Tampilkan postingan dengan label Madarijus Salikin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madarijus Salikin. Tampilkan semua postingan

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 16 : Kendala-kendala Taubat Orang-orang Yang Bertaubat



Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Biasanya taubat orang-orang awam disertai dengan keberatan di
dalam hati karena menganggap jenis-jenis ketaatan dan kebaikan yang
harus dilakukan terlalu banyak. Jika dibandingkan dengan kedudukan
orang-orang yang khusus, hal ini akan menimbulkan tiga kerusakan:

1. Kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan merupakan keburukan menurut
orang-orang yang khusus. Kebaikan orang awam bisa menjadi
keburukan bagi orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Dia perlu
bertaubat dari kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, karena dia
melalaikan aib dan kekurangannya, karena menganggap kebaikankebaikan
yang dilakukannya itu sudah banyak. Dia mengingkari
nikmat Allah, karena nikmat itu tidak tampak atau ditangguhkan.
Jika engkau menginginkan pemahaman lebih mudah tentang hal ini,
maka perhatikanlah keadaanmu saat membaca Al-Qur'an. Jika engkau
tidak memahami, menelaah dan memikirkannya, menyimak apa yang
dimaksudkan dalam setiap ayat, tidak peduli terhadap seruan yang
seakan ditujukan kepadamu, engkau hanya ingin menamatkan bacaan,
engkau tidak merasakan pengobatannya di dalam hatimu, atau engkau
membacanya secara serampangan, tentu engkau akan merasa bahwa
bacaanmu terlalu banyak. Namun jika engkau menelaah, menyimak
maksud ayat-ayat yang engkau baca, merasa bahwa ayat-ayat itu ditujukan
kepadamu, engkau merasakan pengobatannya di dalam hatimu,
maka engkau tidak merasa bahwa engkau telah membaca satu ayat atau
satu surat dan seterusnya. Begitu pula jika engkau memaksakan hatimu
untuk khusyu' saat mengerjakan dua rakaat shalat sunat, maka shalat
berikutnya akan engkau kerjakan dengan berat hati. Tapi jika hatimu
tidak terbebani dengan hal itu, maka berapa pun rakaat yang engkau
kerjakan tidak akan terasa berat. Bertaubat dengan menganggap
ketaatan terlalu banyak tanpa memperhatikan aib dan kekurangannya,
adalah taubatnya orang awam.

2. Orang yang bertaubat merasa mempunyai hak terhadap Allah, agar Dia
memberikan pahala atas kebaikan-kebaikan yang dia kerjakan, dengan
memasukkannya ke surga dan memberinya kenikmatan serta
keridhaan. Akibatnya, pikiran seperti ini jauh lebih banyak dari porsi
kebaikan yang dia lakukan. Sementara amalan orang yang lebih rajin
dari dia pun belum menjamin dirinya masuk surga dan terbebas dari
api neraka. Tak seorang pun yangbisa selamat dari neraka dengan
amal-nya, kecuali setelah dia mendapat ampunan dan rahmat Allah.

