Tampilkan postingan dengan label Tokoh Sufi Awal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Sufi Awal. Tampilkan semua postingan

TOKOH SUFI KLASIK SIRI 3 : SARRI AS SAQATHI DAN SEORANG ANGGOTA ISTANA


Pada suatu hari ketika Saqathi sedang memberikan ceramah. Salah seorang di antara sahabat-sahabat karib khalifah, Ahmad Yazid si juru tulis lewat dengan pakaian kebesaran yang megah diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya. ''Tunggulah sebentar, aku hendak mendengarkan kata-katanya'', kata Ahmad Yazid kepada pengiringnya. ''Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak perlu kita datangi''. Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Saqathi.

Saqathi berkata: "Di antara delapan belas ribu dunia itu ada yang lebih lama dari pada manusia, dan di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah dari pada manusia. Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaikat-malaikat sendiri iri kepadanya. Jika ia jahat, maka ia terlampau jahat sehingga syaitan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasanya!''. Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikkan Saqathi kejantung Ahmad.
Ahmad menangis dengan sedihnya sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah sadar ia masih menangis, Ahmad bangkit dan pulang ke rumahnya. Malam itu tak sesuatu pun dimakannya dan tak sepatah kata pun yang di ucapkannya.

Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula ke tempat Saqathi berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai ia pun pulang.

Di hari ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika ceramah selesai ia menghampiri Saqathi. ''Guru'', ucap Ahmad, kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang ditempuh para khalifah''.

''Jalan manakah yang engkau inginkan'', tanya Saqathi. "Jalan para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan?''

"Tunjukkanlah kedua jalan itu kepadaku", pinta Ahmad kepada Saqathi.

Maka berkatalah Saqathi: ''Inilah jalan yang ditempuh orang banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari semalam di belakang seorang Imam, dan keluarkanlah zakat - jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap dua puluh dinar yang engkau miliki.

Dan inilah jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau terperosok ke dalam perangkap-perangkapnya. Jika kepadamu hendak diberikan sesuatu, janganlah terima. Demikianlah kedua jalan tersebut''.

Ahmad meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara.

Beberapa hari kemudian seorang perempuan tua yang berambut kusut dengan bekas-bekas luka dipipinya datang menghadap Saqathi dan berkata: ''Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih muda dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa hari ini ia tidak pulang dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari dia. Tolong lakukanlah sesuatu untuk diriku''.

Permohonan wanita tua itu menggugah hati Saqathi. Maka berkatalah ia: ''Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia kembali, niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya''.

Beberapa lama berlalu. Pada suatu malam, Ahmad kembali kepada Saqathi. Dan Saqathi memerintahkan kepada pelayannya, ''Kabarkanlah kepada ibunya''. Kemudian ia memandang Ahmad. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah bungkuk. ''Wahai guru yang budiman'', Ahmad berkata kepada Saqathi, ''Karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamaian dan telah mengeluarkan aku dari kegelapan, aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan menganugerahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan di akhirat''.

Mereka sedang asyik berbincang-bincang ketika ibu dan isteri Ahmad masuk. Mereka juga membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si ibu melihat Ahmad yang sudah berubah sekali keadaannya ia pun menubruk dada Ahmad. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Saqathi sendiri pun tidak dapat menahan air matanya. Si anak merebahkan diri ke haribaan ayahnya. Tetapi betapa pun juga mereka membujuk, Ahmad tidak mau pulang ke rumah. ''Wahai Imam kaum Muslimin'', Ahmad berseru kepada Saqathi, ''mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada mereka? Mereka inilah yang akan meruntuhkan diriku''. Saqathi menjawab: "Ibumu terus menerus bermohon sehingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila engkau datang''.

Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir isterinya meratap: ''Belum lagi mati, engkau telah membuatku janda dan puteramu jadi yatim. Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan kulakukan? Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu''.

"Baiklah", jawab Ahmad. Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anaknya itu: ''Sekarang, pergilah engkau seorang diri''.

Melihat hal ini si isteri menjerit: ''Aku tidak sampai hati membiarkannya'', dan anak itu ditariknya ke dalam dekapannya.

"Aku memberikan kuasa kepadamu", kata Ahmad kepada isterinya, 'Jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian, lakukanlah'. Maka kembalilah Ahmad ke padang belantara.

Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam, pada waktu shalat isya, seseorang mendatangi Saqathi di tempat kediamannya. Orang itu berkata kepada Saqathi: ''Ahmad mengutus aku untuk menjumpai enkau. Ia berpesan: 'Hidupku hampir berakhir. Tolonglah aku''.

saqathi pergi ketempat Ahmad. Ia menemukan Ahmad yang sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak. Saqathi mendengar Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi: ''Untuk yang seperti ini bekerjalah wahai pekerja''. Saqathi mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan dan mendekapkan kedadanya, Ahmad membuka matanya, terlihatlah olehnya sang syekh, dan berkatalah ia: ''Guru, engkau datang tepat pada waktunya. Hidupku akan berakhir sesaat lagi''. Sesaat kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sambil menangis Saqathi kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan-urusan Ahmad. Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan ke arah luar kota.

