Tampilkan postingan dengan label Tarekat Agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarekat Agung. Tampilkan semua postingan

ASAL USUL TAREKAT NAQSYABANDIYAH MUDZHARIYAH DI NUSANTARA



Nama lengkap tarekat ini adalah Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Ma’shumiyah Ahmadiyah Mazhariyyah. Di Indonesia disingkat namanya menjadi Tarekat Naqsyabandiyah Al Muzhariyah. Tarekat Naqsyabandi cabang Muzhariyah ini berasal dari India. Masuk ke kawasan Indonesia sudah 150 tahun yang lampau tidak langsung dari India tapi melalui kota suci Mekkah. Gerakan tarekat sufi ini sampai sekarang masih subur berkembang di Indonesia.

Dalam sejarah perkembangan dan penyebaran agama Islam di India Tarekat Naqsyabandiyah adalah yang di depan sebagai motivator dan penggeraknya. Salah satu tokoh Naqsyabandi yang paling masyhur dan berjasa atas penyebaran agama Islam dan tarekat adalah Imam Rabbani Al Mujaddid Al Fits-tsani Syaikh Ahmad Faruq Al Syahrondi ( Imam Sirhindi ).

Setelah Syaikh Ahmad Faruq wafat kepemimpinan di khanaqah pusat Kota Delhi dilanjutkan oleh putranya yang bernama Syaikh Muhammad Ma’shum Al Ahmadi, kemudian dilanjutkan oleh putra Muhammad Ma’shum yaitu Syaikh Muhammad Syaifiddin Al Ahmadi. Khanaqah yang satu ini tetap pada posisinya sebagai yang paling menonjol dan berwibawa di India. Mereka menyebut diri sebagai keluarga Al Faruqi atau Al Ahmadi. Hampir seluruh keluarga ini menjadi syaikh Naqsyabandi dan ulama’ yang sangat terkemuka di belahan India. Keluarga mereka rata-rata ahli hadist dan tafsir serta mempunyai reputasi pendidikan agama yang sangat luar biasa.

Di belakang hari kedudukan syaikh Naqsyabandi di Kota Delhi tidak selamanya ditangan keluarga. Tokoh dan pengganti yang paling menonjol dan mempunyai bakat kesufian Naqsyabandi serta menguasai berbagai cabang ilmu ke agamaan adalah syaikh Habibillah Al Marazjan. Di India beliau terkenal dengan nama Mirza Mazhar Jan-i janan atau Mudzhar khan atau Syamsuddin Habiballah. Beliau dengan tekun dan penuh semangat melanjutkan perjuangan pendahulunya yaitu Syaikh Ahmad Faruq Al Syahrandi untuk menegakkan syariat Islam di India dan meluruskan serta menolak paham wahdatul wujud.

Setelah Syaikh Habibillah Al Marazjan wafat puncak kepemimpinan Naqsyabandi di Kota Delhi diganti oleh Khalifah kepala dari syaikh Habibillah yaitu Syaikh Abdallah Al Dahlawi. Di India beliau dikenal dengan nama sufinya yaitu Syah Ghulam Ali Yahya. Karena kealiman dan bakat kesufianya yang luar biasa sehingga khanaqah nya berhasil menarik pelajar dari seluruh India, Afganistan, Bukhara ( Rusia ), Samarqandi, Tasykent, dan Kurdistan.

Syaikh Abdallah ad Dahlawi mengangkat puluhan khalifah dari luar negeri. Salah satu khalifah nya adalah seorang keturunan darah dari Imam Rabbani al Mujaddid al Fits-tsani yang bernama syaikh Abu Sa’id al Ahmadi. Syaikh Abu sa’id juga mempunyai banyak murid dari berbagai belahan dunia ini. Syaikh Abu Sa’id wafat di Tonk pada tahun 1835.

Setelah syaikh Abu Sa’id wafat beliau digantikan oleh putranya yang bernama Ahmad Sa’id al Ahmadi. Syaikh Ahmad Sa’id menetap di kota Madinah. Beliau mengajar tarekat Naqsyabandiyah dan berbagai cabang ilmu keagamaan, dan mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pelajar yang datang dari berbagai belahan dunia. Seperti ayah nya, syaikh Ahmad Sa’id juga mengangkat puluhan khalifah dari Turki, Damaskus, Pakistan, Afganistan, dan Daghistan.

Setelah syaikh Ahmad Sa’id wafat pada tahun 1861, kepemimpinan syaikh tarekat di Madinah digantikan oleh putranya yang bernama Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi.

Nah, dari syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi inilah dibelakang hari muncul nama tarekat NAQSYABANDIYAH MUDZHARIYAH di Indonesia, khususnya di Madura Jawa Timur.

Syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi sangat berpengaruh seperti pendahulunya. Beliau sangat terpelajar dalam ilmu tasawwuf dan agama, dikagumi para pelajar dari luar kota Madinah seperti dari Daghistan, India, Afrika, Yaman, Damaskus, Kurdistan, Afghanistan, serta Mesir, dan mengangkat sejumlah khalifah dari negara-negara tersebut.

Syaikh-syaikh tarekat Naqsyabandi sekarang yang memperoleh jalur isnad atau garis silsilah dari syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi ini menisbatkan tarekat Naqsyabandiyah nya menjadi tarekat NAQSYABANDIYAH AL MUDZHARIYAH.

Jadi, munculnya cabang muzhariyah, khalidiyah, Sulaimanliyah, haqqani, dan sebagainya adalah karena memang dinisbatkan kepada syaikh-syaikh yang berpengaruh dalam silsilah tarekat itu. Salah satu contoh adalah Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pengikut tarekat Naqsyabandi cabang khalidiyah ini dinisbatkan kepada syaikh Maulana Khalid Kurdi (wafat pada tahun 1826 di Damaskus). Maulana Khalid adalah khalifah dari Abdallah ad Dahlawi untuk daerah Kurdistan. Syaikh-syaikh Naqsyabandi sekarang yang memperoleh jalur isnad atau garis silsilah dari Syaikh Maulana Khalid menamakan dirinya pengikut tarekat NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH.

       Syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi wafat pada tahun 1884. Khalifah nya yang paling berpengaruh di Mekkah adalah Syaikh Abdul Hamid as Syirwani dan Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Syaikh Muhammad Shaleh adalah seorang ulama Afrika Utara yang sangat masyhur dari keluarga az Zawawi.

Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki adalah ulama’ dan guru tarekat Naqsyabandi yang sangat saleh. Seorang pengamat dari Belanda yang banyak menulis tentang Islam dan tarekat, Snouck Hurgronje, menaruh rasa hormat dan memberi kesaksian bahwa Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi adalah seseorang yang dapat diajak bicara, Ulama’ yang shaleh dan seorang sufi yang dengan mendalam telah menyelami rahasia-rahasia tarekat. Syaikh Muhammad Shaleh, kata Snouck Hurgronje, menolak orang-orang yang ingin masuk tarekat kalau belum memiliki pengetahuan keislaman yang mendalam (sebagian penulis Indonesia menuduh Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis. Dia dituduh pura-pura masuk Islam dan mengganti namanya dengan nama Haji Abdul Gaffar). Terlepas dari pujian orang luar seperti Snouck Hurgronje, kenyataanya Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi adalah seorang wali Allah yang memang sangat disegani oleh ulama’-ulama’ lain yang ada di Mekkah pada waktu itu. Syaikh Muhammad Shaleh adalah khalifah dari syaikh Maulana Mudzhar al Ahmadi yang sukses menyebarkan tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah kepada para pelajar yang datang ke Mekkah.

Murid-murid Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi juga terdapat dari kalangan raja-raja. Contohnya adalah Raja Muhammad Yusuf. Dia adalah seorang pengganti tahta kesultanan Riau Indonesia pada tahun 1858, dia bergelar Yang Dipertuan Muda Kesepuluh. Di samping seorang raja, dia bertindak sebagai Syaikh Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah di kepulauan Riau antara tahun 1859 hingga 1899. Contoh yang lain adalah raja-raja Pontianak, Kalimantan Barat, yang tergolong garis keturunan Rasulullah SAW dari Marga al Qadri. Mereka adalah murid-murid dari syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Para pelajar dan pegawai kesultanan Pontianak yang pergi menunaikan ibadah haji oleh Sultan semuanya dipercayakan untuk diurus oleh keluarga Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Hubungan anatara syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki dengan kesultanan Pontianak begitu erat. Pada tahun 1884 ketika putra Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang bernama Abdullah punya masalah politik dengan syarif Mekkah, beliau hijrah ke Pontianak Kalimantan Barat. Tujuh tahun kemudian atas persetujuan residen Belanda beliau diangkat menjadi mufti sunni di Kesultanan Pontianak. Bahkan di kemudian hari cucunya yang bernama Syaikh Yusuf Ali Abdallah az Zawawi pernah menjadi mufti sunni di Negara Bagian Trengganu Malaysia hingga akhir hayatnya tahun 1980.

Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi mengangkat berpuluh-puluh khalifah. Sejumlah khalifah yang sangat terkenal antara lain Syaikh Abdallah az Zawawi (Putranya sendiri), Syaikh Abdul Hamid dari negara Daghistan, Syaikh Muhammad Murad al Qazani dari negara Uzbekistan, Syaikh Abdul Adzim dari Madura Indonesia.

Syaikh Abdul Hamid ad Daghistan bersahabat karib dengan pensyarah hadist Muslim yaitu Syaikh Nawawi Banten. Di samping bersahabat dengan Syaikh Nawawi beliau juga bersahabat dengan Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan Madura Indonesia.

Syaikh Muhammad Murad al Qazani juga menyebarkan tarekat dan mengangkat 3 khalifah untuk Pontianak antara lain: Sayyid Ja’far al Saqqaf, Sayyid Ja’far al Qadri, dan Syaikh Haji Abdul Aziz dari kampung Kamboja.

Semua khalifah-khalifah dari Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang dijelaskan di atas sekarang tampaknya telah putus dan hilang dari Indonesia. Justru Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah bisa berjaya sampai saat ini karena berkat perjuangan dari khalifah Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang bernama Syaikh Abdul Adzim dari Bangkalan Madura Jawa Timur.

Syaikh Abdul Adzim adalah seorang Wali Allah yang sangat terpelajar. Beliau menguasai berbagai cabang ilmu agama. Sebagai mursyid Tarekat beliau telah sukses menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah ke Republik Indonesia. Hampir semua keluarganya mengabdikan dirinya kepada Islam dan menjadi ulama serta waliyullah. Beliau masih sepupu dengan ulama legendaris seperti Syaikh KH Muhammad Kholil Bangkalan, dan Syaikh KH Zainal Abidin Kwanyar (Bujuk Cendana) Bangkalan.

Syaikh Abdul Adzim mempunyai beberapa khalifah yang sangat 'alim. Mereka diangkat Khalifah oleh Syaikh Abdul Adzim untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah di Nusantara ini. Lima di antara mereka adalah Syaikh Hasan Basuni Pakong Pamekasan, Syaikh Muhammad Shaleh al Maduri, Syaikh Zainal Abidin kwanyar Bangkalan (Bujuk Cendana), Syaikh Muhammad Jazuli Sampang, dan Syaikh Ahmad Syabrawi al Maduri.

Dari 5 khalifah Syaikh Abdul Adzim al Maduri tersebut Tarekat Naqsyabandiyah menjadi kokoh di Nusantara ini. Selama 100 tahun lebih Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah mendominasi Jawa Timur dan Kepulauan Madura. Sebelum wafat para syaikh-syaikh tarekat mengangkat khalifah atau pengganti baru. Hingga sampai saat ini Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah tetap ada dan berjaya di Republik Indonesia ini.

Pada era tahun 1975 hingga tahun 1996 guru mursyid Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah yang paling berpengaruh dan paling banyak pengikutnya adalah Syaikh KH Lathifi Baidhowi dari Malang Selatan Jawa Timur. Sebelum beliau wafat pada tahun 1996, Kepemimpinan Mursyid oleh Syaikh KH Lathifi Baidhowi diberikan kepada putranya yang bernama Syaikh KH Zahid Lathifi dan putra KH Ali Wafa yang bernama KH Thaifur Ali Wafa. Kedua guru Mursyid ini sekarang aktif di Indonesia.

Garis silsilah atau rantai isnad Syaikh KH Lathifi Baidhowi adalah sebagai berikut ; Syaikh KH Lathifi Baidhowi memperoleh ijazah dari syaikh KH Ali Wafa Ambunten Sumenep, Syaikh Ali Wafa memperoleh ijazah dari Syaikh KH Ahmad Syirajuddin Sampang, syaikh Ahmad Syirajuddin Memperoleh Ijazah dari Syaikh KH Hasan Basuni Pakong Pamekasan, Syaikh Hasan Basuni memperoleh ijazah dari Syaikh Abdul Adzim Bangkalan, Syaikh Abdul Adzim memperoleh ijazah dari Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki, Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi memperoleh Ijazah dari Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi al Madani, Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi memperoleh ijazah dari syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi, dan seterusnya. Demikianlah rantai isnad atau jalur silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah milik syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang Indonesia.

            Selain ijazah dari jalur Madura tersebut Syaikh KH lathifi Baidhowi memperoleh ijazah dari jalur langsung Mekkah. Ijazah tarekat yang diberikan Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki kepada Syaikh KH Lathifi Baidhowi adalah sama-samaTarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Ahmadiyah. Untuk mengetahui asal-usul dari rantai isnad ini mari kita kembali kepada Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi.

Seperti telah disebutkan, Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi juga mengangkat khalifah-khalifah dari Negara Turki, Damaskus, Afganistan, Daghistan, Pakistan dan lain-lain. Salah satu khalifah dari Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi dari Afganistan adalah Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Shaykh Haji Dost Muhammad al Qandhari tinggal di Negeri Afghanistan. Karena kesalehan dan kealimannya beliau banyak menarik pelajar dari seluruh Negeri Afghanistan.

Dost Muhammad al Qandhari lahir dan menerima pendidikan di kota Qandahar Negara Afganistan. Sewaktu masih muda beliau bertemu dengan guru besar Tarekat Naqsyabandiyah India yaitu Syaikh Abdullah ad Dahlawi di Masjid Nabawi Madinah. Pertemuan itu sangat mengesankan bagi Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Syaikh Abdullah ad Dahlawi telah menuangkan faid (rahasia-rahasia tarekat) kepada dada Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Dost Muhammad al Qandahari kemudian berguru kepada khalifah Syaikh Abdullah ad Dahlawi di India yaitu kepada Syaikh Abu Sa’id al Ahmadi dan kepada putra Syaikh sekaligus  khalifahnya yaitu Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi
Dalam waktu empat belas bulan Haji Dost Muhammad al Qandhari tinggal bersama Syaikh Ahmad Sa’id di Madinah. Dan dalam masa itu Syaikh Ahmad Sa’id mengangkat Dost Muhammad al Qandari menjadi khalifah nya di Daerah Afghanistan.

Setelah mendapat ijazah dari gurunya itu beliau lalu tinggal di kota Qandahar. Namun pada tahun 1842 di daerah Afghanistan yang merupakan jajahan Inggris terjadi pertikaian politik. Pada tahun itu penguasa Afghanistan yang bernama Shah Shuja terbunuh sehingga berakibat fatal bagi ulama’-ulama’ di Afghanistan. Syaikh Haji Dausat muhammad al Qandahari terpaksa disuruh hijrah ke Daerah Pasto dan Punjab oleh gurunya yang bernama Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi. Namun Dost Muhammad al Qandhari memilih dan menetap di desa Mussa Zai Sharif di dekat Dera Ismail Khan Negara Pakistan. Beliau mendirikan khanaqahnya dan menyebarkan tarekat di sana.

Pada waktu Syaikh Dausat Muhammad al Qandhari tinggal di Negeri Afganistan beliau banyak menarik pelajar dari seluruh negeri. Begitu pula aktifitasnya di negeri Pakistan. Haji Dost Muhammad al Qandhari wafat pada tanggal 17 Februari 1868 di makamkan di Desa Mussa Zai Sharif (Pakistan).

Sebelum wafat Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari mengangkat khalifah yang juga sangat terpelajar dalam ilmu agama untuk menggantikannya yaitu Syaikh Muhammad Usman ad Damani.

Syaikh Muhammad Usman ad Damani lahir pada tahun 1244 H di Kota Loni di distrik Dera Ismail Khan Pakistan. Beliau adalah seorang khalifah Khwaja Dost Muhammad Qondhari dan merupakan penerus khanaqah Mussa Zai Sharif. Tidak hanya Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah, Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari juga memberikan ijazah tarekat Qadiriyah, Chistiyah, Suhrawardiyah, Sattariyah, Madariyah, Kubrawiyah, dan Qalandariyah, yang dimilikinya kepada Syaikh Muhammad Usman Damani. Di seluruh Negeri Pakistan Syaikh Muhammad Usman Damani sangat berpengaruh dan mempunyai banyak pengikut. Beliau banyak mengarang kitab yang diterbitkan dalam sebuah koleksi yang bernama Tuhfah Zahidiyah. Beliau juga mengangkat empat khalifah untuk menjadi pegantinya. Mereka antara lain: Syaikh Muhammad Sirajuddin an Naqsyabandi (putranya sendiri), Sayyad Laal Shah Hamdani (Wafat tahun 1896), Syaikh Maulana Syirazi, Syaikh Abdurrahman Bahadur Kilmi (wafat tahun 1222 H).