3. Merasa tidak membutuhkan ampunan Allah, padahal dalam kenyataannya
dia masih membutuhkan ampunan dari kesalahannya dan pahala
dari kebaikan dan ketaatannya. Jika dia menganggap ketaatan yang
dilakukannya sudah banyak, lalu membuatnya merasa tidak membutuhkan
ampunan Allah, maka itu benar-benar merupakan kelancangan
terhadap Allah.
Tidak dapat diragukan bahwa hanya sekedar berbuat dengan amalamal
anggota tubuh tanpa disertai kehadiran hati dan menghadap diri
kepada Allah, maka bisa menimbulkan tiga macam kerusakan ini dan juga
lain-lainnya. Yang demikian ini tidak banyak memberikan manfaat di
dunia maupun di akhirat, seperti amal yang tidak memperhatikan ketentuan
perintah dan tidak disertai keikhlasan kepada Allah. Sekalipun amal
itu banyak, tapi tidak banyak bermanfaat dan hanya melelahkan. Sesungguhnya
Allah tidak menetapkan pahala bagi hamba dari shalatnya kecuali
yang dia hayati secara sungguh-sungguh. Begitu pula setiap ibadah yang
mengharuskan adanya kekhusyu'an.
Sedangkan kendala taubatnya orang-orang kelas menengah ialah
menganggap sedikit kedurhakaannya. Tentu saja ini merupakan sikap
yang lancang dan merasa dirinya dalam keadaan terjaga dari kesalahan.
Dengan kata lain, menganggap kedurhakaannya hanya sedikit adalah
perbuatan dosa, sebagaimana menganggap ketaatannya banyak, juga dosa.
Orang yang arif ialah yang memandang kebaikan-kebaikannya remeh
dan dosa-dosanya besar. Selagi kebaikan-kebaikannya dianggap kecil,
maka ia menjadi besar di sisi Allah. Selagi kebaikan-kebaikan itu terasa
banyak dan besar di dalam hatimu, maka ia menjadi sedikit dan kecil di
sisi Allah. Begitu pula sebaliknya yang berkaitan dengan keburukan. Siapa
yang mengetahui hak-hak Allah dan melaksanakan ibadah sesuai dengan
keagungan-Nya, maka kebaikan-kebaikannya tampak menjadi kecil,
dan dia merasa tidak bisa selamat dari siksaan-Nya.
Sedangkan kendala taubatnya orang-orang yang khusus adalah
membuang-buang waktu, lalu lama-kelamaan menjurus kepada
kekurangan, memadamkan cahaya pengawasan dan mengeruhkan
kebersamaan dengan Allah. Maksud membuang-buang waktu di sini
bukan berarti menghabiskan waktu dalam kedurhakaan dan canda atau
meninggalkan kewajiban. Sebab andaikan mereka berbuat seperti ini,
berarti mereka bukan termasuk orang-orang yang khusus, tapi orang-orang
awam. Waktu bagi mereka mempunyai pengertian yang spesifik. Bahkan
di antara mereka ada yang menyebut waktu di sini adalah kebenaran. Ada
pula yang mengartikannya kebenaran yang diselami hamba, atau
pengertian-pengertian lain yang serupa. Kendala taubat golongan ini ialah
dengan membuang waktu-waktu khusus dan yang sebaiknya digunakan
bersa-ma Allah dan tidak dikotori debu.
Ada pula kedudukan taubat yang lebih tinggi dan lebih khusus dari
gambaran-gambaran ini, yang tidak diketahui kecuali orang-orang khusus,
yang menganggap perbuatan, perkataan dan tindakannya masih terlalu
sedikit untuk memenuhi hak kekasihnya. Mereka tidak melihat apa yang ada
pada dirinya kecuali dari sisi kekurangannya saja, melihat keadaan
kekasihnya lebih agung, kekuasaannya lebih tinggi dari sekedar meridhai
amalnya. Mereka adalah orang-orang yang paling menghinakan amalnya
sendiri. Jika mereka merasa tidak mampu memenuhi hak kekasihnya,
maka mereka bertaubat seperti taubatnya orang yang melakukan dosa
besar. Jadi taubat tidak pernah mereka tinggalkan. Taubat mereka merupakan
satu warna tertentu, sedangkan taubat selain mereka merupakan
warna lain yang berbeda, sehingga tampak jelas perbedaannya.
Taubat tidak dianggap sempurna kecuali dengan membebaskan hati
dari maksud-maksud selain Allah, kemudian mengetahui alasan dari
taubat itu, kemudian bertaubat setelah tahu alasan tersebut. Jika sudah
begitu keadaannya, maka dia akan beribadah kepada Allah semata sesuai
dengan perintah-Nya, tidak menyekutukan-Nya dan memohon pertolong-an
kepada-Nya, sehingga semua yang ada pada dirinya bagi Allah dan
bersama Allah. Yang demikian ini tidak akan terjadi kecuali orang yang
sudah dikuasai rasa cinta, hatinya dipenuhi cinta kepada Allah, diisi pengagungan,
kepasrahan dan ketundukan kepada-Nya.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 15: Taubat Sebagai Persinggahan Pertama dan Terakhir



Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Jika seorang hamba sudah berada di persinggahan muhasabah ini
secara benar, maka ada persinggahan lain, yaitu taubat. Dengan muhasabah
dia bisa membedakan mana yang menjadi haknya dan mana yang menjadi
kewajibannya. Maka selanjutnya dia harus tetap membulatkan tekad dan
ambisi dalam melanjutkan perjalanan menuju Allah sampai akhir
hayatnya.
Taubat merupakan awal persinggahan, pertengahan dan akhirnya.
Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak
pernah lepas dari taubat, sampai ajal menjemputnya. Sekalipun dia ber-alih
ke persinggahan yang lain dan melanjutkan perjalanannya, taubat selalu
menyertainya. Taubat merupakan permulaan langkah hamba dan
kesudahannya. Kebutuhannya terhadap taubat amat penting dan mendesak,
tak berbeda dengan permulaannya. Allah befirman,

"Dan, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman, supaya kalian beruntung." (An-Nur: 31).