''Hendak kemanakah kalian?'' Saqathi bertanya kepada mereka.

''Tidak tahukah engkau?'', jawab mereka. ''Kemarin malam terdengar sebuah seruan dari langit: 'Barangsiapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!'.''


TOKOH SUFI KLASIK SIRI 2 : SARRI AS SAQATHI SUFI TERKEMUKA DI BAGHDAD



Orang-orang mengatakan bahwa Sarri as-Saqathi yang nama lengkapnya adalah Abul Hasan Sarri bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma'ruf al-Karkhi dan paman Junaid al-Baghdadi. Beliau adalah seorang tokoh sufi yang terkemuka di Baghdad dan pernah mendapat tantangan dari Ahmad Hambali. Mula-mula ia mencari nafkah dengan berdagang barang-barang bekas dan meninggal pada tahun 253 H/ 867 M dalam usia 98 tahun.

KEHIDUPAN SARRI AS-SAQATHH


Sarri as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan ''peleburan'' [fana] sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syekh-syekh sufi di negeri Irak adalah murid-murid Sarri as-Saqathi. Ia adalah paman Junaid murid Ma'ruf al-Karkhi. Ia juga pernah bertemu dengan Habib ar-Ra'i. Pada mulanya Saqathi tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat digantungkannya sebuah tirai di depan pintu tokonya.

Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Saqathi dan berkata: ''Syekh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu''. Saqathi menyahut: ''Si syekh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih payahnya tidak bermamfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan mengkhusyu'kan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepada-Nya walaupun sesaat''.

Diriwayatkan, di dalam berdagang itu Saqathi tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen. Pada suatu ketika Saqathi membeli buah-buahan badam seharga enam puluh dinar. Pada waktu harga buah badam sedang naik, seorang pedagang perantara datang menemui Saqathi.

''Buah-buah badam ini hendak kujual'', Saqathi berkata kepadanya.

''Berapakah harganya?'', tanya si perantara.

"Enam puluh dinar", kata Saqathi.

"Tetapi harga buah badam pada saat ini sembilan puluh dinar'', si perantara berkeberatan.

"Sudah menjadi peraturan bagi diriku untuk tidak menarik keuntungan lebih dari lima persen'', jawab saqathi, ''Dan aku tidak akan melanggar peraturan sendiri''.

"Dan aku pun tidak merasa pantas untuk menjual barang-barangmu dengan harga kurang dari sembian puluh dinar'', sahut di pedagang perantara.

Akhirnya si perantara tidak jadi menjualkan buah-buahan Saqathi.

Pada mulanya Saqathi menjual barang-barang bekas. Pada suatu hari pasar kota Baghdad terbakar. ''Pasar terbakar!'', orang-orang berteriak. Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Saqathi: ''Sudah bebaslah aku!''
Setelah api reda ternyata toko Saqathi tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan ini Saqathi menyerahkan segala harta bendanya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia mengambil jalan kesufian.

"Apakah yang menyebabkan engkau menjalani kehidupan spiritual ini?'' seseorang bertanya kepada Saqathi. Jawab Saqathi: ''Pada suatu hari Habib ar-Ra'i lewat di depan tokoku. Kepadanya kuberikan sesuatu untuk disampaikan kepada orang-orang miskin. 'Semoga Allah memberkahi engkau', Habib ar-Ra'i mendoakan diriku. Setelah ia mengucapkan doa itu dunia ini tidak menarik hatiku lagi''.

Keesokan harinya datanglah Ma'ruf Karkhi beserta seorang anak yatim. 'Berikanlah pakaian untuk anak ini', pinta Ma'ruf kepadaku. Maka anak itupun kuberi pakaian. Kemudian Ma'ruf berkata: 'Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini'. Karena dikabulkannya doa Ma'ruf itulah aku meninggalkan semua harta kekayaanku di dunia ini''.



TOKOH SUFI KLASIK SIRI 1 : RAMPAI SARI KEHIDUPAN SARI AS SAQATHI



Sari as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan "peleburan" sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syeikh-syeikh sufi di negeri Iraq adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Ia adalah paman Junaid dan murid Ma'ruf al-Karkhi. Ia juga pernah bertemu dengan Habib ar-Ra'i.
Pada mulanya Sari tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat, digantungkan-nya sebuah tirai di depan pintu tokonya.
Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Sari dan berkata:
"Syeikh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu".
Sari menyahut: "Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih pay ah ny a tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan menghusukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepada-Nya walau sesaat pun".
Diriwayatkan, di dalam berdagang itu Sari tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen. Pada suatu ketika Sari membeli buah-buahan badam seharga enam puluh dinar. Pada waktu harga buah badam sedang naik, seorang pedagang perantara datang menemui Sari.
"Buah-buah badam ini hendak kujual", Sari berkata kepadanya. "Berapakah harganya?", tanya si perantara. "Enam puluh enam dinar".