Syaikh Muhammad Usman ad Damani wafat pada hari Selasa tanggal 26 Januari 1897 dan dimakamkan di Mussa Zai Sharif di samping makam Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Pengganti utama dan khalifah di Khanaqah Mussai Zai Sharif adalah putranya yang bernama Syaikh Khwaja Muhammad Sirajuddin. Seperti ayahnya, Syaikh Muhammad Sirajuddin juga adalah seorang guru tarekat yang sangat 'alim. Beliau adalah seorang sarjana muslim dan guru sufi terkemuka dari Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Selatan. Beliau banyak mengangkat khalifah dari berbagai Negara. Jumlah khalifahnya adalah 36 orang.

Pada waktu masih muda Syaikh Muhammad Sirajuddin berguru kepada Syaikh Mulla Shah Muhammad. Beliau Mendapat prestasi yang cukup menakjubkan, dalam usia 14 tahun Muhammad Sirajuddin Kecil telah menuntaskan berbagai ilmu dalam semua cabang keagamaan. Syaikh Muhammad Sirajuddin mengambil tarekat dari ayahnya, beliau juga  mempelajari maktubat Syaikh Imam Sirhindi dan karya Syaikh Muhammad Ma’sum al Ahmadi. Syaikh Muhammad Usman ad Damani (ayahnya) memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah kepada Syaikh Muhammad Sirajuddin pada tanggal 10 Mei 1894.

Syaikh Muhammad Sirajuddin bin Muhammad Usman ad Damani wafat pada tanggal 12 Februari 1915 di makamkan di samping makam ayahnya. Dari 36 khalifah yang diangkatnya ada 8 khalifah yang cukup terkenal dan berpengaruh, mereka adalah:
1.     Syaikh Khwaja Ali Shah Pir Fasal Quraesy. Beliau paling menonjol dan terkenal sebagai pengganti Syaikh Muhammad Sirajuddin, disamping itu beliau menerima ijazah dari Sayyad Laal Shah Hamdani.
2.     Syaikh Maulana Hafidz Muhammad Ibrahim (putra Syaikh Muhammad Sirajuddin).
3.     Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani. Beliau adalah khalifah Syaikh Muhammad Sirajuddin untuk Madinah.
4.     Syaikh Abu Sa’ad Ahmed Khan.
5.     Syaikh Husain Ali Maulana
6.     Syaikh Abdul Ahad.
7.     Syaikh Abu Muhammad Barkat Ali Shah
8.     Syaikh Maulana ghulam Hasan

Khalifah yang mempunyai hubungan dengan Indonesia sekarang adalah Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani melalui khalifahnya yang bernama Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas bin Abdul Aziz al Maliki al Hasani.

Pada tahun 1924 terjadi penaklukan terhadap kota suci Mekkah yang dilakukan oleh Abdul Aziz ibnu Sa’ud yang berpaham wahabi. Kaum wahabi telah melumpuhkan kegiatan seluruh tasawwuf dan seluruh organisasi tarekat di kota suci Mekkah dan Madinah. Kaum wahabi tidak segan-segan mengusir, membantai, atau memenjara para Syaikh-syaikh tarekat. Seluruh ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dibasmi dari kota Mekkah dan Madinah. Bahkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah telah dikafirkan oleh kaum wahabi. Kaum Sunni yang bertahan, harus sembunyi-sembunyi mengajar. Sejak tahun 1924 hingga saat ini Tikus-Tikus Wahabi telah mengusai Saudi Arabia.

Seluruh macam tarekat sufi telah lenyap dari kota Mekkah dan Madinah. Bahkan Tikus-Tikus Wahabi telah dikirim ke Malaysia, Indonesia, Mesir, Yaman, dan negara-negara Islam lain. Tujuannya adalah membasmi atau menghancurkan ajaran tasawwuf dan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tikus-Tikus Salafi Wahabi adalah pelanggar HAM (hak asasi manusia) paling kotor peringkat nomor 2 di dunia setelah Tikus-Tikus Syi’ah.

Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani terpaksa berhati-hati dan dengan secara sembunyi-sembunyi mengajar tarekat di Madinah. Sebelum wafat, Syaikh Abdul Ghafur al Abbas memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah-nya kepada murid yang sangat dicintainya yaitu kepada seorang ulama’ dan Imam yang belum ada tandingannya di abad 20 ini. Beliau adalah Al Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki yang bermukim di Mekkah.

Pada era tahun 1980 hingga 2002 Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki yang terkenal dengan nama Syaikh Maliki banyak mengadakan perjalanan ke seluruh dunia. Beliau banyak mengunjungi para waliyullah, ulama’-ulama’, syaikh-syaikh tarekat, dan tokoh agama Islam yang ada di seluruh dunia. Mulai dari Damaskus, Irak, Kurdi, Mesir, Yaman, India, China, Indonesia, Malaysia, hingga tidak bisa dihitung lagi beberapa negara yang beliau kunjungi. Hampir para waliyullah dan ulama’-ulama’ seluruh dunia yang hidup sezaman dengan beliau mengenal siapa Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki.

Pada salah satu kunjungan ke Indonesia di tahun 1985 Sayyid Muhammad Alwi bertemu dengan Syaikh Naqsyabandi Indonesia KH Lathifi Baidhowi. Dari pertemuan dua Wali Allah inilah maka rahasia-rahasia ilmu serta barokah Tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari bisa sampai ke Ikhwan Akhawat Muzhariyah Indonesia. Sayyid Muhammad Alwi al Maliki terkesan dengan kealiman Syaikh KH Lathifi Baidhowi, begitu pula Syaikh KH Lathifi Baidhowi sangat terkesan dengan kealiman dan kesolehan Sayyid Muhammad Alwi bin Maliki. Sayyid Muhammad Alwi al Maliki memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah-nya dan ijazah semua cabang ilmu keagamaan miliknya kepada Syaikh KH Lathifi Baidhowi.

Jadi Syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang telah memperoleh ijazah dari dua jalur khalifah atau rantai isnad Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi (Wafat 1860) yaitu Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi dan Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Seluruh guru-guru tarekat yang kami ceritakan di atas adalah pengikut Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah tulen. Hingga sekarang guru-guru maupun khalifah-khalifah mereka tetap mempertahankan pandangan puritanisme dan ortodoksi Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah dibina oleh Imam Rabbani Al Mujaddid Al Fits-tsani Syaikh Ahmad Faruqi as Sahrandi. Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah adalah tarekat yang paling Syari’ah Minded dan tarekat yang paling Syari’ah Oriented dibanding tarekat-tarekat yang lain. Hampir 95% semua guru-guru Mursyid Naqsyabandiyah Mudzhariyah menguasai berbagai cabang ilmu keagamaan Islam. Di samping mereka menguasai ilmu keagamaan, semua guru-guru Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah mempunyai ijazah Mursyid yang memang pasti.

Demikianlah asal-usul singkat tentang Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah di Indonesia.

    

TAREKAT NAQSYABANDIYAH MUJADDIDIYAH : PERANAN PEMURNIAN DI INDIA

Tarekat Naqsyabandiyah masuk ke India dibawa oleh Sayyidi Syaikh Muaiyiduddin Muhammad Baqi Billah qs. dan dilanjutkan oleh Sayyidi Syaikh Akhmad Faruqi Sirhindi Q.S. yang lahir di Sirhindi, kini negara bagian Punjab, sebelah barat New Delhi pada Jum’at, 4 Syawal 971 H atau 26 Mei 1564.  Disebut al-Faruqi karena beliau memiliki garis keturunan yang bersambung sampai kepada Khalifah Umar. Tarekat Naqsyabandiyah betul-betul telah tumbuh dan berkembang di India sebelum Syaikh M. Baqi Billah wafat pada 1603 M. Penerusnya, Syaikh Akhmad, sangat yakin akan tugas besarnya dalam memainkan peranan menumbuhkan kehidupan keagamaan di masanya. Berkat bimbingan dan dorongan Syaikh M. Baqi Billah, Syaikh Akhmad sadar akan tugas-tugas tersebut.