Ayat ini turun di Madinah. Di sini Allah mengarahkan firman-Nya
kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang pilihan-Nya, agar mereka
bertaubat, setelah mereka beriman, bersabar, berjihad dan berhijrah. Bahkan
Allah mengaitkan keberuntungan dengan satu sebab, dan juga
menggunakan kata "supaya", yang mengindikasikan pengharapan. Dengan
kata lain, jika kalian bertaubat, maka diharapkan kalian akan beruntung.
Sementara tidak ada yang mengharap keberuntungan kecuali orang-orang
yang bertaubat. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk golongan
mereka. Di samping itu, Allah juga befirman tentang kebalikan dari
golongan ini,

"Dan, barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orangorang
yang zhalim." (Al-Hujurat: 11).

Hamba dibagi menjadi orang yang bertaubat dan yang tidak bertaubat
atau zhalim. Tidak ada orang ketiga setelah itu. Cap zhalim diberi-kan
kepada orang yang tidak bertaubat dan tidak ada orang yang lebih zhalim
dari dirinya, karena dia tidak tahu Allah dan hak-Nya, tidak tahu aib
dirinya dan kekurangan amalnya.
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam, beliau bersabda,

"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah. Demi
Allah, aku benar-benar bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali
dalam sehari."

Dalam suatu majlis sebelum beliau beranjak pergi, para shahabat
pernah menghitung, beliau mengucapkan sebanyak seratus kali ucapan
berikut,

"Wahai Rabbi, ampunilah dosaku dan terimalah taubatku, karena Engkaulah
Maha Penerima taubat lagi Maha Pengampun."

Karena taubat itu merupakan langkah kembalinya hamba kepada
Allah dan meninggalkan jalan orang-orang yang mendapat murka lagi
sesat, maka dia tidak bisa memperolehnya kecuali dengan hidayah Allah
agar dia mengikuti ash-shirathul-mustaqim. Sementara hidayah-Nya tidak
bisa diperoleh kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya dan
mengesakan-Nya. Urutan-urutan semacam ini sudah terangkum secara
baik dan lengkap di dalam Al-Fatihah. Siapa yang memberikan hak kepada
Al-Fatihah sesuai dengan kapasitas ilmu, kesaksian, kondisi dan ma'-
rifahnya, tentu dia akan mengetahui, bahwa pembacaan surat Al-Fatihah
ini belum dianggap sah dalam ibadah kecuali disertai taubat yang sebenar-
benarnya (taubatan nashuha). Sebab hidayah yang sempurna untuk
mengikuti ash-shirathul-mustaqim tidak akan diperoleh jika tidak tahu
terhadap dosa yang telah dilakukan, terlebih lagi jika dosa itu terus-menerus
dilakukan. Karena itu taubat dianggap tidak sah kecuali setelah mengetahui
dosa dan mengakuinya, lalu berusaha mencari jalan keselamatan
dari akibat yang akan diterima di kemudian hari.
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam taubat, yaitu penyesalan,
meninggalkan dosa yang dilakukan, dan memperlihatkan kelemahan serta
ketidakberdayaan.
Hakikat taubat adalah menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan di
masa lampau, membebaskan diri seketika itu pula dari dosa tersebut dan
bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang. Tiga syarat
ini harus berkumpul menjadi satu pada saat bertaubat. Pada saat itulah dia
akan kembali kepada ubudiyah, dan inilah yang disebut hakikat taubat.
Menurut Abu Ismail, rahasia hakikat taubat ada tiga macam:
1. Memisahkan ketakutan dari kemuliaan.
2. Melupakan dosa dan kesalahan.
3. Taubat dari taubat.
Memisahkan ketakutan dari kemuliaan, bahwa taubat itu harus
dimaksudkan sebagaiwujud ketakutan kepada Allah, melaksanakanperin-tah
dan menjauhi larangan-Nya, lalu dia melaksanakan ketaatan kepada Allah
berdasarkan cahaya dari Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Dia juga
harus meninggalkan kedurhakaan kepada Allah berdasarkan cahaya dari-
Nya, takut terhadap siksa-Nya dan tidak dimaksudkan untuk menda-patkan
kemuliaan. Karena bagaimana pun juga ketaatan itu mempunyai
kemuliaan dalam lahir maupun batin. Siapa yang bertaubat dengan maksud
untuk mencari kemuliaan, maka taubatnya itu menjadi sia-sia.
Melupakan dosa dan kesalahan harus dirinci lebih lanjut lagi. Bahkan
ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di kalangan orang-orang
yang meniti jalan kepada Allah. Di antara mereka ada yang berpendapat,
sibuk mengingat dosa adalah perbuatan yang sia-sia. Mempergunakan
waktu bersama Allah jauh lebih bermanfaat bagi orang yang bertaubat.
Maka ada pepatah, "Mengingat masa kemarau di musim penghujan adalah
kemarau." Ada pula yang berpendapat, memang yang lebih tepat ialah tidak
melupakan dosa itu dan dosa itu seakan-akan harus selalu hadir di depan
matanya, sehingga membuat hatinya senantiasa sedih.
Yang benar dalam masalah ini, jika seorang hamba merasakan adanya
ujub pada dirinya, melupakan karunia dan tidak merasa membutuhkan
Allah atau tidak melihat kekurangan dirinya, maka mengingat dosa lebih
bermanfaat baginya. Namun pada saat dia melihat karunia Allah yang
dilimpahkan kepadanya, hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah,
kerinduan untuk bersua dengan-Nya, merasakan kebersamaan dengan-
Nya, melihat keluasan rahmat dan ampunan-Nya, maka melupakan dosa
dan kesalahan lebih bermanfaat baginya. Sebab jika seorang hamba te-rusmenerus
mengingat dosa dan kesalahannya, sementara dia dalam keadaan
yang kedua ini, maka dia akan turun dari tingkatan yang tinggi ke
tingkatan yang rendah, dan ini termasuk tipu daya syetan. Sebab dua
keadaan ini harus dibedakan.
Sedangkan taubat dari taubat, merupakan istilah yang masih ran-cu,
bisa berarti benar dan bisa berarti salah. Taubat termasuk kebaikan yang
paling agung. Taubat dari kebaikan merupakan keburukan yang paling
besar dan kesalahan yang paling buruk, bahkan bisa disebut ku-fur. Sebab
dengan begitu tidak ada bedanya antara taubat dari taubat dan taubat dari
Islam serta iman. Layakkah dikatakan taubat dari iman? Jika seorang
hamba senantiasa beserta Allah, senantiasa mengingat karunia, menyebut
asma' dan sifat-sifat-Nya serta senantiasa menghadap kepada-Nya, namun
dia juga masih mengingat-ingat dosanya yang telah lampau sebagai
perwujudan taubat, maka dia perlu bertaubat dari taubatnya itu.