"Tetapi harga buah badam pada saat ini sembilan puluh dinar", si perantara berkeberatan.
"Sudah menjadi peraturan bagi diriku untuk tidak menarik keuntungan lebih dari lima persen ", jawab Sari, "dan aku tidak akan melanggar peraturan sendiri".
"Dan aku pun tidak merasa pantas untuk menjual barang-barangmu dengan harga kurang dari sembilan puluh dinar", sahut di pedang perantara.
Akhirnya si perantara tidak jadi menjualkan buah-buahan Sari.

TOKOH SUFI KLASIK MA’RUF AL-KARKHI KE KE 9 : JALAN KEROHANIANNYA

Ma’ruf al-Karkhi sesufi yang tinggal di kota Bagdad. Tahun kelahirannya tidak diketahui dengan jelas dan hanya diketahui tahun wafatnya pada tahun 200 H./815 M. Kalau dilihat dari namanya ia berasal dari Karkh yang menurut sebagian pakar sejarah merupakan bagian dari kota Bagdad dan menurut sebagian lagi Karkh berada di luar kota Bagdad di sebelah Timur.

Menurut pakar sejarah, kedua orang tuanya memeluk agama Kristen dan menurut yang lain menganut agama Sabiah. Diriwayatkan katika Ma’ruf al-Karkhi pada usia meningkat remaja ia sangat menentang ajaran gurunya yang mengatakan bahwa Allah merupakan salah satu oknum Tuham. Ma’ruf al-Karkhi menentang pendapat ini katanya Tuhan hanya satu. Karena pendapatnya yang berbeda dengan pendapat gurunya, ia dipukul oleh gurunya dan ia melarikan diri dan bersembunyi. Karena kedua orang tuanya telah kehilangan anak yang dicintainya dan mengharap kepulangan anaknya dan orang tuanya berjanji kalau anaknya mau pulang agama apa saja yang dipeluk anaknya dianut juga oleh kedua orang tuanya. Setelah sekian lama ia memeluk agama Islam di bawah bimbingan Ali bin Musa al-Ridha, setelah ia pulang dengan mengatakan bahwa ia telah memeluk agama Islam yang kemudian disusul oleh kedua orang tuanya.

Ma’ruf al-Karkhi mempelajari agama Islam melalui sejumlah ulama di Bagdad yang di antaranya Daud al-Thai. Bakar bin Humais dan Farqad as-Sabukhi. Karena ketekunannya dan ketabahannya dalam menuntut ilmu pengetahuan dan khususnya ilmu tasawuf, ia berhasil menjadi sesufi yang terkemuka di Bagdad. Ia membuka halaqah pengajian dan di antara murid-muridnya yang terkenal di kemudian hari adalah Sari al-Saqati. Sebagai sesufi ia juga dikenal di kalangan fukaha sebagai seorang fakih. Diriwayatkan ada dua orang fakih Bagdad yang terkemuka; Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Main berdiskusi tentang sujud sahwi dan keduanya belum sepakat. Untuk lebih lanjut mereka berdua ingin menanyakan pendapat Ma’ruf al-Karkhi. Ma’ruf al-Karkhi menjawab dari sudut pendang tasawuf katanya: sujud sahwi merupakan hukuman kepada hati karena lalai mengingat Allah.


Ma’ruf al-Karkhi menurut pada peneliti tasawuf sebagai tokoh yang memperkembangkan ajaran tasawuf. Ia menambah hasil perolehan jiwa dari cinta yang telah ditemukan oleh Rabiatul Adawiyah. Menurutnya cinta harus dilanjutkan sampai ke titik thuma’ninah (ketenangan) jiwa. Karena cinta dan ketenangan itulah yang menjadi tujuan tasawuf. Kebahagiaan yang sebenarnya dan yang kekal, bukan harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati. Kekayaan hati hanya dapat dicapai melalui ma’rifah (pengenalan) akan yang dicinta. Apabila yang dicintai telah dikenal, terwujudlah kebahagiaan dan ketenteraman dalam hati dan kecillah segala urusan kebendaan dalam penglihatan hati. Ma’ruf al-Kakhi dipandang oleh para peneliti tasawuf sebagai tokoh penting yang merupakan pengembang ajaran tasawuf yakni memunculkan teori baru dalam tasawuf ialah melalui mencari ma’rifah sebagai inti ajaran tasawufnya. Kalau dahulu ajaran tasawuf baru berkisar berupa ajaran zuhud dan tekun beribadah untuk memperoleh keredhaan Allah. Pandangan ini berdasarkan penelitian kepada makna tasawuf itu sendiri. Di antara makna tasawuf yang dibawakan Ma’ruf al-Karkhi ialah tasawuf adalah memperoleh hakikat (ma’rifat) dan tidak mengharap sama sekali apa yang berada di tangan makhluk. Mencari hakikat tidaklah berbeda dengan mencari ma’rifat itu sendiri karena ma’rifat adalah ujung ilmu pengetahuan yang dikembangkan sufi ialah ilmu syariat, ilmu thareqat, ilmu hakikat, dan ilmu ma’rifat.

