Tampilkan postingan dengan label Kitab Menuju Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Menuju Allah. Tampilkan semua postingan

KITAB MENUJU ALLAH ENTRI 3 : BERUPAYA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM TAREQAT

(Berpegang teguhnya kepada tali agama Allah dan jangan berpecah belah") dalam kata "berpegang teguh pada TALI AGAMA ALLAH.. dapat di ma'nai dengan - pelajaran yang di turunkan secara berantai.- dalam thoriqoh ada silsilah,. Berkaitan antara murid dan guru.

Maka peganglah ajaran dari guru, dan jangan melirik atau tergiur dengan pelajaran yang di tawarkan oleh orang lain, yang belum tentu kebenarannya.- Allah swt. Senantiasi memberikan pertolongan kepada orang yang beradab dalam ilmuNYA..

Godaan Bagi Penempuh Jalan Tarekat

Ujian Paling Awal Yang Dijumpai Para Calon Pengikut Thoriqoh Ialah Perkara Niat. Apakah Motivasi Masuk Tarakat Betul Didasari Oleh Niat Ikhlas Semata Mata Menjalankan Perintah Alloh Dan Rasulullah,Ataukah Niat Niat Yang Lain. Kenyataannya Tidak Sedikit Orang Masuk Tarekat Telah Jatuh Pada saringan Pertama Lantaran Salah Soal Nawaitu Ini.

Ada Yang Niat Karena Mengikuti Ajakan Teman, Niat Mencari Kesembuhan, Niat Mencari Kemakmuran Ekonomi, Atau Sungkan Kepada Orang Tuanya.Ada Pula Niat Untuk Kepantasan Dimata Masyarakat, Ada Yang Niat Supaya dapat Ilmu Pengobatan, Ada Yang Niat Untuk Kesaktian. Bagi Penempuh Jalan Tarekat harusnya Berhati Hati Pada Kesalahan Niat Ini, Karena Akan Berpengaruh Pada Keberhasilannya Kelak.

Dan Setelah Masuk Tarekat,Kerapkali Muncul Godaan GodaanYang Mengiringi Para Penempuhnya. Ada Godaan Yang Timbul Dari Luar Diri Kita Seperti Persoalan Beratnya Perekonomian, Fitnahan Dari Orang Lain, Masalah Pekerjaan, Keluarga  Adapula Godaan Yang Muncul Dari Dalam Diri Kita Sendiri, Di antara dapat  Dikelompokkan Sebagai Berikut:

Sebelum Dan Ketika Amaliyah

1. Kasal

Kasal Artinya Malas. Malas Untuk Menjalankan Ibadah Kepada Allah SWT, Padahal Sebenarnya Mereka Dapat Dan Sanggup Untuk Melaksanakannya. Kasal Ini Seringkali Menghantui Dalam Fikiran Dan Hati Manusia Yang Berniat Menjalani Amaliyah Thoriqoh. Kesempatan Ada Kemampuan Juga Ada Tapi Malas Untuk Melaksanakannya. Terkadang Untuk Menutup Nutupi Rasa Malasnya SupayaTidak Dipersalahkan Orang Lain Maka Ia Akan Mencari Cari Alasan Dan Argumentasi Agar Tidak Dipersalahkan Karena Kemalasannya Tersebut.

‎2. Futur

Bimbang Dan Ragu Ragu Atau Lemah Sendirian, Tidak Memiliki Tekad Yang Kuat.Terkadang Muncul Keragu Raguan Dalam Hati, Apakah Amalan Yang Baik Tersebut Dilaksanakan Ataukah Tidak.

Adakalanya Bimbang KarenaTerbayang Bayang BeratnyaMenjalani Amalan Tersebut,Terkadang Bimbang Apakah Ia Akan Bisa Merasakan Hasil Atau Manfaatnya Atau Hanya Sia Sia Saja. Adakalanya Bimbang Apakah Mampu Menghadapi Rintangan Rintangannya, Atau Bisa Jadi Bimbang Karena Tarik Menarik Mana Yang Lebih Penting Antara Urusan Duniawi Dan Urusan Ukhrawi.

3. Malal

Malal Artinya Bosan Dan Jenuh.

Kadangkala Hati Manusia Dihantui Oleh Fikiran Dan Perasaannya Sendiri Karena Sudah Menjalani Berbagai Macam Amaliyah Yang Baik Dalam Thariqah. Sudah Berpuluh PuluhTahun Lamanya Tapi Tetap Saja Tidak Ada Peningkatan Ruhani Ataupun Kesejahteraan Yang Dapat Dirasakannya, Sehingga Menganggap Bahwa Amaliyah Baik Yang Sudah Dijalankannya. Selama Ini Seperti Tidak Ada Manfaatnya Apa Apa. Akhirnya Bosan Dan Jemu Kemudian Beribadah Secara Aja Kadarnya Saja, Bahkan Muncul Sifat Meremehkan Terhadap Amal Ibadah Itu Sendiri.

Timbulnya Hal Hal Tersebut Di Atas Adalah Disebabkan Kurang Kuatnya Para Keimanan,Kurang Mantapnya Keyakinan Dan Banyak Terpengaruh Oleh Hawa(Nafsu/kepentingan pribadi) nya Sendiri. Apabila Hal Hal Tersebut Dibiarkan Saja Bersarang Dalam Fikiran Dan Hati Kita Maka boleh Mengakibatkan Gagalnya Mencapai Tujuan Dalam Berthariqah.