Beliau diperkenalkan dengan seorang yang memegang posisi penting dalam pemerintahan Kerajaan Mughal - seorang jenderal yang juga murid Syaikh M. Baqi Billah, yakni Syaikh Farid Murtadha Khan.
Bidang administrasi dan militer merupakan aspek karir Syaikh Farid yang menonjol. Loyalitasnya kepada negara dan kedermawanannya dalam kualitas yang baik sekali. Syaikh Farid juga mendapat penghormatan dan penghargaan dari para ulama dan pembaharu karena keberanian, ketulusan dan keikhlasannya. Dia memperoleh posisi baik dalam pemerintahan Sultan Akbar.
Kepada Syaikh Farid inilah sebagian besar surat-surat Syaikh Ahmad ditujukan; mengingatkan bahwa keadaan Islam di India telah merosot dan menjadi tugas mereka untuk menegakkan kembali. Beliau ingatkan pula bahwa figur Nabi Muhammad saw. merupakan panutan terbaik. Dalam sebuah surat yang lain, tidak lama setelah Khwaja Baqi Billah berpulang, dia berterima kasih kepada Syaikh Farid karena telah menyediakan sesuatu untuk mereka yang berdiam di khanaqah Khwaja. Hal ini membuktikan bahwa Syaikh Farid menyokong gerakan pembaharuan secara moril dan materiil.
Seluruh ajaran Syaikh Ahmad termaktub dalam surat-suratnya yang terdiri dari 534 buah. Kemudian surat-suratnya itu dikumpulkan menjadi magnum opus dari seluruh karyanya berjudul al-Maktubat Imam Rabbani
Sebagaimana diketahui, pada masa itu India dibawah kekuasaan Kaisar Mughal Sultan Akbar, dalam masa pemerintahannya ia mencoba menawarkan konsep toleransi antar umat beragama yang disebut Tauhid Ilahi atau lebih populer dengan nama Din-i-Ilahi.  Konsep toleransi yang pada akhirnya terjerumus pada sinkretisme Hindu dan Islam ini, semula dimaksudkan mendamaikan pertikaian panjang antara umat Hindu dan Muslim, sekaligus menampung kepentingan mayoritas Hindu di dalam kekuasaan Mughal. Namun dalam tataran ’akar rumput’, konsep ini telah membawa ’kekisruhan’ bagi masyarakat India saat itu, khususnya antara Muslim dan penganut Hindu.
Aturan yang penuh kontroversi antara lain: Sijda (sujud) saat menghadap raja. Boleh meminum anggur jika diijinkan dokter untuk sekadar menguatkan badan. Prostitusi yang dilegalkan dengan melokalisasi di suatu tempat di dalam kota yang dinamakan Shaitanpura atau Desa Syetan. Larangan menyembelih dan memakan daging sapi - termasuk sebagai hewan kurban. Penghapusan jizyah (zakat perlindungan bagi non-Muslim). Di tataran masyarakat mengubah masjid menjadi candi, atau sebaliknya, kerap terjadi.
Kondisi umat Islam sendiri banyak diwarnai syirik dan bid’ah, terutama disebabkan oleh kontak dengan kepercayaan politeistik yang hidup di India. Tidak jarang umat Islam di India ikut dalam kegiatan peribadatan non-Muslim. Faktor lainnya, bid’ah dan khurafat telah merajalela, terutama disebabkan oleh adanya pengaruh sufi palsu yang bodoh dan sesat. Misalnya, pelaksanaan ritual kurban di makam wali (masyayikh). Para wanita biasanya melakukan puasa dengan niat untuk para guru sufi tertentu, dan untuk itu dilakukan serangkaian ritus. Sebagian besar sufi di masa itu lebih sering larut dalam pesta musik (sama’), tarian spiritual (raqs), serta melebih-lebihkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Syaikh Akhmad menyesalkan para ulama masa itu, yang seharusnya menjadi penjaga agama dan menyelamatkan umat dari syirik dan bid’ah, namun diri mereka justru terjerumus dalam praktik-praktik  demikian.  Syaikh Akhmad menentang keras konsep Din-i-Ilahi yang digagas Sultan Akbar. Ia mulai melakukan serangkaian pembelaan bagi kepentingan Islam yang telah dipinggirkan oleh penguasa. Kekhawatiran Syaikh Akhmad adalah dapat tercerabutnya akar tradisi Islam dan lunturnya syariat Islam. Ia mencoba berkorespondensi dengan sejumlah menteri yang dekat dengan Sultan Akbar agar pesannya di dalam surat tersebut disampaikan kepada Sultan.

Andaikata kedua pribadi agung itu - Syaikh Farid dan Syaikh Ahmad - tidak ada, mungkin Islam telah lenyap di India dengan meninggalnya Akbar. Mungkin Islam telah lenyap di India dengan meninggalnya Akbar. Mungkin negara Islam Pakistan dan Bangladesh tidak akan pernah ada. Sebab jika Khusru’ anak Jahangir naik tahta, dan jika Syaikh Farid berdiam diri dan tidak mau membai’at Jahangir, tentu negara yang dipimpin oleh Khusru’ akan lebih banyak diwarnai agama Hindu dan Sikh. Untunglah hal itu tidak terjadi. Allahu Akbar!

MISI PERMURNIAN SYAIKH AHMAD SIRHINDI (PENGASAS NAQSYABANDIYYAN MUJADDIDIYAH)

Tarekat Naqsyabandiyah di bawah pimpinan Syaikh Ahmad mempunyai 3 (tiga) misi besar yang harus diselesaikan pada masa hidupnya.

Pertama, mengkritik kaum kafir, bid’ah, dan berbagai doktrin yang salah, serta meneguhkan kembali nubuwwah, beriman kepada wahyu dan agama Rasul. Mengutuk kemungkaran, kekafiran, dan kembali mematuhi Sunnah. Menentang kekuatan-kekuatan anti Islam serta menjaga lembaga-lembaga dan hukum Islam.

Kedua, mengklarifikasi propaganda penganut Syi’ah yang mengutuk  dan mempersalahkan para sahabat Rasul yang telah merampas kekuasaan dari tangan Ali yang notabene - dalam perspektif Syiah - adalah pewaris kekuasaan sesudah Nabi SAW wafat.

Ketiga, pemurnian ajaran tasawuf dari pengaruh teori wahdat al-wujud. Syaikh Akhmad meyakini bahwa penganut teori tersebut kurang peduli terhadap syariat. Mereka berkeyakinan bahwa syariat hanyalah jalan untuk mencapai kebenaran, tetapi mereka yang sudah mencapai kebenaran itu menganggap tugas-tugas syariat tidak lagi diperlukan.