Ma’ruf al-Karkhi menurut sufi sebagai shufi yang dikuasai oleh perasaan cinta yang membara kepada Allah seperti halnya Rabiatul Adawiyah. Berkenaan dengan cinta kepada Allah Ma’ruf al-Karkhi mengatakan: cinta kepada-Nya bukanlah diperoleh melalui pengajaran ia merupakan pemberian atau kurnia Tuhan. Pernyataan ini yakni cinta kepada Allah menurutnya bukan termasuk maqam (posisi yang didapat melalui usaha) tetapi termasuk hal (keadaan jiwa) yang dikurniakan Allah.

Menurut para peneliti Barat yang di antaranya Nicholson yang mencoba menghubungkan antara timbulnya ide memperoleh hakikat (ma’rifat) dengan latar belakang keagamaan Ma’ruf al-Karkhi di masa kecilnya. Menurut Nicholson ide itu berasal dari ajaran agama yang dipeluknya yang dahulu ialah Kristen atau Sabiah. Pendapat yang seperti ini hanya merupakan dugaan alasannya pada masa kecil Ma’ruf al-Karkhi belum tentu mengenal ajaran tentang hakikat bahkan dugaan besar ia belum mengenalnya karena usianya yang masih muda. Muncul ide mencai hakikat itu, mungkin saja hasil dari tafakur atau renungannya dalam tasawuf.

Menurut sufi martabat yang tinggi yang dicapai oleh Ma’ruf al-Karkhi tidak disangsikan lagi.
Mereka beralasan dengan mimpi Ahmad bin Fath yang bertemu dengan Bisyir bin Haris yang telah wafat lebih dahulu. Ahmad bin Fath menyatakan tentang keadaan yang dialami Ma’ruf al-Karkhi dirinya diampuni Allah. Kulihat Ahmad bin Hanbal berdiri sedang antara mereka terdapat pembatas. Karena Ma’ruf al-Karkhi menyembah Tuhan bukan mengharap surga, tidak pula karena takut kepada neraka, karena itu ia diangkat ke tempat yang tinggi yang tidak ada pembatas antaranya dengan Tuhan. Begitulah pengakuan orang-sufi tentang martabat Ma’ruf al-Karkhi.

Menurut sufi bahwa Ma’ruf al-Karkhi seperti halnya para zahid dan shufi lainnya. Ma’ruf al-Karkhi terkenal di kalangan shufi memiliki banyak keramat yang di antaranya ketika terjadi kemarau panjang ia berdoa dalam shalat istisqa meminta hujan, sebelum doanya selesai hujan turun.

Kemudian di belakangnya datang lagi Haris al-Muhasibi, yang menambah ajaran tasawuf Ma’ruf al-Karkhi dengan persatuan (ittihad). Haris al-Muhasibi nama lengkapnya Abu Abdullah al-Haris bin Asad al-Basri adalah ulama yang namanya sangat menonjol dalam bidang tasawuf di zamannya. Ia dilahirkan di kota Basrah pada tahun 165 H/781 M kemudian pindah ke Bagdad ibu kota negara Bani Abbasiyah dan meninggal di kota itu pada tahun 242 H/895 M pada usia 78 tahun.

Pada awal kehidupan intelektual al-Muhasibi berkecimpung dan menggeluti ilmu hadis dan tasawuf sehingga ia sangat matang dalam kedua ilmu itu. Al-Muhasibi menimba ilmu hadis dan fikih dari para ulama yang terkenal di zamannya. Di antaranya guru-gurunya dalam fikih ia belajar dengan Imam Syafi’i, Abu Ubaid al-Qasimi bin Salam, dan Kadi Abu Yusuf. Dan dalam bidang ilmu hadis ia belajar dengan Hasyim, Syuraih bin Yunus, Yazid bin Haran, Abu an Nadar, dan Suwaid bin Daud.