KITAB MADARIJUS SALIKIN SIRI 14: MUHASABAHDAN PILAR-PILARNYA



Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Siapa pun yang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak lepas dari empat
persinggahan, yaitu al-yaqzhah, al-bashirah, al-fikrah dan alazm.

Empat persinggahan ini tak ubahnya pilar bagi suatu bangunan.

Perjalanan tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan melewati empat
persinggahan ini, tak ubahnya perjalanan secara nyata yang harus melewati
beberapa etape. Orang yang hanya menetap di kampung halaman-nya, tidak
berpikir untuk mengadakan perjalanan kecuali dia sadar dari kelalaiannya
untuk mengadakan perjalanan. Jika sudah memiliki kesadaran, maka dia
harus mengetahui segala urusan tentang perjalanannya, bahaya, manfaat
dan kemaslahatannya. Kemudian dia berpikir untuk mengadakan
persiapan dan mencari bekal. Kemudian dia harus memiliki tekad yang
bulat. Jika tekad dan maksudnya sudah bulat, maka dia mulai beralih ke
persinggahan muhasabah, atau memilah antara bagiannya dan
kewajibannya. Dia boleh mengambil apa yang menjadi bagiannya dan
harus melaksanakan kewajibannya. Sebab dia akan mengadakan
perjalanan dan tidak akan kembali lagi.

Dari muhasabah dia beralih ke taubah. Sebab jika dia sudah menghisab
dirinya, tentu dia akan mengetahui hak yang harus dia penuhi, lalu
keluar untuk memberikan hak itu kepada yang berhak menerimanya.

Inilah hakikat taubat. Tetapi dengan mendahulukan muhasabah akan
menjadi lebih baik. Kalaupun mendahulukannya juga tidak apa-apa, karena
muhasabah tak bisa dilakukan kecuali setelah ada taubat yang sebenarnya.
Yang pasti, taubat itu ada di antara dua muhasabah, yaitu muhasabah
sebelum taubat yang hukumnya wajib dan muhasabah sesudah taubat yang
hukumnya harus tetap dijaga. Taubat akan tetap terjaga jika berada di antara
dua muhasabah ini, sebagaimana yang ditunjukkan firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat)." (Al-Hasyr: 18).