Usaha Syaikh Akhmad untuk melaksanakan misinya itu tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput Sultan Akbar yang kemudian diganti oleh putranya yang bernama asli Salim kemudian setelah menjadi sultan berganti nama Jahangir. Dengan meninggalnya Akbar tanggal 15 Oktober 1605 maka berakhir pulalah Din-i-Ilahi, karena Akbar hanya mengandalkan pengaruh dan contoh-contoh yang diberikannya. Dia tidak mengangkat orang-orang yang akan meneruskan dan mempropagandakan gagasannya itu. Jahangir yang naik tahta pada 21 Oktober 1605 tidak melanjutkan gagasan ayahnya. Akan tetapi sijda masih tetap dipertahankan di kala menghadap raja di istana.
Untuk menarik hati rakyat dia menetapkan suatu dekrit yang berisikan 12 fasal yang masih berhubungan dengan Din-i-Ilahi, seperti larangan pemungutan zakat, larangan penyembelihan binatang-binatang pada hari tertentu, dan penghormatan yang diberikan kepada hari Minggu.
Saat pelantikan Jahangir menjadi sultan, ia memberi gelar -Tuan Pedang dan Pena- kepada Syaikh Farid, dan memerintahkannya untuk mematahkan pemberontakan Pangeran Khusru’ - anak Jahangir sendiri yang ingin menjadi raja.  Misi tersebut berhasil dan Syaikh Farid mendapatkan gelar ’Murtadha Khan’. Sementara Syaikh Akhmad melihat bahwa inilah momentum bagus untuk mengembalikan Islam dan kaum Muslimin kepada ajaran yang sesungguhnya. Namun sejak awal Syaikh Akhmad sebenarnya tidak berharap terlalu banyak hal-hal itu dapat direalisasikan, sekalipun Jahangir pernah berjanji kepadanya.
Ternyata benar dugaannya, setelah pernikahan Jahangir dengan Nur Jehan, suasana berbalik arah. Syaikh Akhmad dibenci karena ia dianggap pemimpin Sunni. Ajarannya tidak lagi didengar. Bahkan, ia sempat mendekam di penjara karena sebuah fitnah, tetapi akhirnya Jahangir berbaik hati, Syaikh Akhmad dibebaskan setelah setahun mendekam di penjara.
Anak Jahangir yang lain, Shah Jahan menggantikannya dan naik tahta pada 6 Pebruari 1628. Apabila Jahangir memperlakukan agama Jain dan Sikh dengan perlakukan yang tidak menunjukkan rasa toleransi, maka Shah Jahan juga menganut paham yang sama, tetapi sasarannya adalah orang-orang Hindu dan tahanan Kristen yang ada di Hugli. Di samping itu dia menghidupkan kembali rasa agama yang mulai padam dengan mengeluarkan beberapa dekrit. Pertama kali dia memperbaiki kalender. Kalender menurut perhitungan matahari dianggap bid’ah, dan karena itu dihentikan. Semua kejadian resmi dan transaksi dicatat menurut tahun qamariah, dan untuk itu era Hijrah diutamakan. Sijda (sujud) yang telah menjadi mode di masa pemerintahan Akbar dan Jahangir dihentikan, sebab dianggap bertentangan dengan syari’at.
Inti sari ajaran Din-i-Ilahi; agar semua rakyat dapat perlakuan yang sama berdasarkan undang-undang keadilan alam (natural justice), tidak digubris oleh Shah Jahan. Di  kala anaknya, Aurangzeb, naik tahta pada 21 Juli 1658, maka dia ternyata lebih ekstrem lagi dari Shah Jahan dalam  membela dan menyebar-luaskan agama Islam.
Kewajiban pajak untuk semua bahan komoditi yang dijual ditetapkan 2,5% bagi orang-orang Islam, dan 5% bagiorang Hindu. Kemudian dalam Mei 1667 orang-orang Islam seluruhnya dibebaskan dari pajak seperti itu, dan  negara harus melepaskan banyak pendapatan. Cara lain yang dipergunakan oleh Sultan agar membujuk konversi ke dalam Islam adalah memberikan hadiah-hadiah dan kedudukan-kedudukan bagi orang-orang Hindu yang melepaskan agamanya. Negara menjadi sebuah pranata misionari besar yang perlindungannya meluas kepada orang-orang yang menukar agamanya dan memberikan banyak janji tanpa memandang keuntungan dan efisiensi.
Bukan itu saja, pada 1668, pasar-pasar amal bagi orang-orang Hindu ditutup di seluruh kerajaan. Pada 2 April 1679 jizyah yang telah dibekukan di masa Akbar dicairkan kembali oleh Aurangzeb di seluruh provinsi, dengan tujuan membendung orang-orang kafir dan untuk membedakan tanah orang Islam dan tanah orang kafir.
Demikianlah Aurangzeb tidak mengindahkan sama sekali ajaran Din-i-Ilahi, yang satu pokok ajarannya ialah, semua agama sama derajatnya. Agama Islam mewarnai politik pemerintahannya, dan sedapat mungkin disesuaikan dengan standar ortodoks Sunni. Itulah sebabnya dia mengambil tindakan-tindakan tersebut di atas. Hal itu adalah berkat adanya Tarekat Naqsyabandiyah yang diperkenalkan oleh Syaikh M. Baqi Billah, dilanjutkan oleh Syaikh Akhmad serta anaknya Syaikh Muhammad Ma’sum Q.S. (silsilah ke-24).
Disamping itu terdapat pejabat tinggi yang tidak memihak kepada pembaharuan agama yang diadakan oleh Akbar. Beliau adalah Syaikh Farid, seorang jenderal yang tangguh dari kaum bangsawan. Keistimewaan Tarekat  Naqsyabandiyah yang diperkenalkan oleh Syaikh M. Baqi Billah ini ialah keinginannya untuk memenangkan umat Islam dengan cara mempengaruhi pejabat-pejabat tinggi pemerintahan, baik sipil maupun militer. Sedangkan ulama sebelumnya meremehkan hal itu.

JEJAK NAQSYABANDIYAH MUJADDIDIYAH AL KHALIDIYAH @ KHOLIDI (1)

PERKEMBANGAN TAREKAT NAQSYABANDI

Penamaan tarekat Naqsyabandi dari sejak periode Nambi Muhammad SAW hingga sekarang adalah sebagai berikut :
1.      Pada masa periode Nabi Muhammad SAW, di namai Tarekatus Sirriyah. Karena halus dan tingginya Tarekat ini.

2.      Pada masa periode Abubakar Siddiq r.a, di namai Tarikatul Ubudiyah, karena ketinggian dan kesempurnaan pengabdian Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT, baik secara lahir maupun secara bathin.

3.      Pada masa periode Zalamn al-Farizi samapai dengan masa peride Taifur Abu Yazid al-Bustami, di namai Tarikatus Siddiqiyah, karena ketinggian dan kesempurnaan pengabdian Abubakar Siddiq r.a kepada Nabi Muhammad SAW, secara lahir dan Batin.

4.      Pada masa Taifur Abu Yazid al-Bustami sampai dengan masa periode Abdul Khaliq Kujdawani, di namai Tarekatul Taifuriyah.

5.     Pada masa Abdul Khaliq Kujdawani sampai periode Muhammad Baha’uddin Naqsyabandi disebut Tarekatul Kuwajaganiyah.

6.     Pada masa periode Muhammad Baha’uddin Naqsyabandi sampai masa periode Mohammada Naziruddin Ubaidullah al-Ahrar q.s disebut Tarekatul Naqsyabandiyah.

7.     Pada masa periode Mohammad Naziruddin Ubaidullah al-Ahrar samapai Ahmad al-Faruqi 9ahmad Shirhindi q.s ), di namai Tarekatul Naqsyabandiyah al-Ahrariyah.

8.     Pada masa periode Ahmad al-Faruqi Shirhindi sampai pada periode Maulana Dhiyauddin Khalid al-Ustmani al-Kurdi q.s, dinamai Tarekatun Naqsyabandi al-Ahrariyah al-Mujaddidiyah Dan di perpendek menjadi Tarekatul Naqsyabandi Al-Mujaddidiyah.

9.     Pada masa periode Maulana Dhiyauddin Khlaid al-Ustmani sampai dengan periode penyebaran ke Jabal Abu Qubais hingga Sepanyol Eropa dan Afrika, yang di sebarkan oleh para khalifah-kalaifah maulana Dhiyauddin Khalid al-Ustmani, dinamai dengan Tarekatul Naqsyabandi Al-Mujaddidiyah Al-Khalidiyah.