Al-Muhasibi tidak seperti ulama-ulama hadis dan fikih di masa itu yang membatasi telaahan pada bidang yang ditekuninya tetapi al-Muhasibi juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan politik dan kehidupan sosial. Perkembangan pemikiran teologi Islam (ilmu kalam) di masanya, diikutinya denga seksama, ia mempelajari dan memahami dengan baik pemikiran Mu’azilah, Syi’ah, Khawarij, jabariyah, dan Qadariyah. Sekalipun al-Muhasibi tidak sependapat dengan aliran Mu’tazilah namun aliran ini sangat mempengaruhi cara berpikirnya di antaranya menghargai akal dalam memahami agama dan untuk mencapai kebenaran. Dalam dua ilmu yang ia tekuni, ia juga menelaah perilaku dan ucapan-ucapan para zahid (ahli ibadah) yang hidup sebelumnya, seperti Hasan Basri, Iberahim bin Adham, Daud al-Thai dan Fudhail bin Iyad dan juga pemikiran-pemikiran para zahid di zamannya seperti Syaqiq al-Balkhi, Ma’ruf al-Karkhi, Bisyar Khafi, Zi Nun al-Misri dan Sirri al-Saqati.

Telaahannya yang begitu luas yang menjadikan dirinya menjadi ulama terkemuka di zamannya. Persaksian dari tiga orang penulis sejarah tasawuf di belakangnya mengakui keluasan wawasan ilmu al-Muhasibi seperti al-Qusyairi yang menulis dalam bukunya “al-Risalah al-Qusyairiyah” menyatakan al-Muhasibi adalah seorang ulama yang tidak ada tolok bandingnya di zamannya, baik dalam bidang fikih maupun dalam bidang tasawuf. Al-Tamimi menggambarkan bahwa al-Muhasibi merupakan imam kaum muslimin dalam bidang hadis, fikih, ilmu kalam, dan tasawuf. Dan Ibnu Khaldun menulis dalam bukunya “Al-Muqaddimah” mengakui al-Muhasibi menghimpun ilmu fikih batin, ilmu fikih lahir, ilmu fikih wara’, dan ilmu akhirat.

Di samping ilmu-ilmu yang dimilikinya al-Muhasibi dalam bidang hadis dan fikih, ia juga menggeluti ilmu dalam bidang tasawuf bahkan namanya sangat populer di kalangan para shufi. Ia mempelajari tasawuf pada usia tiga puluh tahu, dalam pengakuannya katanya “telah berlalu masa selama tiga puluh tahun dan selama itu aku tidak pernah mendengar sesuatu kecuali dari kepalaku. Kemudian berlalu pula masa selama tiga puluh tahun yang selama itu aku tidak pernah mendengar sesuatu kecuali dari Allah”.


Dalam ungkapan di atas, ia menegaskan setelah ia bergaul selama tiga puluh tahun dengan ilmu pengetahuan yang memerlukan analisa pemikiran seperti fikih dan ilmu kalam, ia berpindah ke bidang ilmu tasawuf untuk membersihkan batinnya, mempertajam kesadaran hatinya agar memperoleh bisikan suci dari Allah. Kesungguhannya untuk menggabungkan dan menjaga kebersihan batinnya luar biasa. Ia selalu mengadakan perhitungan (muhasabah) sehingga ia digelar al-Muhasibi, ia selalu memperhitungkan semua aktivitas batinya


 

TOKOH SUFI KLASIK MA’RUF AL-KARKHI KE7 : PESANANNYA

Pada suatu hari beberapa orang Syi'ah mendobrak pintu rumah Riza dan menyerang Ma'ruf sehingga tulang rusuknya patah. Ma'ruf tergeletak dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.

Sari as-Saqathi berkata kepada Ma'ruf. "Sampaikanlah wasiat-mu yang terakhir"

Ma'ruf berkata: "Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku dan sedekahkanlah. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika aku dilahirkan dari rahim ibuku".

Ketika Ma'ruf meninggal, prikemanusiaan dan kerendahan hatinya sedemikian harum sehingga semua kaum, baik yang beragama Yahudi, Kristen, maupun Islam mengakuinya sebagai salah seorang di antara mereka.

Pelayanannya menyampaikan bahwa Ma'ruf pernah berpesan: "Jika ada suatu kaum yang dapat mengangkat peti matiku nanti, maka aku adalah salah seorang di antara mereka".

Kemudian ternyatalah bahwa orang-orang Kristen tidak dapat mengangkat peti matinya. Begitu pula dengan orang-orang Yahudi. Ketika tiba giliran orang-orang Muslim ternyata mereka berhasil. Kemudian mereka men-shalatkan jenazah dan menguburnya di tempat itu juga.

