Tampilkan postingan dengan label Risalah Muawanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah Muawanah. Tampilkan semua postingan

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 12 : MELAKSNAKAN FARDHU DAN PERBANYAKKAN SUNNAH

(SAYIID SYEIKH ABDULLAH AL HADDAD  PENGASAS  TAREKAT HADDADIYYAH)

Dan wajib bagi kamu untuk melaksanakan fardhu/ kewajiban serta menjauhi perbuatan yang haram dan wajib pula memperbanyak amalan sunah. Maka sesungguhnya engkau jika dapat melaksanakan hal yang demikian secara ikhlas liwajhiLlah, karena Allah Yang Maha Mulia maka engkau akan berhasil mencapai kedekatan yang sesungguhnya dengan Allah Ta’ala. Dan Allah pun akan memberikan kepada engkau pakaian mahabbah / cinta kepadaNya yang melingkupi dan mempengaruhi dari mahabbah tersebut akan segala tingkah laku gerak dan diammu semata-mata karena Allah dan dengan Allah (liLlah dan BiLlah). dan itulah mahkota kewalian dan mahkota kekhalifahan yang di isyaratkan oleh junjungan kita baginda RasuluLlah SAW dengan sabda beliau yang meriwayatkan dari Allah SubhanaHu wata’ala, “sesungguhnya Allah Ta’ala berifrman, Tiada sekali-kali hambaKu mendekatkan diri kepadaKu yang lebih Aku cintai daripada mereka yang mengerjakan apa yang Aku fardhukan kepada mereka. Dan tidak henti-hentinya hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan mengerjakan amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya  maka Aku menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, dan menjadi penglihatannya ketika ia melihat, dan menjadi tangannya ketika ia memegang, dan menjadi kakinya ketika ia berjalan. Jika ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri, jika ia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Aku beri perlindungan…..

Oleh karena itu lihatlah…semoga Allah merahmatimu, akan beberapa rahasia / asrar dan beberapa pengetahuan yang tertuang dalam hadits Qudsi di atas, dan perhatikanlah dengan sungguh-sungguh secara mendetail apa yang termaktub di dalamnya tentang apa saja yang dapat menghantarkan seorang hamba untuk sampai kepada derajad yang sedemikian tinggi yaitu menjadi kekasih ALlah. Sehingga apa yang ia cintai adalah sesuatu yang dicintai Allah demikian pula apa yang  ia benci adalah  apa yang Allah benci, dan semua itu tidak tercapai kecuali dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan memperbanyak amalan sunah yang dicintaiNya dengan mengharapkan kebahagiaan di sisiNya. Oleh karena itu bersegeralah jika memang engkau memiliki cita-cita untuk dapat sampai kepada derajat kesempurnaan dan jika pula engkau menginginkan sampai pada derajad rijal dimana telah jelas dan teranglah jalan untuk menuju kesana.

Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Ta’ala dengan kemurahanNya dan ke baikanNya telah menjadikan amal sunnah sebagai penambal kekurangan dari amalan fardhu yang sesuai dengan yang sejenisnya, semisal Shalat fardhu dengan shalat sunah , puasafardhu dengan puasa sunah. Dan Fardhu adalah pokok / dasar sedangkan sunah adalah cabang atau yang mengikuti amal fardhu. Dan orang-orang yang mengerjakan kewajiban fardhu, dan menjauhi perbuatan haram namun tidak melakukan ibadah sunah adalah lebih baik daripada orang yang bersungguh-sungguh melakukan ibadah sunah akan tetapi melalaikan ibadah fardhu.

Dan takutlah kamu untuk meninggalkan ibadah fardhu dan lebih mengutamakan ibadah sunah maka engkau akan berdosa dengan meninggalkan keutamaan ibadah fardhu dan Allah tidak akan menerima ibadah sunahmu. Hal yang demikian dapat terjadi seperti orang yang menyibukkan diri dengan ilmu tentang amalan sunah dan meninggalkan mempelajari ilmu tentang fardhu baik dalam dhahir maupun bathinnya.

Dan ketahuilah sesungguhnya engkau tidak akan sampai kepada melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah kepadamu dari perbuatan ta’at, demikian pula menjauhi dalam hal enjauhi apa yang dilarangNya untukmu dari beberapa ma’siyat dan pula dari beberapa cara mengerjakan amalan sunah yang dapat mendekatkan dirimu kepadaNya kecuali dengan ilmu. Maka wajib bagimu mencari ilmu tersebut, dan telah bersabda RasuluLlah SAW ,”Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap orang islam . Dan dengan ilmu engkau akan mengetahui hal yang wajib adalah wajib dan yang haram adalah haram, demikian pula yang sunah adalah sunah. dan pula engkau mengetahui bagaimana cara mengerjakan yang wajib dan sunah dan meninggalkan yang haram. oleh karena itu tidak boleh tidak engkau memiliki ilmu yang demikian. dan tidak ada alasan bagimu untuk tidak membutuhkan ilmu ini, dan mengamalkannya dan selalu mempelajarinya dimana dengan  mengamalkannya maka engkau akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dan ketahuilah sesungguhnya engkau tidak akan mampu melaksanakan apa yang diwajibkan bagi kamu oleh Allah SWT berupa keta’atan, demikian pula dalam menjauhi apa yang dilarang Allah SWT berupa amalan maksiyat demikian pula dalam menjalankan suari’at yang diperintahkan kepadamu dari amalan sunah yang dapat mendekatkan dirimu kepada Allah SWT dan dapat menyelamatkanmu kecuali dengan ilmu. Maka wajib bagi kamu untuk mencari ilmu, sebagaimana telah bersabda RasuluLlah SAW, “thalabul ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslimin wamusliimatin” yang artinya, mencarim ilmu adalah wajib bagi orang Islam laki-laki dan perempuan”. Dan dengan ilmu engkau akan mengetahui bahwa yang wajib adalah wajib, dan yang sunah adalah sunah, dan yang haram adalah haram.Demikian juga dengan ilmu engkau akan mengetahui bagaimana cara melaksanakan yang wajib, mengerjakan yang sunah dan meninggalkan yang haram.

Oleh karena itu tidak boleh tidak bagi kamu untuk memiliki ilmu Karena yang demikian ini akan mencukupkanmu untuk memperoleh kebahagiaan diadunia dan di akhirat. Dan ketahuilah sesungguhnya seseorang yang beribadah kepada Allah SWT tanpa didasari dengan ilmu yang benar, maka bahaya yang ditimulkan kepada orang yang melaksanakannya disebabkan ibadahnya itu lebih besar daripada manfaat. Yang dihasilkannya. Berapa orang yang beribadah hanya memayahkan dirinya saja dalam ibadahnya, sementara itu ia selalu bermaksiyat kepada Allah SWT sedangkan ia merasa itu adalah keta’atan atau apa yang ia lakukan itu bukanlah maksiyat.

Asy-Syaikh Al ‘Aarif billah Muhammad ibnu ‘Arabi menyatakan pada bab wasiyat yaitu seseorang dari ahlil Maghrib yang mana sesungguhnya ia adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan ia memelihara hewan ternak akan tetapi ia diamkan saja dan tidak dimanfaatkan. Orang-orang bertaynya kepadanya, “mengapa engkau tidak mengambil manfaat dari binatang ternak itu “?. Iapun menjawab, sesungguhnya ia aku pelihara hanya aku pergunakan untuk menjaga farjiku. Ia tidak mengetahui bahwa melakukan persetubuhan dengan hewan adalah haram. Maka ketika ia mengetahui bahwa yang demikian itu adalah haram, menangislah dia dengan menangis yang sangat keras ..demikianlah riwayat

Dan ilmu yang wajib bagi setiap Muslim adalah ilmu yang menyebabkan ia mengetahui semua fardhu yang diwajibkan Allah SWT kepadanya, dan megetahui semua yang diharamkan kepadanya.

Dan wajib bagi kamu mengetahui tata cara mengerjakan sesuatu yang wajib. Misalnya orang islam yang telah balig, maka wajib baginya segera mengetahui ma’na dua kalimat syahadat, dan wajib mengetahui kewajiban shalat lima waktu dan apa yang wajib dari shalat tersebut seperti rukun-rukunnya, dan hokum-hukumnya. Dan wajib pula baginya untuk mengetahui wajibnya puasa dan zakat dan haji dan lain sebagainya dari perkara-perkara wajib. Demikian pula wajib baginya mengetahui haramnya zina, meminum khamr, dan mengambil harta orang lain secara bathi. Dll. Akan tetapi belum wajib baginya mengetahui tatacara melakukan puasa dan hajji kecuali ketika ia memasuki bulan Ramadhan, atau ketika ia mampu untuk pergi hajji, demikian pula dengan zakat, maka wajib baginya ketika sampai kepada nishab dan waktu zakat WalLaahu a’lam.

Adapun hal-hal yang diharamkan, dan hal-hal yang wajib yang telah nyata, semua itu telah diketahui bersama diantara kaum Muslimin hampir tidak ada yang tersembunyi. Oleh karena itu yang terpenting adalah mengetahui beberapa hukum dari hal yang tersebut di atas, dan benar pula bahwasanya belum cukup mengetahui hukum saja, akan tetapi perlu juga berinteraksi dengan para alim ulama yang takut kepada Allah SWT

Dan wajib pula bagi kamu untuk selalu malakukan apa yang mereka amalkan, demikian pula menjauhi apa yang mereka tinggalkan karena mengikuti jejak mereka, karena sesungguhnya tidak akan menjadi baik dalam hal mengikuti agama kecuali kepada para alim ulama yang mengamalkan ilmunya. Sesungguhnya pada saat sekarang ini sulitlah dijumpai ulama yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Oleh karena itu apabila pada zaman sekarang ini engkau melihat orang alim yang melakukan sesuatu amalan atau meninggalkan sesuatu yang mungkin disebabkan karena kedunguan dan keabthilan, maka tidak cukuplah pendapat hanya satu orang tersebut dalam meninggalkan atau melakukan sesuatu amal, sehingga engkau menanyakan kepadanya akan alasannya dalam melakukan sesuatu tersebut dari sudut pandang syari’at dan dari sudut pandang hukum di dalam agama Islam.

Dan tidaklah terlalu dibutuhkan bagi seorang Muslim dalam mendapatkan pengetahuan tentang fardhu dll, hingga sampai memakan waktu yang lama, dan hamper yang demikian inidapat menimbulkan kepayahan baginya. Akan tetapi uckup baginya dalam mendapatkan ilmu tadi dengan duduk bersama seorang ulama yang benar-benar bertaqwa satu jam atau dua jam saja, sebagaimana pernah terjadi ada seorang arab badui datang kepada RasuluLlah SAW  dimana beliau SAW sedang berkhutbah di atas mimbar. Orang arab tersebut meminta kepada Nabi SAW untuk mengajarinya tentang agama yang datang dari Allah. Maka turunlah Nabi SAW dari mimbar dan memberinya ilmu , setelah itu beliau SAWnaik lagi ke mimbar dan menyempurnakan khutbah beliau SAW.

Termasuk hal yang demikian, barang siapa yang menginginkan keselamatan dirinya, maka wajib baginya dalam mengerjakan sesuatu sekali kali tidak melakukannya kecuali setelah mengetahui hukum Allah di dalamnya seperti wajib atau sunah, atau mubah atau haram, karena sesungguhnya semua urusan tidak terlepas dari salah satu 4 hukum tadi.