Tarekat ini berhulu pada diri Nabi Muhammad SAW yang kemudian mengalir kepada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq R.A, sahabat kesayangan Nabi Muhammad SAW dan khalifahnya yang pertama, yang telah menerima ilmu istimewa seperti diterangkan Nabi Muhammad SAW sendiri, "Tidak ada sesuatu pun yang dicurahkan Allah ke dalam dadaku, melainkan aku mencurahkan kembali ke dalam dada Abu Bakar"
Pola hidup bersahaja yang ditampilkan Abu Bakar ditiru para sufi pada periode selanjutnya. Menurut riwayat, Abu Bakar pernah hidup dengan sehelai kain saja. Ia pernah memegang lidahnya sendiri, seraya berkata, "Lidah inilah yang senantiasa mengancamku". Kemudian untuk menjaga dari berkata-kata yang tidak bermanfaat, Abu Bakar lazim mengulum batu kerikil.
 Kedermawanan Abu Bakar juga tak terukur nilainya. Misalnya pada Perang Tabuk, Rasulullah SAW meminta kepada kaum Muslim agar mengorbankan hartanya. Maka datanglah Abu Bakar membawa hartanya dan diletakkannya di antara dua tangan Rasulullah SAW, seraya Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Apalagi yang engkau tinggalkan bagi anak-anakmu, wahai Abu Bakar?" Jawabnya sambil tertawa, "Saya tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya".
Sikap kedermawanan Abu Bakar ini merupakan kerelaan berkorban di jalan Allah. Dia hanya menyandarkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hal ini merupakan sikap kepasrahan yang tinggi yang kemudian dijadikan sebagai teladan bagi para sufi. Di mata para sufi, sikap-sikap Abu Bakar seperti itu merefleksikan ahwal (keadaan) yang selalu disandarkan kepada Allah semata. Inilah, yang oleh kaum sufi dianggap sebagai benih-benih akhlak para sufi.
Oleh sebab itu, kendatipun di abad 1 Hijriah orang Islam belum mengenal istilah tasawuf, tetapi benih-benihnya sudah tampak, seperti pada diri Abu Tarekat ini berhulu pada diri Nabi Muhammad SAW yang kemudian mengalir kepada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq R.A, sahabat kesayangan Nabi Muhammad SAW dan khalifahnya yang pertama, yang telah menerima ilmu istimewa seperti diterangkan Nabi Muhammad SAW sendiri, "Tidak ada sesuatu pun yang dicurahkan Allah ke dalam dadaku, melainkan aku mencurahkan kembali ke dalam dada Abu Bakar"
Pola hidup bersahaja yang ditampilkan Abu Bakar ditiru para sufi pada periode selanjutnya. Menurut riwayat, Abu Bakar pernah hidup dengan sehelai kain saja. Ia pernah memegang lidahnya sendiri, seraya berkata, "Lidah inilah yang senantiasa mengancamku". Kemudian untuk menjaga dari berkata-kata yang tidak bermanfaat, Abu Bakar lazim mengulum batu kerikil.
 Kedermawanan Abu Bakar juga tak terukur nilainya. Misalnya pada Perang Tabuk, Rasulullah SAW meminta kepada kaum Muslim agar mengorbankan hartanya. Maka datanglah Abu Bakar membawa hartanya dan diletakkannya di antara dua tangan Rasulullah SAW, seraya Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Apalagi yang engkau tinggalkan bagi anak-anakmu, wahai Abu Bakar?" Jawabnya sambil tertawa, "Saya tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya".
Sikap kedermawanan Abu Bakar ini merupakan kerelaan berkorban di jalan Allah. Dia hanya menyandarkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hal ini merupakan sikap kepasrahan yang tinggi yang kemudian dijadikan sebagai teladan bagi para sufi. Di mata para sufi, sikap-sikap Abu Bakar seperti itu merefleksikan ahwal (keadaan) yang selalu disandarkan kepada Allah semata. Inilah, yang oleh kaum sufi dianggap sebagai benih-benih akhlak para sufi.
Oleh sebab itu, kendatipun di abad 1 Hijriah orang Islam belum mengenal istilah tasawuf, tetapi benih-benihnya sudah tampak, seperti pada diri Abu Bakar. Dan pada masa itu banyak sekali ditemui perilaku atau sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, yang mencirikan pengajaran dan amalan ilmu tasawuf.
Tarekat yang diterima Abu Bakar yang nantinya populer dengan nama Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah telah mengalami pergantian penyebutan beberapa kali. Dalam silsilah keguruan tarekat ini, Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq berada pada urutan pertama. Periode antara Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq sampai Sayyidi Syaikh Abu Yazid al-Bistami, yang nama aslinya Tayfur ibn Isa ibn Surusyan al-Bistami dan berada pada urutan kelima, dinamakan "Shiddiqiah". Periode antara Syaikh Tayfur sampai Sayyidi Syaikh Abdul Khalik Fajduani, silsilah kesembilan, dinamakan "Tayfuriah". Periode antara Khawajah Abdul Khalik Fajduani yang lahir di daerah Uzbekistan itu sampai Sayyidi Syaikh Bahauddin Naqsyabandi, silsilah kelimabelas, dinamakan "Khawajakaniah". Diambil dari istilah Khwajagan (= tuan guru yang bersilsilah). Periode antara Syaikh Bahauddin Naqsyabandi sampai Sayyidi Syaikh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar, silsilah kedelapanbelas, dinamakan "Naqsyabandiyah".
Dalam tahun-tahun terakhir abad ke 10 H/16 M, pusat aktivitas Naqsyabandiyah dan daya tarik intelektualnya bergeser ke India. Sayyidi Syaikh Muaiyiduddin Muhammad Baqibillah, silsilah kedua puluh dua, yang lahir di Kabul (971 - 1012 H/1563 - 1603 M), berpetualang di Transoxiana, Samarqand, Bukhara, Kashmir dan sekitarnya, kemudian datang ke India.
Dalam suatu catatan, dia katakan "tengah membawa benih kesucian (dalam tarekat) dari Samarqand dan Bukhara dan menyemaikannya di tanah subur India." Dalam waktu singkat, lima tahun, dia mencurahkan perhatian yang sama kepada orang awam dan kaum bangsawan Mughal. Dia sampaikan pesan silsilah kepada para ulama, kaum sufi, para malik (tuan tanah) dan manshabdar (pejabat) dengan tingkat keefektifan yang sama. Penglihatannya tajam dalam memilih bakat terbaik di pelbagai area - dari kalangan tokoh politik Nawab Murtadha Khan, di kalangan kaum sufi Syaikh Ahmad Faruqi Sirhindi, dan dari kalangan ulama Syaikh Abd Al-Haqq - adalah murid-murid terkemuka Khawajah Muhammad Baqi.
Tarekat Naqsyabandiyah pada periode antara Syaikh Ubaidullah Al- Ahrar sampai Sayyidi Syaikh Ahmad Faruqi Sirhindi, silsilah kedua puluh tiga, dinamakan "Ahrariah".

Period antara Syaikh Ahmad Al-Faruqi sampai Sayyidi Syaikh Dhiyauddin Khalid Kurdi Al Usmani, silsilah kedua puluh sembilan, dinamakan "Mujaddidiah".

Lalu period  antara Syaikh Khalid Kurdi Al Usmani sampai dewasa ini dinamakan "Khalidiah", atau dikenal dengan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah.

Setelah itu, tarekat ini tidak mengalami perubahan penyebutan nama. Karena bagi para pengamal tasawuf di masa berikutnya, yang menjadi pusat perhatian adalah ilmu yang diajarkan dan sumber ilmu yang ditunjukkan pada untaian silsilah keguruan. Lalu, setelah Maulana Syaikh Khalid, silsilah keguruan berikutnya berturut-turut adalah Sayyidi Syaikh Abdullah Afandi, Sayyidi Syaikh Sulaiman Qarimi, kemudian Sayyidi Syaikh Sulaiman Zuhdi.
Pada Sayyidi Syaikh Sulaiman Zuhdi, yang berkedudukan di Jabal Qubaisy dan berada pada silsilah ketiga puluh dua, berguru murid-murid yang nanti menjadi penerusnya, yakni Syaikh Usman Fauzi (Jabal Qubaisy), Sayyidi Syaikh M. Hadi (Girikusumo - Jawa Tengah), putra beliau sendiri Sayyidi Syaikh Ali Ridho (Jabal Qubaisy), Sayyidi Syaikh Sulaiman (Huta Pungkut - Sumatera Barat), dan Sayyidi Syaikh Abdul Wahab Rokan (Babussalam-Aceh). Silsilah keguruan selanjutnya berada pada Sayyidi Syaikh Ali Ridho.
...sikap kepasrahan Abu Bakar As-Siddiq yang tinggi dijadikan sebagai teladan bagi para sufi.
Tidak seperti tarekat-tarekat sufi lainnya, lanjut Nizami, Tarekat Naqsyabandiyah tidak menganut kebijaksanaan isolasi diri dalam menghadapi pemerintahan yang tengah berkuasa saat itu. Sebaliknya, ia gigih melancarkan ikhtiar dengan pelbagai kekuatan politik agar dapat mengubah pandangan mereka. "Raja adalah jiwa dan masyarakat adalah tubuh. Jika sang Raja tersesat, rakyat akan ikut tersesat." Demikian kutipan pesan yang dikatakan oleh Syaikh Ahmad Sirhindi.






 

TAREKAT AGUNG NAQSYABANDIYAH 5 : MURAQABAH DALAM TAREKAT


MURAQABAH pada pengertian bahasa bermakna ‘Berjaga-jaga’ namun pada pengertian istilah Tariqat Tasawwuf ia bermaksud menantikan limpahan Faidhz dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalil amalan Muraqabah adalah berdasarkan Nas Al-Quran, “Wa Fi Anfusikum, Afala Tubsirun”
Terjemahannya: Dan di dalam diri kamu, apa tidakkah kamu memerhatikannya? Di dalam ayat Ilahi ini menyatakan bahawa di dalam diri insan itu terdapat Latifah-Latifah dengan cahaya Nur yang berbeza yang hanya dapat dikenalpasti menerusi Muraqabah. Apabila kandungan ayat tersebut difikirkan dengan lebih mendalam dapatlah difahami bahawa Dia memerintahkan kita supaya sentiasa berkeadaan berjaga-jaga dan Syuhud. 

Menerusi Muraqabah, seseorang Salik akan dapat menempuh kesemua maqam-maqam Ruhani dan di dalam batinnya akan terlimpahlah Nur-nur dan Rahsia-rahsia Rabbaniyah (Ketuhanan) kepada dirinya secara berterusan. Kerana itulah seseorang ‘Arif Kamil yang telah mencapai darjat yang tinggi, apa sahaja yang mereka lihat adalah merupakan penglihatan dari matahati. Dari Qalb sehinggalah ke La Ta’yin, kesemua wilayah-wilayah yang merangkumi Sair
Qadami dan Sair Nazari adalah terhasil menerusi Muraqabah. Menerusi Muraqabah jugalah akan mudah terhasilnya Dawam Hudhur iaitu sentiasa berada dalam Kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merasakan bahawa limpahan dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa terlimpah ke atas kita pada setiap waktu dan keadaan. Ini merupakan martabat Ihsan iaitu merasakan seolaholah kita melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataupun merasakan bahawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang memerhati kita. Ihsan juga diistilahkan sebagai Syuhud atau Musyahadah dan inilah merupakan usaha perjuangan Para Auliya dan Asfiya, supaya sentiasa berasa Kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Muraqabah lazimnya dikaitkan dengan berkhalwat atau bersunyi diri. Khalwat adalah mengosongkan hati dari ingatan selain Allah dan mengosongkan hati dari pandangan terhadap makhluk.
Menerusi Muraqabah ianya dapat menghalang hati kita dari mengingati makhluk selain Allah meskipun orang yang bermuraqabah tersebut duduk dan bergaul bersama-sama dengan makhluk. Adapun sesetengah orang yang melakukan Muraqabah dengan menutupkan kepala dengan kain dan menutup mata adalah untuk membolehkan seseorang Salik itu memberikan Tawajjuh yang sempurna terhadap Zat Allah Ta’ala dengan hati yang tenang dan tenteram.
Melakukan Khalwat sambil menutup kepala dengan kain dinamakan Khalwat Saghirah. Melakukan Muraqabah sambil menahan nafas juga ada diamalkan oleh sebilangan besar Masyaikh namun ia bukanlah wajib. Walaubagaimanapun banyak rahsia yang akan dapat diperolehi apabila seseorang Salik itu dapat mengawal pernafasannya kerana ia dapat meningkatkan penumpuan. Muraqabah hendaklah dilakukan dalam keadaan tenang dan carilah tempat yang tenteram dan sebaik-baiknya dalam keadaan suci dari hadas kecil dan besar sambil duduk menghadap Kiblat. Jika melakukan Muraqabah secara berjemaah maka hendaklah duduk dalam satu bulatan dan sekiranya ramai maka hendaklah duduk rapatrapat dengan menghadapkan diri kepada Syeikh. Seluruh pemikirannya hendaklah bertawajjuh Kehadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan memberikan tumpuan kepada suatu gambaran yang bersifat abstrak di dalam fikiran. Sebutkan Allah Allah dalam hati sambil membayangkan limpahan yang bersifat Nur terlimpah dari sisi atas dan jatuh kepada Latifah-Latifah pada tubuh badan.