TOKOH SUFI KLASIK MA’RUF AL-KARKHI KE 8: SARI AL SAQATHI BERMIMPI

Sari meriwayatkan sebagai berikut ini: Setelah Ma'ruf mati, dalam suatu mimpi aku bertemu dengan dia. Ma'ruf sedang berdiri di bawah tahta. Matanya terbuka lebar seperti seorang yang ter-kesima dan berputus asa. Kemudian terdengarlah seruan Allah kepada malaikat-malaikat-Nya:

"Siapakah dia ini?"

"Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Tahu", malaikat-malaikat itu menjawab.

"Dia inilah Ma'ruf", terdengar sabda-Nya. "Ia terkesima dan terpesona karena cinta-kasih Kami. Hanya dengan memandang Kami sajalah ia dapat sadar kembali. Hanya dengan menemui Kami sajalah ia akan menemukan dirinya kembali".

TOKOH SUFI KLASIK MA’RUF AL-KARKHI KE 6 : BELIAU BERWUDHU

Pada suatu hari, wudhu' Ma'ruf  batal. Segeralah ia bersuci dengan pasir. Melihat hal ini orang-orang menegurnya:

"Lihatlah, di situ Sungai Tigris, tetapi mengapakah engkau bersuci dengan pasir?'

Ma'ruf menjawab: "Mungkin sekali aku telah mati sebelum sampai ke situ".

TOKOH SUFI KLASIK MA’RUF AL-KARKHI KE 4 : BELIAU DENGAN BIJI KURMANYA

Ma'ruf mempunyai seorang paman yang menjadi gubernur di suatu kota. Pada suatu hari ketika si paman lewat di sebuah padang, ia melihat Ma'ruf sedang makan roti. Di depan Ma'ruf ada seekor anjing. Secara berganti-ganti Ma'ruf memasukkan sekerat roti ke mulutnya sendiri dan ke mulut anjing itu. Menyaksikan perbuatannya itu si paman berseru:

"Tidak malukah engkau memakan roti bersama-sama dengan seekor anjing?".

Ma'ruf menjawab. "Karena mempunyai rasa malulah aku memberikan roti kepada yang miskin".

Kemudian Ma'ruf menengadahkan kepalanya dan memanggil seekor burung yang sedang terbang di angkasa. Si burung menukik. hinggap di tangannya, sedang sayap-sayapnya menutupi kepala dan,, mata Ma'ruf. Setelah itu Ma'ruf berkata kepada pamannya:

"Jika seseorang malu terhadap Allah, maka segala sesuatu akan malu terhadap dirinya".

Mendengar kata-kata ini si paman terdiam dan tak dapat berkata apa-apa.

TOKOH SUFI KLASIK MA’RUF AL-KARKHI KE 3 : BELIAU BERSAMA MURID-MURIDNYA

Pada suatu hari ketika Ma'ruf berjalan bersama murid-muridnya, mereka bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke tujuan yang sama. Di sepanjang perjalanan sampai ke sungai Tigris anak-anak muda itu menunjukkan tingkah laku yang memuakkan.

Sahabat-sahabat Ma'ruf mendesaknya: "Guru, mintalah kepada Allah Yang Maha Besar untuk membenamkan mereka semua sehingga bumi ini bersih dari kehadiran mereka yang menjijikkan".
Ma'ruf menjawab: "Tengadahkanlah tangan kalian!"


Setelah itu berdoalah Ma'ruf: "Ya Allah, karena Engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di atas dunia ini, maka berikan pulalah kepada mereka kebahagiaan di akhirat nanti".

Sahabat-sahabat Ma'ruf terheran-heran dan berkata:

"Guru, kami tak mengetahui rahasia yang terkandung di dalam doamu itu".

Ma'ruf menjawab: "Dia, kepada siapa aku berdoa tadi, mengetahui rahasianya. Tunggulah sebentar. Sesaat ini juga rahasia itu akan terbuka".

Ketika remaja-remaja itu melihat syeikh Ma'ruf, mereka segera memecahkan kecapi-kecapi mereka dan menumpahkan anggur yang sedang mereka minum. Dengan tubuh gemetar mereka menjatuhkan
diri di depan syeikh dan bertaubat.


Kemudian Ma'ruf berkata kepada sahabat-sahabatnya. "Kalian saksikan betapa kehendak kalian telah dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang jua pun".