Kemudian orang mukmin terbagi kepada dua bagian, awam dan khusus. Termasuk orang umum/awam terkadang mereka telah meninggalkan hal yang wajib dan mengerjakan hal yang haram, dan yang terbaik dari mereka adalah  mereka yang bersegera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah SWT. Demikian pula mereka tidak menjaga amalan sunnat dan terkadang lalai tenggelam dalam hal-hal yang mubah.

Adapun orang khusus adalah mereka mengerjakan yang wajib, dan meninggalkan yang haram dalam setiap keadaan dan mereka menjaga amalan sunahdan menyedikitkan amalan mubah yang hanya mereka lakukan dalam rangka untuk mendukung menjalankan perintah dan menjaui larangan Allah SWT …

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 11: MEMPERBAIKI IKTIKAD MU

(SAYIID SYEIKH ABDULLAH AL HADDAD  PENGASAS  TAREKAT HADDADIYYAH)

Dan wajib bagi kamu untuk selalu memperbaiki i’tiqadmu dan memperkokohnya atas golongan yang selamat yaitu yang dikenal diantara beberapa golongan Islamiyah seagai i’tiqad Ahlussunah wl Jama’ah. Dan mereka selalu berpegang teguh dengan apa yang datang dari RasuluLlah SAW dan para sahabat. Dan engkau apabila melihat mereka dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati didalam memperhatikan hukum-hukum Al Qur’anul Kariim, dan sunah Rasul yang mengandung ilmu-ilmu keimanan, dan golongan yang berjalan pada jalan ulama salaf dari para sahabat, tabi’in, maka engkau akan membenarkan bahwa kebenaran yang nyata adalah yang sebagaimana di sampaikan oleh golongan Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Syaikh Aby Hasan Al Asy’ary RA yang telah menyusun akidah ahlul haq/ ahli kebenaran yaitu aqidah yang telah disepakati oleh para sahabat dan orang-orang sesudah mereka dari golongan tabi’in. Akidah ini (ahlussunah wal jama’ah) adalah akidah ahli kebenaran dari setiap zaman dan tempat dan iala akidah yang dipakai oleh para ahli tasawwuf sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abul Qasim AL Qusyairy RA dalam permulaan risalahnya , “…Aqidah kami adalah akidah saudara kami dari orang-orang yang mulia yang terkenal dengan Al-Husiainiyyain, yang dikenal pula dengan Aly Aby Alawy dan juga akidah pendahulu kami, mulai dari RasuluLlah SAW hingga saai ini. Dan Imam AL MuhajirSayyid Ahmad bi ‘Isa bin Muhammad bin Aly bin Al Imam Ja’far As-hadiq RA, ketika melihat timbulnya bid’ah dan banyaknya perseteruan dan ikhtilafdi Irak. Maka beliau hijrahlah beliau dari sana, dan berpindah-pindah tempat hingga sampailah di Hadramaut maka menetaplah beliau disana hingga wafatnya. Maka Allah telah memberikan berkah kepada beliau dan pengikut-pengikut beliau sesudahnya yang kemudian membentuk suatu komunitas yang sangat terkenal bagi perkembangan ilmu pengetahuan agama dan juga daalam hal ibadah dan kewalian dan ma’rifah. Dan dengan berkah beliau Al imam Ahmad bin Isa maka senantiasalah tegak akidah islam yang benar dari para Ahli bait Nabi yang senantiasa mereka menentang bid’ah.Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada beliau Sang Imam dan kemudian pula kepada kita semua. Demikian pula semoga Allah mengangkat derajat beliau beserta para pendahulu beliau yang teramat mulia ke tempat yang tinggi di sisiNya dan semoga Allah mempertemukan kita kepada mereka kelak di ahirat sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dan golongan Maturidiyah seperti juga golongan Asy’ariyah/ahlusunnah wal jama’ah.

Dan seharusnya dilakukan oleh setiap orang mukmin untuk selalu memperbaiki i’tiqadnya dengan menjaga aqidah dari para imam yang telah disepakati kebesarannya dan kedalaman ilmunya, sebagaimana aqidah yang suci diuraikan oleh Imam Al-Ghazali RA, yang jauh dari kekeruhan yang telah disusun pada fashal pertama dari kitab qawaa’idul Aqaa’id dari kitab Ihya’ Ulumuddin.Maka wajib bagi kamu menelaah kitab tersebut. Jika kamu ingin yang lebih dari itu maka dapat mempelajari kitab Risalah Al-Qudsiyah yang disusun pada fashal ke tiga dari kitab tersebut. Dan janganlah engkau menyibukkan dirimu dengan ilmu kalam dan memperbanyak pembahasannya dengan harapan akan mencapai ma’rifah karena sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan hakikat ma’rifat melalui ilmu kalam tersebut. Akan tetapi jika engkau benar-benar menginginkan hakikat ma’rifah, maka wajiblah bagi kamu menempuh jalan (suluukuththariiq)yaitu melanggengkan taqwa secara lahir maupun bathin dan selalau berpegangan kepada ayat Al-Qur’an maupun sunah Nabi SAW. Dan lihatlah pada alam semesta di langit dan bumi dengan tujuan mengambil pelajaran dan memperbaiki akhlak diri sendiri dengan membaguskan riyadhah dan menjernihkan cermin hati dengan selalu berzikir dan tafakur dan berpaling dari segala sesuatu yang menyibukkan diri dari berkonsentrasi akan hal yang demikian. maka jalan yang demikianlah yang apabila ditempuh niscaya akan mendapatkan hasil yang baik dari apa yang diinginkan dan akan membuahkan kedekatan kepada Allah Insya Allah. dan golongan Shufi telah melakukan usaha yang kerasa / mujahadahbagi diri mereka sendiri dan juga riyadhah serta menghentikan kebiasaan kehidupan mereka sehari-hari karena mereka mengetahui hanya dengan jalan inilah mereka memperoleh ma’rifat yang sempurna. dan dengan kesempurnaan ma’rifah maka akan sempurna pula dalam menetapi amaqam ‘ubudiyah /penghambaan diri kepada Allah Ta’ala.

 

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 10 : BEREGANG TEGUH KITABULLAH DAN SUNNAH RASUL

(SAYIID SYEIKH ABDULLAH AL HADDAD  PENGASAS  TAREKAT HADDADIYYAH)

Dan wajib bagi kamu untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul dan bergantung kepada keduanya, karena keduanya adalah agama Allah yang kokoh dan jalanNya yang lurus. Barang siapa yang mengambil keduanya, maka ia akan selamat, dan akan mendapat petunjuk dan akan terjaga. Dan barang siapa yang mengabaikannya keduanya, maka akan tersesat dan menyesal dan mengalami kerusakan. Maka jadikanlah keduanya sebagai penunjuk jalan bagimu. Dan kembalilah kepada keduanya dalam segala hal urusanmu dengan niatan melaksanakan wasiyat Allah dan wasiyat rasulNya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul dan pemerintah kamu sekalian. Maka apabila diantara kamu berselisih tentang sesuatu hal maka kembalikanlah urusannya kepada Allah dan kepada RasulNya- artinya kembalikan kepada Kitab dan Sunah.

RasuluLlah SAW bersabda, “Aku berwasiat kepadamu dengan sesuatu yang apabila kamu semua berpegangan kepadanya niscaya tidak akan tersesat selamanya – KitabuLlah dan sunnahku.Jika dirimu ingin mendapat petujnuk kepada jalan yang lurus yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan engkau menginginkan dirimu dalam keamanan, maka konsentrrasikan segala niatmu dan akhlakmu dan amalmu dan ucapanmu kepada Kitab Allah dan Sunah Nabi SAW. Maka ambilah apa yang sesuai dengan keduanya, dan tinggalkanlah apa yang bertentangan dari keduanya. Dan jalankanlah apa – apa yang ada di dalamnya dan ikutilah kebaikan untuk selamanya dan janganlah engkau mengada-adakan sesuatu di dalam hal agama (bid’ah)dan janganlah engkau mengikuti selain jalan orang mukmin maka engkau akan mengalamii kerugian di dunia maupun di akhirat.

Dan yang demikian itu adalah kerugian yang sanat nyata.. dan takutlah kmau sekalian akan mengada-adakan perkara agama padahal tidak disyariatkan oleh RasuluLlah SAW, maka sesungguhnya telah bersabda RasuuLLah SAW, “sesungguhnya sesuatu yang diada-adakan adalah bid;ah, dan setiap yang bid’ah adalah tersesat.
Dan telah bersabda RasuuLLah SAW barang siapa yang mengada-ada tentang perkara kami, maka sedang kami tiada mengadakannya, maka di tolak . dan bid’ah itu ada tiga macam, bid’ah hasanah, yaitu apa yang disampaikan oleh orang yang bijaksana dari sesuatu yang bersesuaian dengan Kitab Allah dan sunah RasuuLLah SAW karena menginginkan memilih sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat . maka yang demikian ini contohnya seperti mengumpulkan Al-Qur’an ke dalam mushaf seperti Abu Bakr, dan salat tarawih dari Umar, dan menertibkan/menyusun mushaf dan dua adzan awwal yang dilakukan oleh sahabat Utsman RA. Yang ke dua adalah bid’ah yang ercela/madzmumah bagi sebagian orang yang zuhud dan qana’ahseperti seperti bermewah-mewahan dalam hal makan dan pakaian, dan rumah/tempat tinggal. Dan yang ketiga adalah bid’ah yang tercela secara mutlak, yaitu apa – apa yang berselisih dengan nash kitab Allah dan sunah RasuuLLah SAW atau berseberangan dengan ijma’ /kesepakatan para alim ulama. Oleh karena itu barang siapa yang belum bisa berpegangan dengan kitab Allah dan mengikuti sunnah RasuuLLah SAW kemudian ia mendakwakan dirinya bahwa ia telah memperoleh suatu kedudukan disisi Allah, maka janganlah mengikutinya meskipun ia memiliki kemampuan terbang di atas udara atau berjalan di atas air, dan dapat menembus batas tempat, dan dapat melakukan hal – hal yang istimewa (khariqul ‘adah), karena yang demikian itu kebanyakan terjadi sebagaimana yang dilakukan oleh syaitan, dan tukang sihir, dan tukang tenung dan ahli nujum danlain sebagainya dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Dan tidak lepas pula dari yang demikian ini suatu istidraj (cobaan) dari Allah.

Adapun orang yang memiliki ilmu dan akal kecerdasan dari orang-orang yang beriman, sungguh mereka mengetahui bahwasanya perbedaan derajad kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya itu tergantung dari pada sejauh mana kesempurnaan dalam mengikuti sunah RasuuLLah SAW. Dan sesungguhnya manakala sempurna dalam hal itba’ sunnah RasuuLLah SAW, tentu semakin sempurnalah kedekatannya kepada Allah SWT.

Dan dalam sebuah riwayat diterangkan bahwasanya Abu Yazid Al-Bustami RA telah berniat untuk menziarahi seorang yang termasyhur pada saat itu dan mereka menganggap sebagai wali Allah. Dan beliau Syaikh Abu Yazid RA. duduk menanti orang itu untuk mengikuti salat berjama’ah. Maka ketika orang itu keluar dan dilihat oleh Syaikh Abu Yazib bahwa ia telah meludah di sudut masjid, maka beralulah Abu Yazid dan meninggalkan orang itu tidak jadi menemui orang tersebut. Kemudian ditanyakan kepada Syaikh Abu Yazid mengapa berbuat demikian, maka beliau menjawab, “Bagaimana seseorang yang percaya kepada Rahasia Allah padahal ia tidak menjaga adab yang baik dalam hal syari’at”.