KAIFIYAT MURAQABAH

AWAL Muraqabah memang agak sukar untuk mensucikan Allah pada gambaran abstrak di dalam fikiran namun hendaklah terus memberikan penumpuan kepada limpahan dari Allah untuk mensucikan segala gambaran abstrak tersebut dengan pengertian yang suci. Hendaklah bersungguh-sungguh berusaha mensucikan makna Allah dari segala pengertian yang tidak layak untukNya. Berikan sepenuh penumpuan terhadap makna Allah dan elakkan dari mencampur adukkanNya dengan tumpuan terhadap lintasan hati dan nafsu atau perkaraperkara keduniaan.

Jika dia menyedari dirinya telah menumpukan ingatan kepada selain Allah maka hendaklah dia cepat-cepat bermunajat dengan mengucapkan kalimah Baz Gasht iaitu lafaz, “Ilahi Anta Maqsudi Wa Ridhaka Matlubi, A’tini Mahabbataka Wa Ma’rifataka” beberapa kali di dalam hati dan segera kembali memberikan penumpuan terhadap limpahan Allah dan pengertian makna Allah.
Fikiran hendaklah dikosongkan dari segala ingatan yang selainNya dan begitu juga hati perlu dikosongkan dari sebarang Ghairullah yakni segala sesuatu selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bayangkan dalam fikiran bahawa suatu pancaran cahaya Nur dari arah atas ‘Arash sentiasa terlimpah ke atas kesemua sepuluh Latifah seterusnya menghidupkan kesemua Latifah tersebut untuk berzikir mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Muraqabah secara amaliahnya memerlukan kekuatan hati dan fikiran dan perlu dilakukan secara berterusan kerana segala gambaran abstrak dalam fikiran manusia itu selalunya dikotori dengan gambaran-gambaran Hawa, Nafsu, Syaitan dan Dunia.
Dalam Tariqat Naqshbandiyah Mujaddidiyah terdapat beberapa peringkat Muraqabah seperti Muraqabah Ahadiyat, Muraqabah Ma’iyat, Muraqabah Aqrabiyat dan sebagainya. Menurut Hadhrat Shah ‘Abdullah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih, Muraqabah merupakan kaedah Zikir Khafi kedua sesudah Ismu Zat dan Nafi Itsbat yang diamalkan dalam Silsilah ‘Aliyah Naqshbandiyah Mujaddidiyah, yakni seseorang itu memberikan tumpuan Tawajjuh terhadap hatinya dan mensucikannya dari sebarang ingatan dan khayalan tentang selain Allah serta sentiasa memerhatikan limpahan Faidhz Ilahi terlimpah pada hati tanpa perantaraan Zikir dan tanpa perantaraan Murshid. Adalah dikehendaki seseorang itu agar setiap waktu memberikan Tawajjuh terhadap Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan merendahkan diri dan hati sehingga dirinya tenggelam dalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keadaan ini hendaklah berkekalan dalam dirinya kerana ianya merupakan suatu Nikmat yang agung dari sisi Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Suci.
Daimi Tawajjuh yakni penumpuan yang berterusan merupakan suatu tahap Zikir yang amat tinggi dan merupakan maksud bagi sekelian bentuk zikir. Yang dituntut daripada amalan Zikir adalah Hudhur Ma’a Allah yakni mencapai kehadiran bersama-sama Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bukanlah sekadar Zikir itu sahaja yang bertindak sebagai perantaraan. Hanya itulah sahaja maksud yang dituntut lupakan kepada segala yang lain. Menururt Para Masyaikh, melakukan Muraqabah dengan penuh Jazbah akan membawa lebih pendekatan terhadap Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatasi amalan Zikir Nafi Itsbat.
Jika seseorang Murid berjaya melakukan Muraqabah secara Daimi yakni berterusan, maka dia mencapai kedudukan Wizarat (Kata Jamak bagi Wazir). Akan terbukalah Kasyaf perkataanperkataan hati dalam dirinya dan mencapai Tasarruf dengan kehidupan Alam Malak dan Alam Malakut.
Namun keupayaan untuk melakukan Muraqabah tidak akan terhasil dengan mudah tanpa amalan Zikir yang banyak dan tanpa bersahabat dengan Syeikh. Maka Seseorang Murid hendaklah sentiasa memperbanyakkan Zikir sepertimana yang telah ditalqinkan oleh Syeikhnya dan hendaklah sentiasa melakukan Rabitah dengan Syeikhnya agar dapatlah dia menikmati Limpahan Faidhz secara berterusan dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

MURAQABAH AHADIYAT

PADA permulaan melakukan Muraqabah, hendaklah kita benar-benar memahami Mabda Faidhz (Tempat Punca Limpahan) dan Mawrid Faidhz (Tempat Terima Limpahan). Hendaklah membayangkan atau mengkhayalkan bahawa suatu limpahan dari sisi Zat Yang Maha Tinggi yang berupa cahaya turun melimpah ke atas hati kita

Bayangkanlah limpahan Faidhz dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berupa cahaya turun ke atas Latifah Qalb dengan limpahan yang senantiasa mencurah-curah secara berterusan setiap masa dan keadaan sehinggalah kita mendapat kenikmatan dalam Syuhud dan Musyahadah atau disebut Martabat Ihsan yang hanya dapat diperolehi menerusi latihan Muraqabah. Semoga Allah memberikan kita Taufiq.
Seterusnya hendaklah melakukan Muraqabah Ahadiyat pada setiap Latifah Alam Amar iaitu pada Latifah Qalb, Latifah Ruh, Latifah Sirr, Latifah Khafi dan pada Latifah Akhfa dengan lafaz niat seperti berikut:
LATIFAH QALB