TOKOH SUFI HEBAT : KISAH MENGUGAH RASA KITA ....HASAN AL BASRI MENOLONG PENCURI RUMAHNYA (SIRI 11)

Kisah Imam Hasan Al-Basri yang membantu seorang pencuri yang mencuri barang dirumahnya sendiri..suatu hari, seorang pencuri datang ke sebuah rumah untuk mencuri, tiba-tiba masuk seorang hamba Allah yang datang menolong pencuri tersebut, pencuri kedua itu mengatakan kepada pencuri pertama bahawa didalam almari itu mempunyai lagi banyak pakaian, maka seronoklah pencuri pertama kerana malam itu dia berjaya mendapat barang curian yang banyak berbanding hari biasa, maka pencuri tersebut membawa barang - barang curian itu ke rumahnya dibantu oleh pencuri kedua yang sudah berusia itu, apabila sampai dirumah pencuri pertama tadi, dia terkejut kerana pencuri kedua tidak meminta sedikit pun harta curian bahkan pencuri kedua memberitahu bahawa dia telah berusia dan tidak memerlukan harta curian tersebut..

Maka hari esoknya, kecohlah penduduk Kota Baghdad menceritakan perihal rumah Imam Hasan Al-Basri dimasuki pencuri, pencuri pertama tadi rasa bersalah kerana telah mencuri barang-barang dari seorang ulama terkenal, atas perasaan bersalah, dia ingin memulangkan kembali barang-barang tersebut.. apabila sampai sahaja dirumah tuan empunya barang, pencuri pertama sangat terkejut kerana orang yang membuka pintu rumah tersebut adalah pencuri kedua yang membantunya malam tersebut..rupa-rupanya pencuri kedua itu adalah tuan rumah dan namanya Imam Hasan Al-Basri.

Kemudaian Imam Hasan Al-Basri berkata yang bermaksud" Jika Allah SWT telah menetapkan rezeki untuk kita, maka sesungguhnya seorang pencuri pun tidak mampu untuk menarik rezeki tersebut daripada kita"

Maka insaflah dan bertaubatlah pencuri tersebut atas perbuatannya yang lalu..

Kesimpulan yang aku nak buat kat sini : Imam Hasan Al-Basri memiliki ilmu yang tinggi, seorang ulama terkenal tapi beliau tidak riya' dengan ilmunya bahkan akhlaknya juga mulia kerana berupaya membimbing ramai orang termasuk seorang pencuri..Usah dibangga dengan ilmu yang dimiliki kera ingatlah kita bahawa ilmu Allah itu sangat sangat luas, bahkan kalau semua lautan dijadikan dakwat dan digandakan tujuh, maka itu tidak cukup untuk menulis semua ilmu-ilmu Allah SWT...

 

TOKOH SUFI HEBAT : HASAN AL BASRI N DENGAN GABENOR HAJJAJ BIN YUSUF AT TSAQAFI (SIRI 10)

Hasan al-Basri menjadi imam, kota Basrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu penetahuan. Masjidnya yang agung dipenuhi oleh para Shahabat dan Tabi’in yang hijrah ke kota itu. Halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam yang memakmurkan masjid-masjid. Hasan al-Basri menekuni halaqah Abdullah bin Abbas. Dia mengambil pelajaran tafsir, hadits, qira’ah, fiqh, adab dan bahasa.

Ketika Hasan al-Basri sudah menjadi ulama, banyak umat yang menggali ilmunya, mendatangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya, yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras, dan sampai mencucurkan air mata bagi orang-orang yang berbuat dosa. Banyak orang yang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.

Ketika Hajjaj bin Yusuf At-Tsaqafi berkuasa di Irak, dan bertindak sewenang-wenang dan kejam, Hasan al-Basri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang berani menentang dan mengecam keras akan kezhaliman pengausa itu secara terang-terangan. Saat itu, justru sebagain besar para ulama takut dengan Hajjaj, yang sangat kejam dan berindak dengan keras, terhadap siapa saja yang berani mengkritiknya.

Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendo’akannya.

Hasan al-Basri tak mau menyia-nyiakannya kesempatan yang ada, di mana pasti saat itu pasti banyak orang yang datang dan berkumpul di istana Hajjaj. Maka, Hasan al-Basri tampil dan memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar kemuliaan di sisi Allah. Bukanlah kenikmatan dunia yang tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat nanti.

Saat tiba di istana, Hasan al-Basri, melihat begitu banyak orang mengelilngi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang sangat lua. Beliau berdiri dan berkhutbah. Diantara isi khutbahnya itu, Hasan al-Basri menyatakan : “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yagn lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun, Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membecinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya …”

Hasan al-Basri tidak berhenti mengkritik Hajjaj, dan terus melanjutkannya: “Wahai saudaraku, Allah Ta’ala telah megnambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia, dan tidak boleh menyembunyikannya”, tambahnya.

Keesokannya harinya, Hajjaj dengan penuh amarah, menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya, dan berkata keras : “Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorangpun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut”, ungkapnya.

Lalu, Hajjaj memerintah para pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri. Saat Hasan al-Basri sudah dibawa, semua mata memandang kepadanya, dan mulai hati berdebar. Menunggu nasib yang akan dialami oleh Hasan al-Basri. 