Sahal bin AbdulLah RA berkata, “Tidak ada penolong kecuali Allah, tidak ada dalil/petunjuk kecuali RasuuLLah SAW, tidak ada bekal kecuali taqwa, tidak ada amal kecuali bersabar kepadanya / amal tersebut, dan ketahuilah bahwasanya tidak akan mampu bagi tiap-tiap orang untuk melaksanakan kitab Allah dan sunah RasuuLLah SAW secara lahir dan bathi dengan sempurna karena yang demikian ini hanya tertentu bagi para ulama yang sangat mencintai Allah dan RasuluLlah SAW. Oleh karena itu jika engkau merasa tidak mampu untuk memahami ataupun melaksanakan Kitab Allah dan sunah RasuluLlah SAW maka wajib bagi kamu untuk kembali/ ruju’ kepada orang yang Allah memerintahkan kepadamu untuk kembali kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Fas’aluu ahlajdzdzikri inkuntum laa ta’lamuun” yang artinya, ‘tanyakan kepada ahlinya jika kamu tidak mengetahui”.

Dan yang dimaksudkan ahludzdzikri adalah ulama Billah wabidiinihi yang mengamalkan ilmunya karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, yang zuhud terhadap dunia, yaitu ulama yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dunia daripada dzikirnya kepada Allah Ta’ala, mereka yang selalu mengajak manusia kepada Allah dengan pandangan hatinya yang terbuka hijabnya akan rahasia-rahasia Allah. Dan sungguh sulitlah didapati seseorang yang berperangai demikian di bumi yang luas ini sehingga para kabaairulama sepuh menganggap bahwa mereka kehilangan darinya, padahal sesungguhnya yang benar adalah mereka tetap ada akan tetapi Allah Ta’ala telah menutupinya dengan selendang keagunganNya sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya.

Kebiasaan mereka menyembunyikan diri dari khalayak ramai bahkan orang ramai sama berpaling dari mereka. Maka barang siapa yang berkeras mencarinya (wali Allah tersebut) dengan niat yang benar dan bersungguh-sungguh maka tidak akan kesulitan untuk bertemu dengan salah satu dari mereka – Insya Allah-. Sesungguhnya kesungguhan dan ketekunan adalah pedang yang tiada ia diletakkan pada sesuatu pasti akan terputuslah sesuatu tersebut. Dan bumi Allah tidak akan sepi dan kekurangan dari orang yang menegakkan agama Allah denagn hujahnya. Sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW ,”Tidak henti-hentinya diantara umatku yang selalu menegakkan kebenaran (haq) dan segala sesuatu tidak akan dapat membahayakan mereka sampai Allah meetapkan keputusanNya. Mereka itulah pelita dunia, dan pemegang amanah, dan pewaris para Nabi SAW. Mereka itulah tentara Allah (HizbuLlah) dan ketahuilah sesungguhnya tentara Allah adalah oraang-orang yang beruntung.

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 9 : SELALU MELAKUKAN TAAT

(SAYIID SYEIKH ABDULLAH AL HADDAD  PENGASAS  TAREKAT HADDADIYYAH)

Dan ketahuilah bahwasanya bersegera melakukan kebaikan dan menjaga ibadah, dan selalu melakukan ta’at adalah kebiasaan para Nabi SAW dan para aulia baik dalam awwal maupun akhir perjalanannya.kaerna sesungguhnya Mereka adalah yang paling ma’rifat / mengenal Allah. Maka tidak mengherankan jika Mereka yang paling bnayak ibadahnya dan paling ta’at dan paling takut kepada Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya meghadapnya hamba kepada Tuhannya dan ibadah hamba kepada Tuhannya menurut kadar kecintaannya kepadaNya. Dan sesungguhnya kecintaan itu tergantung dari besarnya ma’rifat´. Maka manakala seorang hamba lebih berma’rifat kepada Allah maka sudah pasti ia lebih bersangatan cintanya kepadaNya dan lebih banyak ibadah kepadaNya.

Apabila engkau disibukkan dengan mengumpulkan harta dunia dan disibukkan pula dengan menuruti hawa sehingga mengesampingkan aurad / dzikir maka berjuanglah agar engkau mempunyai sesaat untuk Tuhanmu pada pagi hari dan satu saat paad sore hari, dimana pada saat itu engkau gunakan untuk bertasbih dan istighfar dan lain-lain dari bermacam-macam keta’atan.

Dan sungguh telah diriwayakan dari Allah Ta’ala sesungguhnya Allah berfirman , “Wahai anak Adam, jadikanlah untukKu satu saat di awwal harimu dan satu saat di akhir hari maka akan Aku cukupi apa yang diantara keduanya.

Dan ada pula keterangan yang menyatakan bahwa sesungguhnya catatan amal perbuatan seorang hamba dihadapkan kepada Allah Azza wa Jalla pada akhir hari. Maka apabila di dapat kebaikan pada awwal hari dan kebaikan pada akhir hari maka allah berfirman kepada malaikat, “hapuslah apa yang diantara keduanya. Yang demikian ini adalah kemurahan Allah kepada kita dan kepada semua manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 8 : KEKALKAN WIRID DAN DOA SELEPAS SHALAT

SAYIID SYEIKH ABDULLAH AL HADDAD  (PENGASAS  TAREKAT HADDADIYYAH)

Dan bagi kamu wajib menjaga beberapa amalan dzikir dan do’a serta wirid-wirid pada saat selesai melaksanakan shalat dan ketika subuh dan sore hari dan ketika hendak tidur, dan ketika bangun dan lain sebagainya dari setiap waktu dan keadaan. Maka apa saja yang diajarkan RasuluLlah SAW bagi umatnya tentu akan menjadi sebab kebahagiaan dan kebaikan serta keselamatannya dari keburukan waktu tersebut. Dan siapa yang menyia-nyiakan akan hal tadi, kemudian menjumpai beberapa hal yang tidak menyenangkan hati, atau terhalang antara dia dengan apa yang ai cintai, maka janganlah menyalahkan kepada siapapun kecuali kepada diri sendiri. Dan barang siapa yang ingin mnegamalkan apa yang telah disebutkan tadi, maka hendaklah mempelajari kitab Al-Adzkaar karya Imam Nawawi RA.

Dan yang utama diamalkan ketika selesai melaksanakan shalat maka hendaklah dibaca setelah shalat maktubah “Allahumma a’innyy ‘alaa dzikriKa wa syukriKa wa husni ‘ibaadatiKa” dan “dan tasbih 33 X, demikian pula takbir dan tahmid 33 X, dan terakhir ditutup dengan Laa Ilaaha IllaLlah wahdaHu Laa SyariikaLah laHul mulku walaHul Hamdu wahua ‘ala kulli Syai’in Qadiir” dan kalimat yang di atas dapat juga ditambah dengan kata “Yuhyi wa yumiit” dibaca10 kali sebelum mengucapkan kata-kata apapun setelah shalat subuh dan ashar dan maghrib, dan diantaranya juga dibaca kalimat pada waktu pagi dan sore “SubhanaLlah wabihamdiHi 100X”dan “SubhanaLlah wal hamdu luLlah wa Laa Ilaaha IllaLlah HuweaLlaahu Akbar” 100 X, dan “Laa Ilaaha illaLlaah wadaHu laa syariikalaH laHul mulku walaHul hamdu waHuwa ‘ala kulli syai’in qadiir setiap hari 100 X”

Dan jadikan bagimu wirid berupa bacaan shakawat kepada Nabi SAW karena yang demikian ini merupakan washilah/ media / perantara yang akan menghubungkan kamu dengan kekasih Allah dan merupakan pintu yang banyak faidahnya bagi kamu dengan perantaraan shalawat ke hadirat RasuluLlah SAW. Sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, yang artinya, “Barang siapa yang bersalawat kepadaku satu kali maka Allah akan berselawat-memberi rahmat- kepadanya 10 kali. Dan juga bersabda RasuluLlah SAW, “Yang paling cinta diantara kamu sekalian kepadaku, dan paling dekat tempat duduk dari kamu sekalian kepadaku adalah yang paling banyak dari akmu yang membaca salawat kepadaku”. Dan sungguh Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita semua dalam kitabNya yang mulia dengan firmanNya, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu alaiHi wasallimuu tasliimaa”yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu semua kepadaNya (kepada RasuluLlah SAW) dana ucapkan salam kepadanya dengan sesungguh-sungguh salam”. Maka lakukanlah perintah tersebut dan perbanyaklah dan jangan engkau sedikitkan, dan gabungkanlah antara selawat dan salam serta selawat kepada keluarga Nabi SA. Dan perbanyaklah dari selawat pada malam jum’at dan siang harinya.

Dan Useharusnya bagi kamu untuk memiliki wirid berupa tafakur baik pada malam hari maupun siang hari yang engkau tetapkan waktunya untuk sesaat atau beberapa saat. Dan saat ayng tepat untuk bertafakur adalah aat yang paling luang dan saat yang paling jernih dalam pikiran seperti pada waktu tengah malam. Dan ketahuilah bahwa kebaikan dunia dan agama adalah terletak pada bagusnya tafakur . dan barang siapa yang dianugerahi tafakur, niscaya ia telah diberikan semia kebaikan. Adn sungguh telah terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa tafakur sesaat itu lebih baik daripada ibadah satu tahun. Dan telah berkata Sayyidina Aly KarramaLlaahu WajHah, “tidak ada ‘ibadah seperti tafakur / yang melebihi tafakur dalam hal kebaikannya. Dan ba’dhul ‘aarifiin berkata, “sesungguhnya tafakur adalah pelita hati orang mukmin. Maka apabila hilang pelita itu niscaya tidak akan terang hati itu “.Dan tempat berlalunya tafakur itu banyak sekali, diantaranya (dan yang paling utama) adalah tafakur tentang keajaiban-keajaiban ciptaan Allah pada alam semesta, dan jejak atau bekas dari taqdir Allah baik yanh dhahir maupun bathin, dan apa yang terjadi pada langit dan bumi, dan yang demikian ini akn menambah ama’rifat akan dzat Allah dan sifatNya dan AsmaNya.Adn Allah telah berfirman yang artinya, Dan lihatlah apa saja yang ada di langit dan di bumi. Dan dirimu adalah termasuk pada ciptaanNya yang ‘ajaib maka bertafakurlah tentang dirimu. Dan Allah Ta’ala telah berfirman, Dan di bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin demikian juga pada dirimu, maka apakah kamu tidak melihatnya ?.

Dan hendaknya engkau bertafakur akan’matNya dan pertolonganNya yang sampai kepadamu dan juga akan ni’matNya yang sempurna atasmu. Allah Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah kamu semua akan ni’mat-ni’mat Allah kepadamu agar kamu menjadi orang yang beruntung“. Dan Allah juga berfirman, Jika engkau menghitung ni’mat Allah niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya. Dan Allah telah berfirman, Dan ni’mat apa saja yang datang kepadamu, maka sesungguhnya itu dari Allah. Dan hasil dari tafakur yang demikian adalah penuhnya hati dengan mahabbah / cinta dan sibuknya hati dengan bersyukur lahir maupun bathin sebagaimana Allah telah mencintainya dan ridha kepadanya.

Dan seyogyanya engkau bertafakur akan Ilmu Allah yang seluruh meliputi dirimu dan akan penglihatanNya kepadamu.

Dan sungguhntelah berfirman Allah Ta’ala, Dan sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang terlintas dalam hatinya dan Kami lebih dekat padanya daripada urat lehernya.