“Faidhz Mi Ayad Bar Man Az Zate Keh Mustajmi’ Jami’ Sifat Kamal Wa Munazzah Az Har Naqis Wa Zawal. Mawrid Faidhz Latifah Qalb Man Ast.” [Bahasa Farsi]
Terjemahan: Faidhz terlimpah ke atasku dari Zat Yang Terhimpun Segala Sifat Yang Sempurna Dan Suci Dari Segala Kelemahan Dan Kekurangan. Mawrid Faidhz adalah pada Latifah Qalb Ku.
LATIFAH RUH
 “Faidhz Mi Ayad Bar Man Az Zate Keh Mustajmi’ Jami’ Sifat Kamal Wa Munazzah Az Har Naqis Wa Zawal. Mawrid Faidhz Latifah Ruh Man Ast.
” Faidhz terlimpah ke atasku dari Zat Yang Terhimpun Segala Sifat Yang Sempurna Dan Suci Dari Segala Kelemahan Dan Kekurangan. Mawrid Faidhz adalah pada Latifah Ruh Ku.
 LATIFAH SIRR
 “Faidhz Mi Ayad Bar Man Az Zate Keh Mustajmi’ Jami’ Sifat Kamal Wa Munazzah Az Har Naqis Wa Zawal. Mawrid Faidhz Latifah Sirr Man Ast.”
Faidhz terlimpah ke atasku dari Zat Yang Terhimpun Segala Sifat Yang Sempurna Dan Suci Dari Segala Kelemahan Dan Kekurangan. Mawrid Faidhz adalah pada Latifah Sirr Ku.
LATIFAH KHAFI
 “Faidhz Mi Ayad Bar Man Az Zate Keh Mustajmi’ Jami’ Sifat Kamal Wa Munazzah Az Har Naqis Wa Zawal. Mawrid Faidhz Latifah Khafi Man Ast.”
 Faidhz terlimpah ke atasku dari Zat Yang Terhimpun Segala Sifat Yang Sempurna Dan Suci Dari Segala Kelemahan Dan Kekurangan. Mawrid Faidhz adalah pada Latifah Khafi Ku.
 LATIFAH AKHFA
 “Faidhz Mi Ayad Bar Man Az Zate Keh Mustajmi’ Jami’ Sifat Kamal Wa Munazzah Az Har Naqis Wa Zawal. Mawrid Faidhz Latifah Akhfa Man Ast.”
Faidhz terlimpah ke atasku dari Zat Yang Terhimpun Segala Sifat Yang Sempurna Dan Suci Dari Segala Kelemahan Dan Kekurangan. Mawrid Faidhz adalah pada Latifah Akhfa Ku.
Para Masyaikh Naqshbandiyah Mujaddidiyah telah menetapkan bahawa setiap Latifah Alam Amar perlu dilakukan Muraqabah secara berasingan dan ianya bermaksud agar setiap Latifah itu diterokai satu persatu kerana setiap Latifah Alam Amar adalah suatu alam yang berasingan dan setiap alam adalah tidak sama antara satu dengan yang lain. Maka hendaklah menempuhnya satu persatu.
Muraqabah bererti memerhatikan limpahan Faidhz dari sumber Faidhz iaitu Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan memelihara bayangan limpahan Faidhz tersebut senantiasa terlimpah pada Mawrid Faidhz yakni Latifahlatifah yang tertentu secara berterusan. Adapun, limpahan Faidhz dari Hadhrat Haq Subhanahu Wa Ta’ala yang diterima pada Latifah seseorang Salik, maka Latifah itu merupakan Mawrid Faidhz dan kerana itulah Para Masyaikh telah menetapkan bagi seseuatu maqam itu dengan Muraqabah yang berasingan.
Bagi penerokaan Daerah Imkan mereka telah mengarahkan Para Murid melakukan Muraqabah Ahadiyat. Ianya merupakan Muraqabah terhadap Zat Yang Maha Memiliki Ketinggian yang terhimpun padaNya segala sifat kesempurnaan dan suci dari sebarang kekurangan dan kelemahan dan Zat tersebut dinamakan dengan suatu nama yang agung lagi diberkati iaitu Allah. Ketahuilah bahawa pada setiap Muraqabah Latifah hendaklah benar-benar memerhatikan Mawrid Faidhz iaitu tempat limpahan itu diterima. Kesemua Latifah itu setiap satu darinya adalah dari Hadhrat Masyaikh Kiram Silsilah ‘Aliyah Naqshbandiyah Mujaddidiyah sehinggalah kepada Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu dengan cara membayangkan bahawa dada mereka berhadapan secara ‘akas bertentangan atau disebut Ta’akkus.
Gambaran mereka berada dalam keadaan seperti kita sedang melihat cermin.Bayangan gambaran hendaklah dilakukan dengan membayangkan dari limpahan Faidhz yang khusus kepada Latifah yang khusus pada diri secara terbalik sebagaimana yang dikehendaki dengan ungkapan “Ana ‘Inda Zonni ‘Abdi Bi” yakni Allah adalah bertindak menurut sangkaan hambaNya terhadapNya. Sesungguhnya ia adalah mudah bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk melakukannya.
 Setelah Murid sempurna melakukan Muraqabah Ahadiyat, seterusnya hendaklah melakukan Muraqabah Tajalliyat pada setiap satu Maqam Latifah Alam Amar iaitu pada Latifah Qalb, Latifah Ruh, Latifah Sirr, Latifah Khafi dan Latifah Akhfa dengan lafaz niatnya seperti yang akan dinyatakan nanti. Wama Zalika ‘Ala Allahi Bi ‘Aziz

MURAQABAH TAJALLIYAT LATIFAH QALB

Bayangkan Latifah Qalb diri berkedudukan berhadapan dengan Latifah Qalb Mubarak Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, seraya menyebut lafaz niatnya: “Ilahi, Faidhz Tajalliyat Af’aliyah Keh Az Latifah Qalb Hadhrat Muhammad Rasulullah Sallallahu Ta’ala ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Ashabihi Wabarik Wasallam Dar Latifah Qalb Hadhrat Adam ‘Alaihissalam Ifadhzah Farmudah, Bihurmati Piran Kibar Dar Latifah Qalb Man Ilqa Kun”

 Terjemahan: Ya Tuhanku, limpahkanlah Faidhz Tajalliyat Af’aliyah dari Latifah Qalb Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Latifah Qalb Hadhrat Adam ‘Alaihissalam, dengan kehormatan Para Masyaikh Akabirin Naqshbandiyah Mujaddidiyah hubungkanlah pada Latifah Qalb ku.

MURAQABAH TAJALLIYAT LATIFAH RUH

Bayangkan Latifah Ruh diri berkedudukan berhadapan dengan Latifah Ruh Mubarak Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, seraya menyebut lafaz niatnya: “Ilahi, Faidhz Tajalliyat Sifat Tsubutiyah Keh Az Latifah Ruh Hadhrat Muhammad Rasulullah Sallallahu Ta’ala ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Ashabihi Wabarik Wasallam Dar Latifah Ruh Hadhrat Nuh Wa Ibrahim ‘Alaihimassalam Ifadhzah Farmudah, Bihurmati Piran Kibar Dar Latifah Ruh Man Ilqa Kun”

Terjemahan: Ya Tuhanku, limpahkanlah Faidhz Tajalliyat Sifat Tsubutiyah dari Latifah Ruh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Latifah Ruh Hadhrat Nuh dan Hadhrat Ibrahim ‘Alaihimassalam, dengan kehormatan Para Masyaikh Akabirin Naqshbandiyah Mujaddidiyah hubungkanlah pada Latifah Ruh ku.

MURAQABAH TAJALLIYAT LATIFAH SIRR

Bayangkan Latifah Sirr diri berkedudukan berhadapan dengan Latifah Sirr Mubarak Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, seraya menyebut lafaz niatnya: “Ilahi, Faidhz Tajalliyat Shuyun Zatiyah Keh Az Latifah Sirr Hadhrat Muhammad Rasulullah Sallallahu Ta’ala ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Ashabihi Wabarik Wasallam Dar Latifah Sirr Hadhrat Musa ‘Alaihissalam Ifadhzah Farmudah, Bihurmati Piran Kibar Dar Latifah Sirr Man Ilqa Kun”

Terjemahan: Ya Tuhanku, limpahkanlah Faidhz Tajalliyat Shuyun Zatiyah dari Latifah Sirr Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Latifah Sirr Hadhrat Musa ‘Alaihissalam, dengan kehormatan Para Masyaikh Akabirin Naqshbandiyah Mujaddidiyah hubungkanlah pada Latifah Sirr ku.

MURAQABAH TAJALLIYAT LATIFAH KHAFI

Bayangkan Latifah Khafi diri berkedudukan berhadapan dengan Latifah Khafi Mubarak Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, seraya menyebut lafaz niatnya: “Ilahi, Faidhz Sifat Salbiyah Keh Az Latifah Khafi Hadhrat Muhammad Rasulullah Sallallahu Ta’ala ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Ashabihi Wabarik Wasallam Dar Latifah Khafi Hadhrat ‘Isa ‘Alaihissalam Ifadhzah Farmudah, Bihurmati Piran Kibar Dar Latifah Khafi Man Ilqa Kun”

Terjemahan: Ya Tuhanku, limpahkanlah Faidhz Sifat Salbiyah dari Latifah Khafi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Latifah Khafi Hadhrat ‘Isa ‘Alaihissalam, dengan kehormatan Para Masyaikh Akabirin Naqshbandiyah Mujaddidiyah hubungkanlah pada Latifah Khafi ku.

MURAQABAH TAJALLIYAT LATIFAH AKHFA

Bayangkan Latifah Akhfa diri berkedudukan berhadapan dengan Latifah Akhfa Mubarak Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, seraya menyebut lafaz niatnya: “Ilahi, Faidhz Tajalliyat Shan Jami’ Keh Az Latifah Akhfa Hadhrat Muhammad Rasulullah Sallallahu Ta’ala ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Ashabihi Wabarik Wasallam Ifadhzah Farmudah, Bihurmati Piran Kibar Dar Latifah Akhfa Man Ilqa Kun”

Terjemahan: Ya Tuhanku, limpahkanlah Faidhz Tajalliyat Shan Jami’ dari Latifah Akhfa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan kehormatan Para Masyaikh Akabirin Naqshbandiyah Mujaddidiyah hubungkanlah pada Latifah Akhfa ku.