahu, bahwa Nabi, orang yang tiap hari dia ludahi, justru menjenguknya, si wanita menangis dalam hati. “Duhai betapa luhur budi manusia ini. Walaupun  tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjenguk kemari.” Dengan menitikan air mata haru bahagia, si wanita bertanya, “Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?”

Nabi menjawab, “Aku yakin, engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau mengetahuinya, aku yakin engkau tak akan lagi melakukannya.”

Mendengar ucapan bijak dari manusia utusan Allah swt ini, si wanita menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya serasa tersekat. Lantas, setelah mengatur nafas akhirnya ia dapat bicara lepas, “Wahai Muhammad mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Lantas si wanita mengikrarkan dua kalimat syahadat.

JUNJUNGAN JILID 1: SABARNYA RASULULLAH LAYANI KERENAH PENGEMIS YAHUDI BUTA , YA ALLAH...(2) (AKHLAK SABAR SAW)



Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sehinggalah baginda wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abu Bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu," wahai Anakku, adakah kebiasaan  kekasihku yang belum aku kerjakan? "Aisyah RA menjawab,"Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja""Apakah Itu?", tanya Abu Bakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana", kata Aisyah RA. Maka keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar RA pun mendatangi pengemis itu, lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil mengherdik, "Siapakah kamu?" Abu Bakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).""Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," bantah si pengemis buta itu."Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW" . Air mata Abu Bakar tidak lagi dapat di tahan-tahan dari bercucuran Seketika itu juga pengemis pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun,ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia...."
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bolehkah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niat untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Ya Rasulullah.. ampuni kami kerana masih gagal mengikuti sunnah Mu

JUNJUNGAN JILID 1: RASULULLAH MENGAJARKAN KESABARAN (1) (AKHLAK SABAR SAW)



Suatu hari, Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar ash-Shidiq r.a.. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.
Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!”
Rasulullah menjawab, “Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah.”
Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya. Setelah itu menangislah Abu Bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.
Semoga cerita Rasulullah SAW dan Abu Bakar as-Shiddiq di atas di atas bisa menjadi inspirasi bagi kita dalam menyikap sabar hingga kita mendapat kemuliaan dari Allah SWT. Meskipun di tengah kerasnya kehidupan ibukota, namun bukan sesuatu yang mustahil menjalankan sunnah kesabaran dari Rasul SAW. Bahkan, kita akan mendapat ganjaran pahala yang besar bila kita mengamalkan sunnah di tengah sangat jarangnya orang menerapkan ajaran Rasulullah SAW tersebut.
.