Dan Allah Ta’ala berfirman, Dan Dia selalu bersama kamu di mana saja kamu berada dan sesungguhnya Allah melihat apa saja yang kamu perbuat. Dan

Allah Ta’ala berfirman, Apakah kamu tiada mengetahui bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada di alangit dan di bumi. Dan apa yang ada diantara tiga orang maka Dialah yang ke empatnya. Dan yang diantara lima orang maka Dialah yang ke enamnya. Dan tafakur yang demikian ni akan membuahkan rasa malu pada dirimu jika Allah melihatmu pada apa yang dilarangNya, dan kehilangan kamu pada apa yang diperintahkanNya.

Dan seharusnya engkau bertafakur tentang kekuranganmu dalam beribadah kepada tuhanmu dan berpalingnya kamu pada apa yang dibencinya dengan mendatangi apa yang dilarangnya.

Dan Allah Ta’ala berfirman, Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu.Dan Allah Ta’ala berfirman, Apakah kamu mengira bahwa Aku ciptakan kamu dengan sia-sia, dan kepada Kami kamu semua tidak akan kembali ?. dan Allah Ta’ala berfirman, Wahai manusia, apa yang telah memalingkan kamu dari Tuhanmu Yang Maha Mulia ?.

 Dan tafakur yang demikian ini akan menambah ketakutanmu kepada Allah dan akan membawamu kepada menghinakan hawa nafsumu dan memandang buruk kepadanya (nafsu), dan menjauhi keteledoran, serta melanggengkan keta’atan kepadaNya.

Dan seharusnya engkau bertafakur akan kehidupan dunia ini dengan segala kerepotannya dan tafakur akan cepat hilangnya dunia, dan bertafakur akan akhirat dan ni’matnya dan keabadiannya.

Allah Ta’ala berfirman, Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat agar kamu berfikir tentang dunia dan akhirat. Dan Allah Ta’ala berfirman, bahkan mereka memilih kehidupan dunia, sedangkan akhirat lebih baik dan lebih kekal.

Dan Allah Ta’ala berfirman, dan tidaklah kehidupan dunia ini tiada lain seperti sendau gurau belaka, dan sesungguhnya kampung akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya jika mereka mengetahui. Dan tafakur yang demikian akan membuahkan untukmu sifat zuhud kepada dunia dan cinta akan akhirat.

Dan sebaiknya engkau berfikir tentang datangnya mautdan memperoleh kesesahan dan penyesalan sesudahnya.

Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah (Muhammad) bahwa sesungguhnya kematian yang kamu sekalian lari daripadanya, maka sesungguhnya ia tetap akan menjumpaimu. Kemudian kemu semua akan dikembalikan kepada Allah dzat Yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata maka akan diberitakan kepadamu tentang apa-apa yang telah kamu perbuat.

Dan Allah Ta’ala berfirman, sehingga apabila telah datang kematian kepada salah satu dari kamu semua maka dia akan mengatakan, Tuhan kembalikanlah aku-ke dunia- agar aku dapat berbuat kebaikan setelah apa yang telah aku tinggalkan –dari melakukannya-. Demikianlah perkataan yang mereka katakan.

Dan Allah Ta’ala juga telah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman, jangan sampai hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari dzikir kepada Allah.

Sampai firman Nya, Dan Allah tidak akan menunda ajal seseorang apabila telah datang. Manfaat yang dapat diamnbil dari tafakur yang demikian ini adalah memendekkan angan-angan dan membeguskan amal dan memperbanyak bekal untuk kelak di hari akhir (hari kembali kepada Allah.

Dan wajib bagi kamu untuk bertafakur tentang akhlak-akhlak dan amal yang baik yang disifatkan Allah kepada para kekasihNya dan para musuhNya dan bertafakur tentang apa yang disediakan Allah untuk keduanya dari kebikan yang baik yang segera (di dunia) maupun yang ditangguuhkan (di akhirat).

Allah Ta’ala berfirman, sesungguhnya orang yang baik akan hidup dalam keni’matan, dan orang-orang yang jahat maka akan mendapatkan siksaan (jahim). Dan Allah Ta’ala berfirman, Maka apakah orang yang beriman itu seperti orang yang fasiq ? Tidaklah sama mereka itu. dan Allah Ta’ala berfirman, Adaun orang-orang yang bertaqwa, niscaya mereka akan kami mudahkan kehidupan mereka.

Dan Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang beriman apabila disebut asma Allah maka bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatNya maka akan semakin tambahlah imannya. ….bagi mereka akan mendapat ampunan dari Tuhannya dan rizki yang baik. Dan Allah Ta’ala berfirman, Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa mereka akan kami jadikan penguasa di bumi sebagai mana orang-orang yang telah terdahulu.

Dan Allah Ta’ala telah berfirman, Maka apabila telah Kami tetapkan keputusan Kami maka diantara mereka ada yang kami kirimkan angin yang membinasakan, dan diantara mereak ada yang kami siksa dengan seruan yang sangat keras (Shaihah), dan diantra mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula diantara mereka yang Kami tenggelamkan ke dalam laut. Dan tidaklah Allah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.

Dan Allah berfirman, dan orang-orang munafik baik laki maupun perempuan, diantara dari mereka saling mengajak kepada perbuatan yang buruk dan meghalangi perbuatan baik. …….dan Allah mela’nat mereka dan bagi mereka adzab yang menghinakan. dan Allah Ta’ala berfirman, dan orang yang beriman baik yang laki maupun yang perempuan saling tolong menolong diantara mereka, saling tolong-menolong dalam kebaikan,……..dan Ridho Allah lebih besar yang demikian itu adalah keberuntungan yang sangat besar.

Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan perjumpaan dengan Ku adn mereka hanya rela dengan kehidupan di dunia dan mereka tenang dengannya……. dan hasil dari tafakur yang demikian ini adalah menimbulkan cinta kepada orang-orang yang baik / shaleh / su’adaa’ dan menggerakkan dirinya untuk beramal sebagai mana amal mereka, dan berakhlak dengan akhlak mereka.

Dan sebaiknya engkau dapat menghadirkan pada setiap tafakur akan pemahamannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, dan atsardan janganlah engkau bertafakur akan dzat Allah dan sifatnya dengan tujuan menganalisa keadaanNya (kaifiyahnya) , dan sungguhntelah diriwayatkan dari RasuluLlah SAW bahwa

Beliau bersabda, bertafakurlah kamu sekalia tentang ayat-ayat/tanda-tanda Allah dan janganlah kamu semua ber tafakur tentang dzat Allah. Maka sengkau sesungguhnya tidak akan mampu dari yang demikian ini.

Maka yang demikianlah apa yang kami sampaikan dari beberapa adab, dan beberapa tujuan aurad / wirid yang pada intinya adalah Hadirnya hati kepada Tuhan . adn engkau tidak akan dapat sampai kepada yang demikian jika tidak melali jalan ini yaitu melaksanakan amal yang lahiriah yang disertai hadirnya hati kehadirat Allah. Maka apabila engkau telah dapat membiasakan hal ini, maka akan teranglah nuur/cahayakedekatan kepada Tuhan dan akan mengalirlah ilmu – ilmu ma’rifat. Dan apa bila telah sampai yang demikian, maka hatimu akan selalu menghadap kepada allah secara keseluruhan. Dan jadila ia / hati selalu hadir kehadirat Allah SubhanaHu Wata’ala. Dan terkadang, keadaan yang demikian ini akan berkembang terus sehingga hati mengalami ghaibah dan istighraq (tenggelam) kehadirat Allah dan fana (lenyapnya hati karena yang dilihat hanyalah kebesaran Allah, sehingga yang lainnya lenyap/hilang termasuk dirinya, dan yang ada hanyalah allah) dan lain-lain perolehan yang ditemui oleh para AhliLlah.Dan dasar dari pencapaian tersebut adalah tekun dan bersungguh-sungguh melaksanakan amal dzahir dan menjaganya disamping hatinya selalu merasa hadir bersama Allah. Dan takutlah kamu akan meninggalkan amal meskipun amalan yang ringan dan takutlah tidak melanggengkan amal tersebut karena yang demikian termasuk dalam kebodohan. Dan janganlah melakukan amal karena merasa longgar waktunya dan karena badan sedang merasa enak dalam melakukannya akan tetapi sebaiknya disamakan baik dalam keadaan sibuk maupun longgar, yaitu tetap melaksanakan ketika hati merasa malas, dan

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 7: KEKALKAN BACAAN WIRID MU

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan seharusnya bagi kamu memiliki amalan dzikir kepada Allah Ta’ala dengan ditentukan waktunya maupun bilangan jumlahnya (tentusaja dengan meminta amalan dari para Masayikh / para Ulama’)karena yang demikian ini untuk mendidik kedisiplinan. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir adalah termasuk rukun thariqao atau sesuatu yang harus dijalankan bagi orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah, dan dzikir adalah kunci pembuka hakikat dan merupakan pedang bagi murid. Sebagaimana yang dikatakan oleh ba’dhul ‘Aarifiinbahwasesungguhnya telah berfirman Allah, “Fadzkuruunii Adzkurkum” yang artinya, “maka ingatlah/berdzikirlah kamu semua kepada Ku niscaya Aku akan mengingatmu”. Dan allah telah berfirman, “FasdzkuruuLlaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubikum” yang artinya, “maka ingat/berdzikirlah kamu sekalian kepada Allah ketika berdiri, dan duduk, dan ketika berbaring diatas punggungmu”.

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Yaa ayyuhalladziina aamanuudzdzkuruLlaaha dzikran katsiira” yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, dziirlah kamu sekalian kepada Allah denagn dzikir yang banyak”.

Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, yang artinya, “Sesungguhnya Aku tergantung persangkaan hamba-ku kepada-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya selama mereka menmgingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam Diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tempatnya, maka Aku akan menyebut-Nya di tempat-Ku lebih baik dari pada penyebutannya di tempatnya”.

Dan Nabi SAW telah bersabda, “Telah berfirman Allah Ta’ala, ‘Aku adalah teman duduk orang yang berdzikir kepada-Ku.”

Dan Nabi SAW juga telah bersabda, “Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sebaik-baik amal kamu semua untuk Tuhanmu, dan lebih dapat mengangkat derajat kamu sekalian, dan yang lebih baik bagi kamu dari paad menginfaqkan emas dan perak dan lebih baik dari keadaan seandainya engkau berjumpa dengan musuh maka engkau memukul pundak mereka demikian juga mereka memukul pundakmu (perang fi sabiliLlah), ?” Maka mereka (para sahabat) menjawab, “Baik Yaa RasuluLlah”. Maka Nabi bersabda, ‘DzikruLlah yaitu dzikir kepada Allah”.

Dan dengan dzikir banyak sekali buah dan manfaatnya bagi orang yang bersungguh-sungguh mengamalkannya dengan adab dan hadirnya hati di hadapan Allah Ta’ala. Dan minimal buah hasil dari dzikir adalah rasa manis lezat yang dirasakan di dalam hati yang dapat mengalahkan segala sesuatu disekelilingnya misalnya kelezatan dunyawiyah. Sedang paling tinggi buah dari dzikir adalah apabila ia fana (hilanglah segala sesuatu) karena mengerasnya Yang di ingat yaitu Allah bahkan ia sendiri tidak fana / ingat akan dirinya sendiri -karena terkalahkan oleh Yang diingat/disebutnya. Dan juga fana/lenyap dari segala sesuatu selain Dia.