Begitu Hasan al-Basri melihat algojo yang sudah menghunus pedangnya dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca seseuatu. Kemudian beliau berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan sesorang muslim dan kehormatan seorang da’i di jalan Allah.

Demi melihatketegaran yang demikian hebat, mental Hajjaj runtuh. Padahal, sudah masyhur di seluruh Irak tentang kekejaman Hajjaj. Terpengaruh wibawa dan sikap Hasan al-Basri, dan Hajjaj berkata begitu ramah dengan ulama itu, “Silakan duduk di sini wahai Abu Sa’id, silakan ..”, ucap Hajjaj.

Seluruh yang hadir menjadi terbelalak matanya. Melihat perilaku Amirnya (Hajjaj) mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya dengan penuh wibawa. Hajjaj menoleh kearah al-Basri dan menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab oleh Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik.

Saat merasa pertemuan itu sudah cukup, dan Hajjaj sudah merasa cukup pertanyaan-pertanyaan agama sudah dijawab oleh Hasan al-Basri, lalu Hajjaj mengantarkan Hasan al-Basri sampai ke depan pintu istana, seraya berkata : “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat”, kata Hajjaj. Kemudian, Hajjaj menyemprotkan minyak ke jenggot al-Basri sambil memeluknya.
Pengawal yang mengantarkan Hasan al-Basri sampai ke pintu gerbang itu, bertanya mengapa Hajjaj tidak sampai membunuhya, padahal dia sudah mempersiapkan algojo? “Ketika apa yang anda baca,wahai Sheikh?”, tanya sang pengawal itu. Beliau menjawab, “Ketika itu aku berdo’a, “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan kesalamatan bagi Ibrahim”, pintanya.

Begitulah Hasan al-Basri yang berani menesahati penguasa yang sombong, kejam, dan sangat sewenang-wenang, saat penguasa itu hidup bergelimangan dengan kemewahan, dan ada tanpa takut sedikitpun atas keselamatan jiwanya.

Padahal, Hasan al-Basri, tak lain anak seorang budak Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, yang bernama Khairah, yang dinikahi oleh Yasaar budak dari Zaid bin Tsabit.

Sekalipun budak, di dalam Islam, tetap melahirkan keturunan yang mulia, ulama yang amat disegani dikalangan ulama di Basrah, bahkan, yang paling masyhur, kisah Umar bin Abdul Aziz, yang tak lain, juga keturunan seorang budak. Inilah keistimewaan dalam Islam.

Orang-orang yang mulia dapat lahir dari para budak, yang menjadi pembela Islam, dan menegakkan Islam, tidak kemudian nasib mereka menjadi orang-orang yang disisihkan dalam kehidupan nyata

TOKOH SUFI HEBAT : PENCURI DI RUMAH MALIK BIN DINAR



Seorang pencuri masuk ke rumah Malik bin Dinar. Ia memeriksa sisi rumah, namun tidak menemukan barang yang dapat dicuri. Malik bin Dinar mengawasi gerak-gerik si pencuri dari kejahuan. Setelah si pencuri yakin bahwa usahanya sia-sia, ia pun segera bergegas keluar. Belum sempat ia keluar, Malik bin Dinar menyapa, "Kemarilah, kamu telah datang kepadaku karena menginginkan sesuatu, namun tidak memperolehnya. Sekarang, jika kamu tidak berhasil mendapatkan kebaikan hissi (kebendaan), insyaa Allah kamu akan mendapatkan kebaikan maknawi. Shalatlah dua rakaat di atas sajadahku ini!"

Pencuri itu kemudian berwudhu dan shalat dua rakaat di atas sajadah beliau, sementara Malik bin Dinar berdoa agar si pencuri mau bertobat.

Ketika pencuri itu keluar dari rumah Malik bin Dinar, ia telah berada di alam (kehidupan) yang lain.Tanda-tanda pengabulan tampak pada dirinya. Cahaya ketaatan bersinar di
wajahnya.  Keesokan harinya kawan-kawannya sesama pencuri bertemu dengannya di jalan.

"Wahai Fulan, melihat wajahmu  yang berseri-seri, kami yakin bahwa semalam kamu mendapatkan hasil curian yang memuaskan," kata mereka "Sama sekali tidak, tidak sedikitpun kuperoleh harta, tapi yang kudapatkan adalah curian cahaya dan ilmu. Aku masuk ke rumah Malik bin Dinar, tetapi tidak menemukan sesuatu  yang dapat kucuri.
Ketika akan krluar, beliau memanggilku dan menyuruhku shalat dua rakaat di
sajadahnya, sewaktu aku shalat beliau mendoakan aku. Jadi, kebahagiaan ini adalah
kebahagiaan ketaatan. Karena itu, setelah hari ini, aku bukanlah teman kalian
lagi”.