Maksud "Memperhatikan" dalam ayat ini ialah memperhatikan kelengkapan
persiapan untuk menyongsong hari akhirat, mendahulukan apa
yang bisa menyelamatkannya dari siksa Allah, agar wajahnya menjadi bersih
di sisi Allah. Umar bin Al-Khaththab pernah berkata, "Hisablah diri kalian
sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang
dan berhiaslah kalian untuk menghadapi hari penampakan yang agung."

Menurut Abu Isma'il, pengarang Manalizus-Sa'irin, ada tiga pilar
yang menopang muhasabah, yaitu:


1 Membandingkan antara Nikmat Allah dan Kejahatanmu

Maksudnya, engkau harus membandingkan apa yang berasal dari
Allah dan apa yang berasal dari dirimu. Dengan begitu engkau akan
mengetahui letak ketimpangannya, dan engkau juga akan mengetahui
bahwa di sana hanya ada ampunan dan rahmat Allah di satu sisi, dan di
sisi lain adalah kehancuran dan kerusakan.

Dengan membandingkan seperti ini engkau bisa mengetahui bahwa
Allah adalah Allah dalam pengertian yang sebenarnya, dan hamba adalah
hamba dalam pengertian yang sebenarnya. Engkau juga akan mengetahui
hakikat jiwa dan sifat-sifatnya, keagungan Rububiyah Allah, hanya
Allahlah yang memiliki kesempumaan, setiap nikmat berasal dari-Nya
sebagai karunia, dan siksaan juga berasal dari-Nya yang ditimpakan
secara adil. Jika engkau tidak membuat perbandingan seperti ini, tentu
engkau tidak akan bisa mengetahui hakikat dirimu sendiri dan Rububiyah
Pencipta jiwamu. Jika engkau membuat perbandingan seperti ini, maka
engkau akan tahu bahwa jiwamu adalah sumber segala kejahatan dan
kekurangan. Sedangkan hukum yang dimilikinya adalah kebodohan dan
kezhaliman. Andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang
mensucikan jiwa itu, tentu ia tidak akan menjadi suci sama sekali.
Kemudian engkau juga bisa membandingkan antara kebaikan dan
keburukan. Sehingga dengan membandingkan ini engkau bisa mengetahui
mana yang lebih banyak dan mana yang lebih dominan di antara
keduanya. Perbandingan yang kedua ini merupakan perbandingan antara
perbuatanmu dan apa yang datang dari dirimu secara khusus.

Seseorang tidak bisa membuat perbandingan ini jika dia tidak
memiliki tiga indikator:

1. Cahaya hikmah
2. Buruk sangka terhadap did sendiri
3. Membedakan antara nikmat dan ujian.

Cahaya hikmah merupakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam
hati orang-orang yang mengikuti para rasul. Dengan kata lain, cahaya
hikmah adalah ilmu yang dimiliki seseorang sehingga dia bisa membedakan
antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, mudharat dan
manfaat, yang sempurna dan yang kurang, yang baik dan yang buruk.
Dengan cahaya hikmah ini seseorang bisa melihat tingkatanrtingkatan
amal, mana yang harus dipentingkan dan mana yang tidak dipenting-kan,
mana yang harus diterima dan mana yang ditolak. Jika cahaya ini kuat,
maka muhasabah juga akan kuat dan sempurna. Buruk sangka terhadap
diri sendiri amat diperlukan, sebab baik sangka terhadap diri sendiri akan
menghalangi koreksi dan kerancuan, sehingga dia melihat keburukan
sebagai kebaikan, aib sebagai kesempumaan. Membedakan nikmat dari
ujian, artinya membedakan nikmat yang dilihatnya sebagai kebaikan dan
kasih sayang Allah serta yang bisa membawanya kepada kenik-matan
yang abadi, dan membedakannya dengan nikmatyang hanya seke-dar
sebagai tipuan. Sebab berapa banyak orang yang tertipu dengan nik-mat,
sementara dia tidak menyadarinya, tertipu oleh pujian orang-orang bodoh,
terpedaya oleh limpahan Allah, dan justru kebanyakan manusia termasuk
dalam kelompok yang kedua ini.