Dan barang siapa yang duduk dalam keadaan sucibaik dari hadats maupun najis di tempat yang sunyi (khalwat) dengan menghadap kiblat menenangkan pandangan matanya, menundukkan kepalanya kemudian berdzikir kepada Allah dengan hati yang hadir ke hadapan Allah maka hatinya akan melihat dan merasakan bekasnya dzikir secara nyata. Dan apabila ia terus dalam keadan yang demikian maka nuurul qurbi / cahaya kedekatan akan menyiinarinya dan akan terbuka baginya asraarul ghaibi yaitu rahasia sesuatu yang ghaib. Dan seutama-utamanya dzikir dalah apabila terwujud bersama-sama antara dzikir hati dan lisan. Dan yang dimaksud dzikrul qalbi /dzikir hati adalah apabila bisa hadir ke dalah hati akan makna apa yang diucapkan oleh lisan. Seperti Taqdis dan tahmiid (Pemahasucian dan pemujian) kepada Allah ketika tasbih dan tahlil. Dan dzikir adalah wirid yang abadi / da’im maka berusahalah agar lisan senantiasa basah dengan sebab dzikir dalam keadaan apapun kecuali pada waktu yang tidak memungkinkannya untuk melaksanakan dzikir tersebut seperti ketika membaca Al-Qur’an dan tafakur. Dan jadikan ibadah yang demikian ini sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan janganlah terpancang dengan hanya satu macam dzikir saja akan tetapi sebaiknya memiliki amalan dzikir yang berfariasi.

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 6: WAJIB MEMPELAJARI ILMU MAKRIFAT

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan seharusnyalah bagi kamu memiliki wirid/ amalan yaitu mempelajari atau membaca Ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang akan menambah pengetahuanmu (ma’rifatmu) akan Dzat Allah dan sifatNya dan Af’al / perbuatanNya, dan dengan ilmu tersebut engkau akan mengetahui perintah –perintahNya yang mendorongmu untuk ta’at kepadaNya, serta larangan-laranganNya yang mencegahmu untuk bermaksiyat kepadaNya, sehingga yang demikian itu akan menyebabkan kamu zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat. Dan dengan Ilmu yang bermanfaat tersebut akan memperlihatkanmu akan Aib atau cacat dirimu dan akan dapat diketahui bahaya hasil perbuatanmu, serta tipudaya musuh-musuhmu. Maka yang demikian inilah Ilmu yang bermanfaat yang tertera di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul SAW, dan kitab para Aimmah atai para imam pemimpin umat. Dan Imam Al-Ghazali telah mengumpulkannya dalam kitabnya yang sangat mulia (Ihya’ Ulumuddin), yang sangat besar faidahnya bagi orang yang memiliki Bashiirah / mata hati dan gemar akan Ilmu agama dan keyakinan yang sempurna, maka bersungguh-sungguh mereka dalam mempelajari kitab tersebut, demikian juga bagi kamu jika kamu benar bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan akhirat, dan berkeinginan untuk sampai / wushul kepada martabat hakikat. Dan sungguh kitab tersebut dijadikan rujukan para ahli pencari hakikat yaitu para sufi dan mereka memperoleh faidah yang sangat besar dalam waktu yang relatif singkat, semua karena berkah Al-Imaam Al-ghazaali ra.

Dan seharusnyalah bagi kamu memperbanyak membaca kitab hadits dan tafsir dan mempelajari kitab yang umum/kebanyakan dipelajari oleh para alim ulama, karena yang demikian itu akan dapat membukakan hati dan jalan yang sempurna menuju kedekatan dengan Allah seperti yang dikatakan sebagian Arifiin. Akan tetapi hendaklah berhati-hati apabila menelaah beberapa risalah yang membahas masalah-masalah yang sangat halus/lembut dan masalah hakikat dengan belajar sendiri tanpa didampingi seorang guru / Syaikh pemimbing, dan masalah yang demikian ini banyak dijumpai dari risalah-risalah yang di karang oleh beberapa pengarang seperti Syaikh Muhammad ‘Arabi dan beberapa risalah dari Al-Imam Al-Gazali RA seperti kitab Al-Ma’aarij. Apabila ada orang yang berkata, “sesungguhnya tidak mengapa bagi kami mempelajari kitab-kitab tersebut karena sesungguhnya kami hanya mengambil apa-apa yang kafi faham atasnya dan beriman terhadap apa yang tidak kami fahami dari kitab tersebut”, maka jawabannya adalah “sesungguhnya dihawatirkan bagimu bahwa apa yang engkau fahamkan dari kitab tersebut tidak sama denagn apa yang dikehendaki oleh pengarangnya maka akan menjadi tersesat dari jalan yang benar, seperti yang terjadi pada beberapa kaum yang muthala’ah kitib-kitab tersebut tanpa pembimbing seorang Syaikhmaka menjadi Zindiq dengan pernyataan mereka mengenai hulul dan ittihaad (manunggaling kawulo gusti) – penyatuan antara hamba dengan TuhanNya

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL5: MENGEKALKAN BACAAN AL QURAN

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan sebaiknya ada bagi kamu suatu wirid yaitu dengan membaca Kitab allah Yang Maha Mulia, dan engkau mengekalkan dalam membacanya setiap siang dan malam hari. Dan yang paling sedikit adalah jika engkau meringkasnya dengan membaca satu Juz setiap hari, maka dengan begitu setiap bulan bisa khatam satu kali. Dan di atas yang demikian adalah jika engkau mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan ketahuilah bahwa pada pembacaan Al-Qur’an terdapat faidah yang sangat besar dan bekas yang jelas dalam menjernihkan hati.

RasuluLlah SAW telah bersabda, “Ibadah paling utama umatKu dadalah membaca Al-Qur’an”.

Dan telah berkata Sayyidina ‘Aly KarromaLlahu Wajhah, yang artinya “Barang siapa membaca Al-Qur’an sedang ia dalam keadaan mendirikan shalat, maka pada setiap hurufnya dihitung sebagai 100 kebajikan. Dan baranga siapa membacanya dengan duduk dalam shalat, maka pada tiap huruf baginya 50 kebajikan. Dan barang siapa membacanya di luar shalat sedang ia dalam keadaan suci dari dari hadast dan najis maka pada tiap huruf baginya mendapat 25 kebajikan. Dan barang siapa yang membacanya dalam keadaan tidak bersuci, maka baginya akan mendapatkan 10kebajikan”.

Dan takutlah bahwa keinginanmu dalam membaca hanya sebatas memperbanyak bacaan saja, tanpa memperhatikan tadbiir dan tartiilnya.

Dan keharusan bagi kamu ketika membacanya, haruslah dengan tadbiir, dan engkau juga faham akan isinya dan yang demikian itu menolong untuk dapat memahami maknanya dan dapat menghadirkan hatimu akan keagungan Mutakallim / Dzat yang berfirman yaitu Allah Ta’ala, dan sungguh engkau telah berada di hadapanNya dan sedang membaca kitabNya yang memerintahkan sesuatu kepadamu, dan Yang melarangmu akan sesuatu serta memberi nasihat kepadamu melalui firmanNya. Dan hendaknya ketika membaca ayat tentang tauhid dan tamjiid maka penuhilah hatimu dengan pengagungan kepada Allah dan Ta’dhiim kepadaNya. Dan ketika membaca ayat yang berisi janji dan ancaman maka penuhilah hati dengan perasaan takut dan harap kepadaNya. Dan ketika membaca ayat tentang perintah Nya dan besarnya kekuasaanNya, maka penuhilah hati dengan perasaan banyaknya kekurangan yang telah diperbuat dan perlu meminta ampun kepadaNya. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an adalah laksana lautan yang sangat luas, dimana dari dalamnya akan keluar mutiara ilmuyang sangat berharga dan jalan kepada kefahaman. Maka barang siapa yang telah dibukakan jalan kefahaman maka akan abadilah keterbukaan hatinya dan akan sempurnalah nuurnya dan akan menjadi luas ilmunya, maka baginya tidak akan berpaling darinya / Al-Qur’an baik siang maupun malam karena sungguh ia telah sampailah ia akan tujuannya dan sungguh telah mendapatkan apa yang dicarinya. Dan yang demikian ini lah sifat dari murid yang benar / shidiq

Telah berkata Syaikh Abu Madyan RA. “Belumlah sempurna seorang murid dalam ke-muridannyasehingga ia mendapati da dalam Al-Qur’an apa-apa yang ia inginkan.

Dan wajib bagi kamu untuk menghafal beberapa surah dan ayat memang telah diterangkan di dalam sunnah akan keutamaannya, diantaranya engkau membacanya pada tiap malam Alif Laam Miim –Sajjdah- dan tabaarokal mulku, dan surah waqiah dan AmanaRrosuuluhingga akhir surah, dan surrah Ad-Dukhoon pada malam senin dan Jum’at, dan surah Kahfi pada hari Jum’at beserta malamnya, dan jika memungkinkan maka bacalah beberapa surrah munjiyaat yang tujuh pada tiap-tiap malam, maka yang demikian ini adalah keutamaan yang sangat besar. Dan juga diantaranya hendaklah engkau baca pada waktu pagi dan sore hari yaitu awwalnyasurah Hadiid dan akhir surat Chasyr, dan surah Al-Ikhlash, dan Muawwidzatain masing-masing tiga kali, dan demikian pula engkau baca surah Al-Ikhlash dan Muawwidzatain ketiak hendak tidur beserta ayat kursy dan Kul Yaa ayyuhal kaafiruun, dan jadikan ia kalimat yang terakhir yang engkau ucapkan. –Dan Allahlah yang berfirman dengan kebenaran, dan Ia lah yang menunjukkan kepada jalan kebenaran..

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 4: PENGISIAN WAKTU LUANG MU

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan wajib bagi kamu sekalian untuk memakmurkan segenap waktumu dengan berbagai macam amal ibadah sehingga tidak ada waktu yang kosong baik malam maupun siang kecuali engkau isi dengan berbagai amal kebajikan. Maka dengan demikianakan terlihatlah bagimu berkah waktumu dan akan menghasilkan faidah yang besar dari umurmu, dan kelanggenganmu dalam menghadap kepada Allah Ta’ala. Dan seyogyanya engkau jadikan waktu tersendiri untuk kebiasanmu sehari-hari seperti makan dan minum dan pergi bekerja. Dan waktumu adalah umurmu, dan umurmu adalah modal hidupmu dan dengan waktumu itulah engkau mulai berniaga-untuk akhirat yang akan mengantarkanmu kepada kebahagiaan yang abadi di dalam kedekatan dengan Allah. Maka setiap nafas dari seluruh nafas adalah mutiara yang tidak terhitung nilainya, dan apabila telah leway –nafas itu- maka tidak ada gantinya. Dan tidak seharusnya engkau menggunakan seluruuh waktumu dengan hanya satu iwirid meskipun wirid tersebut ttermasuk wirid yang utama. Karena yang demikian itu akan menghilangkan berkahnya banyaknya bilangan bermacam-macam wirid.. karena pada setiap wirid mempunyai efek sendiri-sendiri di dalam hati. Dan mempunyai nuur dan keistimewaan tersendiri dari Allah. Dan ketahuilah sesungguhnya bagi tiap-tiap wirid memiliki bekas yang bermacam-macam yang berguna untuk membersihkan hati dan memperbaiki tingkah laku lahiriah , dan jika engkau tidak termasuk orang ayng dapat mencurahkan semua waktumu untuk melakukan wirid, maka pilihlah pada waktu-waktu yang khusus/tertentu dan engkau bayar pada waktu yang lain apabila engkau sempat meninggalkannya –pada wakut yang telah ditentukan tersebut, yang demikian ini untuk mendidik nafsu dalam berdisiplin menjaga amalan wirid tersebut.

Sayyidy Syaikh Abdurrahman as-Saqaf telah berkata,”man lam yakun lahu wirdun fahuwa qirdun yang artinya-barang siapa yang tidak memiliki wirid maka ia tak ubahnya seperti kera-. Dan telah berkata sebagian orang ‘aarfiin (orang yang sangat mengenal Allah) , “Al-Waarid (sesuatu yang datang dari Allah – seperti ilham dll) itu tergantung dari Wirid. Maka barang siapa yang tidak memiliki Wirid pada dhahiriahnya, maka tidak akan ada wariidpada bathiniahnya/sirrnya. Dan wajib bagimu untuk selalu jujur dan selalu adil dalam segala hal dan laksanakanlah amal yang sekiranya engkau dapat melanggengkannya / mudawwamah dan sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW amal yang paling disenangi/dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun hanya sedikit. Dan RasuluLlah SAW juga telah bersabda ambilah dari amal apa yang engkau rasa mampu kaena sesungguhnya Allah tidak akan berpaling hingga mereka berpaling. Dan sebagian dari kebiasaan syaithan dala menipu murid/orang yang sedang belajar menempuh jalan Allah, adalah mengajak mereka bergegas melakukan amal yang banyak dan tujuan syaithon dari yang demikian ini adalah agar kelak mereka)para murid) meninggalkan amal baik tersebut pada akhirnya, atau melakukannnya akan tetapi tidak sesuai dengan tuntutanyang seharusnya. Maka kemudian dari beberapaa aurad / wirid /zikir, yang dapat engkau lakkukan adalah memperbanyak shalat sunah, membaca Al-Qur’an, atau membaca ilmu, atau bertafakur. Kemudian kami terangkan beberapa adab, oleh karena itu seyogyanya bagi kamu memiliki wirid semisal shalat sunnah sebagai tambahan dari shalat-shalat sunah yang lain, yang ditentukan waktunya dan di dikira kirakan jumlahnya sekiranya akan dapat dilakukan secara terus menerus. Dan sungguh sebagian para Ulama salafushalih rahimahumuLlaahtelah melaksanakan shalat dalam sehari semalam sebanyak 1000 reka’at seperti Imam Ali bin Husein ra. Dan sebagian dari mereka ada yang melaksanakan 500 reka’at, ada yang melaksanakan 300 reka’at dan lain sebagainya.

Dan ketahuilah sesungguhnya di bagi amalan shalat ada benytuk lahir danhakekat bathinnya. Dan tiadalah shalat itu dihargai oleh Allah, hingga disempurnakan amaliahn lahiriahnya dan hakikat bathiniahnya. Adapun kesempurnaan bentuk shalat adalah kesempurnaan rukun-rukunnya, dan etika/adab lahiriah dari berdirinya, pembacaan Al-Qur’annya, dan ruku’ dan sujud dan tasbih dan sebagainya. Adapun hakekatnya adalah hadir bersama Allah, ikhlasnya niat, dan menjadikan Allah sebagai tujuan dan menghadap dengan kesungguhan kepada Allah demikian juga segenap hatinya ditujukan kepada Allah, dan hendaknya pikirannya di dikonsentrasikan / tidak banyak memikirkan sesuatu maka dirinya tidak bercakap-cakap dengan selain perkara shalat. Dan seyogyanga beradab sebagimana adabnya orang yang sedang bermunajat/berbisik-bisik dengan Tuhannya . telah bersabda RasuluLlah SAW, “sesunggunya orang yang shalat adalah orang yang seaedng bermunajat kepada Tuhannya. . dan Nabi SAW telah bersabda, “apa bila seorang hamba berdiri melaksanakan shalat, maka sesungguhnya Allah berhadapan dengan nya dengan wajahNya . dan sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat shalat sunnah yang lain segingga ia telah melaksanakan amal sunnah yang telah dianjurkan oleh Nabi SAW secara sempurnna , diantara shalat sunnah yang dianjurkan itu aantara lain beberapa rekaat sebelum shalat maktubah/shalat wajib yang 5 waktu ataupun beberapa rekaat sedudahnya, dan diantaranya juga shalat witir yang termasuk shalat sunnah muakkad bahkan sebagian ulama mewajibkannya. RasuluLlah SAW telah bersabda.-Sesungguhnya Allah Ta’ala Iganjil dan senang dengan yang ganjilmaka berwitirlah kamu semua wahai ahli Al-Qur’an. Dan RasuluLlah SAW bersabda sesungguhnya witir adalah sesuatu yang haq/benarmaka barang siapa yang tidak berwitir maka bukanlah golongan kami. Dan banyaknya bilangan reka’at shalat witir adalah 11 reka’at sedangkan yang paling sedikit adalah hendaklah meringkas sampai tiga reka’at adapun pengerjaannya adalah pada akhir waktu malam bagi orang yang membiasakan diri mengerjakan shalat malam. RasuluLlah SAW bersabda Jaadikanlah akhir shalat kamu sekalaian dengan shalat witir. Dan bagi orang yang tidak memiliki kebiasaanmegerjakan shalat malam / qiyamul lail maka lebih utama mengerjakannya setelah habis shalat Isya .

Dan termasuk shalat sunah yang dianjurkan Nabi SAW adalah shalat dhuha dan dia/shalat dhuha adalah shalat yang banyak sekali manfaat dan barokahnya. Banyaknya bilangan reka’at adalah 8 reka’at dan ada pula yang mengatakan 12 reka’at. Dan paling sedikitnya adalah 2 rekaat. Telah bersabda RasuluLlah SAW hendaklah kamu sekalian menjadikan seluruh anggota badan sebagai sedekah. Maka sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, dan setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah, dan setiap amar ma’ryf adalah sedekah, dan nahi mungkar adalah sedekah. Dan telah mencukupi dari yang demikian itu semua 2 reka’at yang dilakukan pada waktu dhuha.Dan tremasuk shalat yang dianjurkan adalah shalat antara Maghrib dan Isya’. Adapun banyaknya adalah 20 rekaat, dan yang sedang adalah 6 reka’at. RasuluLlah SAW telah bersabda Barang siapa yang megerjakan shalat 2 reka’at antara dua Isya’ maka Allah akan membangunkan baginya rumah di dalam surga. Dan RasuluLlah bersabda Barang siapa mengerjakan shalat sunah setelah maghrib 6 reka’at dimana diantara keduanya dia tidak bercakap-cakap dengan sesuatu yang buruk maka yang demikian itu menyamai baginya dengan beribarah selama 12 tahun dengan menghidupkan saat antara maghrib dan isya’. Dan sungguh telah datang banyak keterangan tentang fadhilah atau keutamaan shalat diantara Maghrib dan Isya’ dan akan mencukupililah keterangan berikut ini yaitu bahwasanya Ahmad bin Abil Hawary ketika bermusyawarah dengan syaikhnya Abaa Sulaiman RohimahumaLlooh, apakah lebih baik ia berpuasa pada siang hari ataukah mendirikan shalat diantara waktu maghrib dan isya’, maka syaikh Abaa Sulaiman berkata, “kumpulkanlah keduanya-artinya laksanakan keduanya-. “. Kemudian ia bertanya lagi, “aku tidak mampu melaksanakan keduanya, karena apabila aku berpuasa maka aku akan disibukkan dengan berbuka puasa pada saat itu”. Maka Syaikh Abaa Sulaiman menjawab, ” jikalau engkau tidak mampu untuk mengumpulkan keduanya, maka tinggalkanlah puasa dan hidupkanlah shalat diantara dua ‘Isya’ (antara maghrib dan isya’)”. Sayyidatina ‘Aisyah RA berkata, “tidaklah masuk RasuluLlah SAW ke kediaman saya setelah shalat Isia’ yang akhir kecuali beliau SAW melaksanakan shalat empat reka’at atau enam reka’at dan Beliau SAW bersabda, “empat reka’at yang demikian telah menyamai daripada Lailatul Qadar. Dan suatu keharusan bagi kamu untuk mengerjakan Shalatul Lail/Shalat malam , sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. Dan bersabda RasuluLlah SAW, “Keutamaan shalat malam dibandingkan dengan shalat pada waktu siang hari adalah seperti kelebihannya sedekah secara tersembunya dibanding dengan sedekah secara terang-terangan”. Dan telah datang keterangan yang menyebutkan bahwa keutamaan sedekah secara tersmbunyi dibanding dengan sedekah secara terang-terangan adalah berlipat 70 lipatan dalam hal pahala dan keutamaannya. Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Bagi kamu sekalian untuk mengerjakan shalat malam karena sesungguhnya shalat malam itu adalah amalan orang-orang shaleh sebelum kamu sekalian, dan tempat bermuqorrobah bagi kamu sekalian kepada Tuhanmu, dan saat bertafakur akan maksiyat yang dilakukan, dan membersihkan adri dos, dan penolak penyakit dari jasad kamu sekalian”.

Dan ketahuilah sesunggunya orang yang mendirikan shalat ba’dal Isya’ adalah sungguh telah menghidupkan seluruh malamnya. Dan telah terjadi pada sebagian Ulama salaf melaksanakan amalan shalat pada Awwal malam hari. Akan tetapi pengerjaannya pada saat setelah bangun tidur pada malam hari adalah lebih menghinakan syaithan dan menjadi perjuangan nafsu / mujahadatunnafsi dan sirr / rahasia yang sangat ‘aja’ib , dia itulah shalat tahajjud dimana Allah telah memerintahkan RasulNya SAW untuk mengerjakannya dengan firmannya, “Waminallaili fatahajjad bihii naafilatallak “. “Dan pada sebagian maalm maka bertahajudlah sebagai amalan sunnah bagi Kamu”. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seorang hamba manakala ia bangun malam diantara keluarganya yang lain yang sedang tidur lalu ia mengerjakan shalat dan Allah memamerkannya kepada MalaikatNya dan Allah menghadapinya dengan WajahNya yang Mulia.