Tiga indikator ini merupakan tanda kebahagiaan dan keselamatan.
Jika tiga hal ini dilaksanakan secara sempurna, maka seseorang bisa
mengetahui nikmat Allah yang sebenarnya. Selain itu ada ujian yang
berupa nikmat atau cobaan berupa limpahan pemberian. Maka hendaklah
setiap orang mewaspadai hal ini, sebab dia berada di antara anugerah dan
hujjah, dan banyak orang yang timpang dalam membedakan dua hal ini.


2. Membedakan antara Bagian dan Kewajiban

Harus ada pemilahan antara hak-hak yang harus engkau penuhi,
seperti kewajiban-kewajiban ibadah, ketaatan dan menjauhi kedurhakaan, dan
hak yang menjadi bagianmu. Apa yang menjadi bagianmu adalah mubah
menurut ketetapan syariat, dan apa yang menjadi kewajibanmu harus
engkau penuhi dan engkau harus memberikan hak kepada siapa pun yang
berhak menerimanya.

Banyak orang yang mencampur aduk antara kewajiban dan hak-nya,
sehingga dia sendiri menjadi kebingungan antara mengerjakan dan
meninggalkan. Banyak orang yang sebenarnya dia boleh mengerjakan
sesuatu namun dia justru meninggalkannya, seperti orang yang raj in
beribadah dengan meninggalkan apa yang sebenarnya boleh dia kerja-kan,
seperti meninggalkan hal-hal yang mubah, karena dia mengira bah-wa hal
itu tidak boleh dia kerjakan. Begitu pula sebaliknya, orang yang rajin
beribadah dengan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya harus dia
tinggalkan, karena dia mengira hal itu merupakan haknya.

Yang pertama seperti orang yang rajin beribadah dengan tidak mau
menikah, tidak mau memakan daging, buah-buah, makanan yang lezat dan
pakaian yang bagus. Karena kebodohannya dia mengira bahwa semua itu
merupakan larangan baginya, sehingga dia harus meninggalkannya, atau dia
berpendapat bahwa dengan meninggalkannya akan membuat ibadahnya
bertambah afdhal. Dalam Ash-Shahih disebutkan pengingkaran Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap beberapa shahabat yang tidak mau
menikahi wanita, terus-menerus berpuasa dan shalat malam. Yang kedua
seperti orang yang rajin beribadah, namun bid'ah. Dia melihat cara
ibadahnya itu benar, karena begitulah yang banyak dilaku-kan orang.


3. Tidak Ridha terhadap Ketaatan Yang Dilakukan

Engkau harus tahu bahwa setiap ketaatan yang engkau ridhai, akan
menjadi beban dosa bagimu, dan setiap kedurhakaan yang dituduhkan
saudaramu kepadamu, maka terimalah tuduhan itu dan anggaplah bahwa
memang itulah yang benar. Sebab keridhaan seorang hamba terhadap
ketaatan dirinya merupakan bukti baik sangka terhadap diri sendiri dan
kebodohannya terhadap hak-hak ubudiyah serta tidak tahu apa yang
dituntut Allah darinya, lalu akhirnya melahirkan takabur dan ujub, yang
dosanya lebih besar dari dosa-dosa besar yang nyata, seperti zina, minum
khamr, lari dari medan peperangan dan lain-lainnya.

Orang-orang yang memiliki bashirah justru lebih meningkatkan
istighfar setelah mengerjakan berbagai macam ketaatan, karena mereka
menyadari keterbatasannya dalam melaksanakan ketaatan itu dan merasa
belum memenuhi hak-hak Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Allah juga
memerintahkan agar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa
memohon ampunan dalam setiap kesempatan dan sehabis melaksanakan
tugas-tugas risalah atau setelah melaksanakan suatu ibadah. Dalam surat
terakhir yang diturunkan, Allah juga tetap memerintahkan beliau untuk
memohon ampunan,

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu
lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka
bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-
Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat." (An-Nashr: 1-3).

Maka Umar bin Al-Khaththab dan Ibnu Abbas memahami turunnya
surat ini sebagai isyarat telah dekatnya ajal beliau. Seakan-akan Allah
hendak memberitahukan hal ini kepada beliau, dengan memerintahkan
agar beliau memohon ampunan sehabis mengerjakan setiap tugas.

Dengan kata lain, surat ini semacam pemberitahuan: Engkau telah rampung
mengerjakan kewajibanmu dan tidak ada lagi kewajiban yang menyisa
setelah itu. Maka jadikanlah istighfar sebagai kesudahannya.