Dan ketahuilah sesungguhnya termasuk suatu keburukan apabila orang menginginkan Akhirat akan tetapi meninggalkan shalat malam. Maka bagaimana ? bahwa seorang murid-orang yang menginginkan sampai kepada Allah- bahwa ia senantiasa mengharapkan tambahan rahmat pada setiap waktunya, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Sesungguhnya pada setiap malam ada suatu saat yang apabila seorang hamba menjumpai saat itu kemudian ia meminta suatu kebaikan kepada Allah tentang urusan dunia maupun akhirat melainkan Allah akan memberikannya, dan yang demikian itu terjadi setiap malam HR Muslim. Dan pada sebagian kitan Allah yang diturunkan, Allah Ta’ala berfirman, “sungguh telah bohong orang yang mengaku mencintaiKu, apabila malam telah larut lantas ia tertidur dariKu. Bukankah setiap orang yang mencintai akan selalu ingin bersendirian dengan yang dicintainya”.Syaikh Ismail bin Ibrahim AL-Jibraani rahimahuLloohu berkata, “semua kebaikan akan terkumpul semuanya pada waktu malam”-tentu saja apabila digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT-. RasuluLlah SAW bersabda yang artinya, “sesungguhnya Allah Ta’ala turun paad tiap-tiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiganya yang akhir. Maka Allah Ta’ala berifrman, ‘Adakah yang berdo’a akan sesuatu niscaya akan ijabahi, dan adakah yang meminta ampunan kepadaKu maka akan Aku ampuni, dan adakah yang meminta sesuatu niscaya akan Aku beri, dan adakah orang yang bertaubat maka akan Aku beri taubat kepadanya yang demikian itu hingga terbit fajar”. Dan bagi orang yang ‘Aarif biLlah pada mendirikan shalat malam terdapat / merupakan tempat turunnya rahmat Allah / manziilaat yang sangat mulia, yang banyak sekali dan beberapa kehebatan rasa (Dzauq) yang sangat lembut yang dapat mereka rasakan di dalam hati mereka akan ni’matnya berdekatan dengan Allah dan lezatnya bersama-sama Allah dan manisnya bermunajah dan indahnya bercakap-cakapkepada Allah / Muhadastah. Sebagian dari mereka / Aarifuu berkata, “seandaina ahli surga merasakan apa yang kami rasakan niscaya mereka merasakan hidup yang sangat menyenangkan”. Dan sebagian dari mereka Arifuun berkata, “sesungguhnya Ahlullail-orang yang ahli menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allah-dalam menikmati malamnya seperti Ahlullahwi-orang yang senang bersendau gurau- dalam menikmati sendau guraunya”. Dan berkata sebagian dari mereka para Arifuun, “semenjak empat puluh tahun tidak ada sesuatu yang mengecutkan hatiku kecuali munculnya fajar”. Tentu saja nilmat yang demikian ini tidak akan terjadi kecuali setelah melalui usaha yang terus menerus dan menanggung penderitaan yang berat dalam menghidupkan ibadah di waktu malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Utbatul Ghulam“telah datang malam selama dua puluh tahun dan selama itu pula aku merasakan kenikmatan”

(Dan jika apa yang harus di laksanakan untuk mendirikan shalat malam/ibadah malam hari dan berapa reka’at sebaiknya shalat malam dilakukan ?). maka ketahuilah sesungguhnya RasuluLlah SAW tidak mengajarkan dalam shalat tahajud akan bacaan surah-surah tertentu, akan tetapi baik juga dilakukan dengan membacanya sedikit demi sedikit ketika berdiri melakukan shalat sehingga dapat khatam dalam satu bulan, atau kurang atau lebih tergantung dari kemampuan. Adapun bikangan reka’at maka banyaknya adalah sebagaimana RasuluLlah SAW mendirikan shalat malam yaiut 13 reka’at, dan yang sedang bisa 9 atau 7 reka’at. Akan tetapi kebanyakan yang diajarkan adalah 11 reka’at . dan disunahkan ketika bangun dari tidur hendaklah engkau mengusap wajah dengan tangan seraya mengucapkan kalimat, “AlhamduliLlaahilladzii ahyanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHinnusyuur”. Yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah manghidupkan aku setelah kematianku dan kepadaNyalah tempat kembali”. Dan kemudian membaca Inna fii kholqissamaawaati wal ardhi wakhtilaafillaili wannahaari la aayaatill li ulul albaab……dan seterusnya sampai akhir surah.
Kemudian setelah itu bangun dari tepat tidur lalu ber wudhu dengan wudhu yang sempurna, kemudian shalat dua rekaat secara ringkas (tidak terlalu panjang) syukril wudhu, kemudian shalatlah setelah itu delapan reka’at dengan memanjangkannya, dengan salam pada setiap dua reka’at atau setiap empat reka’at, atau sekaligus delapan reka’at dengan satu salam. Dan apabila masih dirasa mampu, maka berdirilah mengerjakan shalat sunah menurut kemampuanmu, kemudian shalatlah tiga reka’at dengan niat mengerjakan shalat witir dengan sekali salam atau dua kali salam. Dan bacalah pada reka’at awwal surah Sabbihisma Robbikal A’la, dan reka’at ke dua surah Qulyaa ayyuhal kaafiruun, dan reka’at yang ke tiga surah Ikhlash dan Muawwidzatain

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 3: MURAQABAH KEPADA ALLAH

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan wajib bagi kamu wahai saudaraku untuk selalu bermuroqobah kepada Allah Ta’ala dalam segala gerak dan diammu dan pada setiap kedipan matamu dan pada setiap kehendakmu dan gurisan hatimu dan dalam segala Keadaanmu dan kesadaranmu akan kedekatanNya kapadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia selalu melihat dirimu dan mengetahui segala ihwalmu dan tidak ada yang tersembunyi bagiNya segala sesuatu yang ada pada dirimu meskipun hanya sebesar zarrah baik itu di bumi maupun di langit . dan jikalaupun engkau mengeraskan suaramu ataupun melembutkannya maka sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu yang sangat samar dan tersembunyi. Dan Dia selalu bersamamu di mana saja kamu berada dengan ilmuNya dan peliputanNya Jika engkau termasuk orang yang bagus, maka malulah kepada Tuhanmu dengan sebenar-benarnya malu dan bersungguh-sungguhlah agar Ia tidak meluhatmu pada tempat yang sekiranya Dia melarangmu, Dan berusahalah selalu Ia mendapatimu ketika Ia memerintahkan sesuatu kepadamu. Dan sembahlah Ia seakan-akan engkau melihatNya dan manakala engkau jumpai dirimu merasa malas mengerjakan ketaatan kepadaNya atau condong kepada bermaksiyat kepadaNya maka ingatlah bahwa sesungguhnya Allah mendengarmu dan melihatmu dan mengetahui rahasiamu dan ketersembunyianmu.

Apabila hal yang demukian belum berhasil membangkitkan semangatmu untuk ta’at kepadaNya disebabkan karena sedikitnya ma’rifatmu kepadaNya akan kebesaran Allah, maka ingatlah akan adanya dua malaikat yang sangat mulia yang keduanya mencatat kebaikan dan keburukan amal. Apabila yang demikian itu masih belum memberikan efek, maka langkah selanjutnya adalah ingatlah akan dekatnya mautatau kematian dimana maut adalah sesuatu yang paling dekat diantara yang terdekat yang selalu menanti dirimu dan takutlah akan hal yang demikian. Apabila pentakutan yang demikian ini belum juga berhasil menggerakkan dirimu untuk ta’at kepada Allah maka peringatkanlah dirimu dengan janji-janji Allah yang akan diberikan kepada orang yang ta’at kepadaNya dari beberapa pahala yang sangat besar dan ingatlah juga akan janjiNya yang disediakan bagi orang-orang yang durhaka kepadaNya dari beberapa azab yang sangat menyaktkan dan katakanlah kepada dia (nafsumu) wahai nafsu, tidak ada sesuatu setelah kehidupan dunia kecuali surga atau neraka., maka pilihlah untuk dirimu sendiri jika engkau menginginkan ta’at maka akibatnya adalah keselamatan dan keridhoan dari Allah dan abadi dalam kenikmatan surga dan memandang kepada wajah Tuhanmu yang maha Mulia. Dan jika engkau menginginkan yang lain maka bermaksiyatlah kepada Allah maka akhir yang akan engkau dapatkan adalah kehinaan dan kemarahan dari Tuhanmu dan tinggal abadi di dalam neraka. Jika yang demikian ini telah engkau lakukan maka akan hilanglah keinginan nafsumu untuk berdiam diri tidak melakukan ta’at kepada Tuhannya. Maka sesungguhnya yang demikian ini merupakan obat yang sangat bermanfaat bagi hati yang mengalami sakit . selanjutnya jika hatimu telah sadar bahwa Allah Ta’ala selalu melihatmu maka hatimu akan merasa malu untuk berlawanan dengan kehendaknya dan hatimu akan membimbngmu untuk ta’at kepadaNya dan yang demikian ini hatimu telah mulai bermuroqobah kepadaNya.

Dan ketehuilah sesungguhnya muroqobahadalah termasuk mqoomqt/kedudukan yang sangat mulia d dan termasuk kedudukan yang tinggi dan setinggi-tingginya derajad dan dia/muroqobahadalah maqom ihsan dimana RasuluLlah SAW telah memberi isyarat dalam sabdanya bahwa Al-ihsan adalah apabila engkau menyembahNya seakan-akan engkau melihatNya. Dan apabila engkau tidak dapat melihatNya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Ia melihatmu. Dan setiap hamba yang beriman akan yakin dan percaya bahwa bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi baik di langit maupun yang di bumi dan mereka mengetahui bahwa Allah selalu menyertainya di mana saja, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah dari segala gerak dan diamnya seorang hamba. Akan tetapi buah yang sedemikian ini akan dapat diperoleh dengan jalan mula-mula ia tidak melakukan amal perbuatan antara ia dengan Allah yang menyebabkan ia malu apabila amal ada orang saleh melihat apa yang ia lakukan tersebut . dan yang sedemikian ini adalah perbuatan yang mulia, dan dibalik semuanya adalah lebih mulia lagi, saampai seorang hamba hingga pada akhir umurnya tenggelam ke dalah HadratuLlah Ta’ala dan dia hilang/fana dari yang selain Allah. Dan sungguh baginya telah hilang pandangannya akan semua makhluk dikarenakan terpananya pandangannya kepada kebesaran Allah yang Maha Haq. Dan ia telah benar keyakinannya dihadapan Sang Raja yang maha kuasa. Dan wajib untukmu wahai saudaraku untuk selalu memperbaiki daen memperbagus bathiniahmiu agar lebih baik daripada lahiriahmu. Yang demikian itu dikarenakan bahwa yang bathiniah adalah tempat Allah melihat seorang hamba sedangkan lahiriah adalah tempat yang dilihat makhluk. . dan apa yang dijelaskan Allah di dalam kitabnya yang mulia / Al-Qr’an tentang masalah lahir dan bathin, maka Allah lebih mula menyebutkan kata bathin daripada lahir –berarti bathin lebih utama- sebagaimana do’a RasuluLlah SAW Yaa Allah jadikanlah bathiniahku lebih baik dari lahiriahku, dan jadikanlah lahiriahku dalam keadaan bagus. Dan manakala bagus bathiniah, maka akan bagus jugalah keadaan lahiriah tidak boleh tidak. Karena sesungguhnya yang lahir selamanya mengikuti yang bathin dalam hal baik dan buruknya. RasuluLlah SAW telah bersabda sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia buruk maka akan buruklah seluruh jasad. Ketauhilah sesungguhnya dia adalah hati.

Dan ketahuilahapabila ada seseorang yang mengaku /mendakwakan bahwa kondisi bathinnya telah bagus akan tetapi lahiriahnya rusak dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah, maka apa yang ia dakwakan tersebut adalah bohong belaka. Dan barang siapa yang bersungguh-sungguh memperbaiki/membeguskan lahiriahnya dengan mempercantik penampilannya, pembicaraannya, demikian juga mempercantik gerak geriknya , dan cara duduknya , dan cara berdirinya, dan cara ia berjalan, akan tetapi ia membiarkan bathiniahnya dalam keadaan yang buruk dengan akhlak yang buruk pula serta dengan tabiat yang kotor, maka ketahuilah bahwa ia termasuk min ahlil Tashonnu’ /orang ayng suka di buat-buat dalam hal tingkah lakunya,dan termasuk orang yang riya’ dan orang yang termasuk berpaling dari Tuhannya. Maka takulah wahai saudaraku jika engnkau menutupi / menyembunyikan sesuatu apabila orang banyak mengetahuinya niscaya engkau akan malu. Sebagian orang arifiinberkata Seorang Sufi belum termasuk golongan para Sufi hingga seandainya seluruh isi hatinya ditaruh dalam sebuah nampan dan di perlihatkan di tengah pasar maka ia tidaklah malu jika semua orang melihat isinya. Jiak engkau tidak mampu membuat bathinmu lebih baik daripada lahiriahmu, maka usahakan agar keduanya sama antara lahir dan bathinnya , maka apa yang engkau lakukan dalah hal melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangannNya dan dalam mengagungkanNya, dan usahamu mencari keridhoanNya , semua itu dalam keadaan sama (antara lahirr dan bathinnya). Dan apa yang disampaikan ini adalah langkah awal bagi orang yang melangkah jalan ma’rifatyang khos maka ketahuilah yang demikian itu semoga Allah selalu memberi taufik.

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 2: MENGIKHLASKAN NIAT

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)

Dan wajib bagi kamu wahai saudaraku, untuk memperbaiki niat dan mengikhlaskan niat tersebut dan bertafakur akan niatmu sebelum engkau memasuki amal/sebelum mengerjakan sesuatu amal ibadah. Karena sesunggunya niat itu adalah pondasi atau dasar daripada amal. Dan amal mengikuti niat Mengenai baik dan buruknya, rusak dan selamatnya dll. . dan sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya . dan bagi setiap manusia tergantung dari apa yang ia niatkan. .

Dan wajib juga bagi kamu semua, untuk tidak mengucapkan suatu perkataan atau tidak mengamlkan suatu amal perbuatan atau berkehendak mengerjakan sesuatu apapun kecuali niatmu dalam hal itu semua adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pahala yang baik di sisiNya. Dan ketahuikahsesungguhnya tidak akan dapat terjadi pendekatan diri kepada Allah Ta’ala kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah melalui Lisan RasulNya dari beberapa perbuatan farsddhu, dan sunnah, .

Maka menjadilah perbuatan yang mubah akan tetapi karena niatnya baik, maka perbuatan itu menjadi sebab mendekatnya diri kepada Allah. Seperti orang yang ketika makan ia berniat untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ta’at kepada Allah Ta’ala atau ketika menikah diniatkan untuk mendapatkan keturunya yang nantinya mereka akan menjadi orang yang ahli beribadah kepada Allah. Dan disyaratkan di dalam niat yang baik dimana harus dilanjutkan dengan amal perbuatannya. Misal orang yang mencari ilmu dan ia bercita-cita akan mengamalkan ilmunya, maka apabila ia tidak mengamalkan ilmu yag telah pernah diperolehnya ketika dia mampu untuk mengamalkannya, maka niatnya yang demikian itu bukanlah niat yang benar / niyatushoodiqoh. Demikian juga orang yang mencari harta dunia dengan niat agar ia tidak merepotkan orang lain, dan mnyedekahkannya kepada orang yang membutuhkan dari orang-orang yang miskin, atau untuk mempererat silaturrahmi dengan hartanya itu, apabila ia tidak melaksanakkannya apa yang ia niatkan ketika dia mampu maka niat yang demikian ini bukanlah termasuk niat yang benar atau niat yang Shoodiqoh. Dan ketahuilah bahwa niat yang baik itu tidak dihitung dalam amal perbuatan yang buruk misalnya orang yang ikiut mendengarkan pembicaraan ghaibah kepada sesama muslim yang mana dalam mendengarkannya tersebut dia berniat untuk menyenangkan hati orang yang sedanng ghaibah / membicarakan aib saudara se muslim, maka niatnya yang demikian ini bukanlah niat yang baik bahkan ia termasuk salah seorang diantara yang ikut ghaibah tersebut.

Dan barang siapa yang diam diri dari amar ma’ruf dan nahiii munkat dan dia mendakwakan bahwa niatnya itu agar tidak menyakiti hati orang yang melaksanakan perbuatan munkar, maka niat yang demikian ini bukanlah termasuk niat yang baik bahkan ia termasuk juga ke dalam golongan yang mellaksanakan kemungkaran. Demikian juga perbuatan yang baik, tetapi niatnya tidak baik juga tidak akan menghasilkan pahala yang baik di sisi Allah seperti orang yang melakukan amal salih akan tetapi niatnya untuk mendapatkan kedudukan atau biar dipiji oleh orang lain atau untuk mendatkan keuntuknagn materi. Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, agar niatmu dalam melakukan amal salih sebatas untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridhoan Allah dan niatkanlah semua amal yang dibolehkan / Mubaahat hanya untuk menambah ketaatan kepadaAllah Ta’ala. Dan ketahuilah sesungguhnya bisa terjadi juga satu amal shaleh di niatkan dengan beberapa niat yang baik dan mendapatkan pahala secara sempurna dari tiap-tiap niat tersebut semisal orang yang membaca Al-Qur’an dia niatkan untuk bermunajat kepada Rabbnya, atau ia niatkan agar orang yang mendengarkannya mendapat faidah atau manfaat dari apa yang ia baca. Dan semisal perbuatan mubah dalam hal makan, dimana ia niatkan dalam makan tersebut untuk menjalankan perintah Allahkarena Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’anul Kariim Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kamu sekalian dari rizki yang baik yang Aku berikan kepada kamu semua. Dan berniat pula dalam memakan makanan adalah untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ta’at kepada Allah dan juga dapat diniatkan pula untuk melahirkan rasa syukur kepada Allah sesuai dengan firman Allahdi dalam kitabNya makanlah kamu sekalian dari rizki yang diberikan kepadamu dan bersyukurlah kepadaNya.

Bersabda RosuuluLloohi SAW-Sesungguhnya Allah mencatat perbuatan baik dan buruk……dan selanjutnyaRasuluLlah SAW menerangkan bahwa-barang siapa mempunyai tujuan baik sedangkan ia tidak melaksanakannya maka Allah mencatat di sisiNya sebagai satu amal kebaikan yang sempurna. Dan barang siapa yang mempunyai niat baik juga ia melaksanaknnya maka Allah mencatatnya sebagai 10 kebaikan sampai 700 kebaikan bahkan sampai berlipat dengan kelipatan yang banyak. Dan jika ia berniat keburukan akakan tetapi tidak mengamalkannya, maka dicatatlah ia sebagai satu kebaikan, dan apa bila ia mengamalkannya maka hanya di catat sebagai satu keburukan saja.

KITAB RISALAH AL MUAWANAH FASAL 1: MEMPERKUATKAN KEYAKINAN MU

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH  TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)

Aku memohon kepada Allah agar dengan risalah ini memberikan manfaat kepadaku dan kepada sekalian orang Mukmin , maka Aku katakan -Maka wajib bagi kamu semua wahai saudraku yang terkasih, untuk memperkuat keyakinanmu dan mempercantiknya, karena sesungguhnya yakin apabila telah menetap di hati dan meluas di dalamnya maka segala sesuatu yang ghaib akan terlihat nyata bagimudan pada yang demikian ini maka berkatalah orang-orang yang yakin sebagaimana yang dikatakan Aly ra. wakarromaLlahu Wajhah ‘apabila disingkapkan tabir, maka akan bertambahlah keyakinan’. Dan yakin sesungguhnya adalah ibarat dari kekuatan iman yang meresap ke dalam jiwa yang menghilangkan segala keragu-raguan sehingga di dalam hati sama sekali bersih dari keadaan ragu-ragu dan cemas.. dan syaithan tidak akan mampu mendekat kepada mereka yang hatinya dipenuhi dengan yaqinbahkan mereka akan lari terbirit-birit mencari keselamatan. Sebagaimana yang disabdakan RasuluLlah SAW “Sesungguhnya syaithan menjauh dari bayang-bayang Umar. . tidaklah sekali-kali Umar melewati suatu jalan, sedang syaitan pasti melewati jalan yang lainnya–agar tidak berpapasan.

Dan yakin akan menjadi kuat dengan beebrapa sebab diantaranya

1. Hendaknya hamba Allah mencurahkan segala perhatiannya dan hatinya dan memperhatyikan dengan telinganya untuk mendengarkan ayat dan hadis yang menunjukkan kebesaran Allah Azza wa Jalla dan kesempurnaanNya, dan keagunganNya, dan kekuasaanNya dan kesendirianNya dalam mengatur urusan semua makhluk, dan kekuasanNya, serta memperhatikan akan kebenaran para Rasul As. Dan kesempurnaanmereka, dan terhadap apa-apa yang menguatakn risalah mereka dari beberpapa mukjizat, demikian juga memperhatikan mereka yang mendustakan Rasul hingga mereka mendapat siksa dari Allah , dan memperhatikan dengan segenap hatinya apa yang akan datang kelak di hariu akhirat berupa pahala yang bagus dari Allah yang dijanjikan bagi hambanya yang beriman dan berbuat kebajikan, demikian juga siksa yang akan dihadapi orang-orang yang berbuat maksiyat –Firman Alah ‘Apakah belum cukkup sesungguhnyan Kami turunkan kepada kamu Al-Kitab yang dibacakan kepada mereka.

2. hendaklah engkau melihat dengan i’tibar pada kerajaan langit dan bumi dan apa yang diciptakan Allah dari ciptan-ciptaan yang sangat aja’ib. Dan memperhatikan permulaan adanya segala yang diciptakan. –‘Dan akan Aku perlihatkan kepada mereka ayat-ayatKu di alam raya dan juga pada diri mereka hingga tampak jelas bahwasanya Allah Maha Benar’.

3. Hendaklah mengamalkan apa saja yang sesuai dengankeimanannya lahir bathin dan memperlihatkan keta’atan kepada Allah Azza Wa Jalla –‘Dan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mencariKu niscaya akan Aku tunjukkan jalanKu’.

Dan buah dari yaqinadalah tanangnya hati akan janji Allah dan mantap dengan apa-apa yang sudah ditanggung oleh Allah dan menghadap dengan segenap jiwa raganya dan meninggalkan segala yang menyibukkannya dari Allahdan kembali pada setiap kkesempatan kepaad Allah dan mencurahkan tenaga untuk mencari ridho Allah . maka Yakin sesungguhnya adalah dasar/pokok. Sedangkan segala maqoomaat yang mulia , dan akhlak yang terpuji, dan amal sholih, adalah termasuk cabangnya, dan buahnya, sedangkan alkhlak dan amal adalah mengikuti yaqin dalam hal kuat dan lemahnya serta sehat dan sakitnya.

Luqman As. telah berkata, “tidaklah amal akan terjadi kecuali setelah adanya yaqin. Dan tidak sekali-kali seorang hamba beramal kecuali sesuai dengan kadar keyakinannya. Dan ytidaklah sseorang hamba mengurangi amalnya hingga berkuranglah keyakinannya.. Dari itu RasuluLlah SAW bersabda, “Al-Yaqiin, adalah iman seluruhnya. Dan bagi orang yang beriman, ada tingkatan yaqiin yaitu

Derajad Ashabil Yamiin yaitu

1. Pembenaran mereka akan tetapi masih dimungkinkan mereka terserang ragu-ragu.

2. Derajad Muqorrobiinyang mana imannya telah bersinar dalam hati mereka dan menetap di dalamnya sehingga tidaklah tergambar di dalamnya akan cacat imannya itu, bahkan akan tampak berlimpah di dalam dadanya.

3. Derajat Nabiyyiinyaitu derajad para Nabi AS. Dan para ahli warisnya yaitu para Shiddiqiindimana bagi Mereka sesuatu yang Ghaib adalah tampak nyata adanya. Dan dapat memberikan i’tibarnya dengag tersingkapnya tabir / kasyf .