KITAB MENUJU ALLAH ENTRI 2 : Mahabbah Dalam Bermujahadah

Allah menerangkan Diri-Nya sebagai Yang Lahir dan Yang Batin (QS. Al-Hadid 57 : 3).
Dunia dan isinya adalah pancaran dan alamat dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, semua realitas dunia memiliki aspek lahir dan aspek batin

Demikian pula dengan kehidupan manusia, kehidupan lahir memang tidak sia-sia, namun berpuas diri semata-mata dengan masalah lahiriah, merupakan pengingkaran terhadap kodrat manusia yang sebenarnya, karena dasar-dasar terdalam keberadaannya untuk melakukan perjalanan diri yang lahir ke yang batin.

Bagi kaum sufi, pendalaman dan pengalaman batin adalah sesuatu yang paling utama dengan tanpa mengabaikan aspek lahiriah yang dimotivasikan untuk membersihkan jiwa. Kebersihan jiwa itu merupakan hasil usaha dan perjuangan (mujahadah) yang tidak henti-hentinya, sebagai cara perilaku perseorangan yang terbaik dalam mengontrol dirinya, setia dan senantiasa merasa dihadapan Allah SWT. Pencapaian kesempurnaan dan kesucian jiwa melalui proses pendidikan dan latihan mental (riyadhah) yang diformulasikan dalam bentuk pengaturan sikap mental yang benar dari pendisiplinan tingkah laku yang ketat.

Al-Ghazali mengumpamakan jiwa manusia bagaikan cermin, cermin yang mengkilap bisa saja menjadi hitam pekat jika tertutup oleh noda-noda hitam maksiat (dosa) yang diperbuat manusia (QS. Al-Muthaffifin 83 : 14). Apabila seseorang senantiasa menjaga kebersihannya, maka titik noda itu akan hilang dan niscaya cermin itu gampang menerima apa-apa yang bersifat suci dari pancaran Nur Ilahi, dan bahkan lebih dari itu, jiwa tadi akan memiliki kekuatan yang besar dan luar biasa.

Memang diakui oleh para ulama tasawuf bahwa manusia dalam kehidupannya selalu berkompetisi dengan hawa nafsunya yang selalu ingin menguasainya (QS. Yusuf : 53). Agar hawa nafsu seseorang dikuasai oleh akal yang telah mendapat bimbingan wahyu, maka dalam dunia tasawuf diajarkan berbagai cara, seperti riyadhah (latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh) sebagai sarana untuk melawan hawa nafsunya tadi. Cara pembinaannya melalui tiga tahapan, yakni tahap pembersihan dan pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela (takhalli), tahap kedua ialah penghiasan diri dengan sifat-sifat terpuji (tahalli) dan ketiga tercapainya sinar Ilahi (tajalli).

Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan kotoran atau penyakit yang merusak. Langkah pertama adalah mengetahui dan menyadari, betapa buruk sifat-sifat tercela dan kotoran hati itu, sehingga muncul kesadaran untuk memberantas dan menghindarinya. Apabila hal ini bisa dilakukan dengan sukses, maka kebahagiaan akan diperoleh seseorang (QS. Asy-Syams 91 : 9-10).

Sifat-sifat tercela itu antara lain sifat hasud (dengki atau iri hati), hirsh (keinginan yang berlebih-lebihan), takabur (sombong), ghadlab (marah), riya’ (sikap pamer), sum’ah (ingin di dengar kebaikannya), ‘ujub (bangga diri), dan syirik (menyekutukan Allah).

Cara menghilangkan sifat-sifat tersebut ialah dengan menghayati akidah (keimanan) dan ibadah kita, mengadakan latihan dan bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya dengan cara mencari waktu yang tepat untuk itu, serta melakukan koreksi diri (munasabah) dan berdo’a kepada Allah SWT.

Jenjang kedua ialah tahalli, yakni menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, dan akhlak karimah. Untuk membangun benteng dalam diri masing-masing individu, terutama dalam menghadapi gemerlapnya materi ini perlu dibangun dan diperkokoh sifat tauhid (mengesakan Allah secara mutlak), ikhlas (beramal karena Allah semata), taubat (kembali ke jalan yang baik) , zuhud (sikap mental lebih mementingkan Allah/akhirat), khub (cinta Allah semata), wara’ (menjaga diri dari hal-hal yang tidak jelas kehalalannya), sabar (tabah), faqr (merasa butuh kepada Allah SWT), syukur (berterima kasih dengan jalan mempergunakan nikmat dan rahmat Allah SWT, secara fungsional dan proporsional), ridha (rela terhadap karunia-Nya), tawakkal (pasrah diri setelah berusaha) dan sebagainya.

Setelah seorang mampu menguasai dirinya, dapat menanamkan sifat-sifat terpuji dalam jiwanya, maka hatinya menjadi jernih, ketenangan dan ketenteraman memancar dari hatinya. Inilah hasil yang dicapai seseorang yang dalam tasawuf disebut tajalli, yaitu sampainya Nur Ilahi dalam hatinya. Dalam keadaan demikian, seseorang bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, mana yang batil dan mana yang haq. Dan secara khusus, tajalli berarti ma’rifatullah, melihat Tuhan dengan matahati, dengan rasa. Ini adalah puncak kebahagiaan seseorang, sehingga berhasil mencapai thuma’ninatul qalb.

Sifat-sifat yang tidak terpuji yang ada pada diri manusia juga dapat dihilangkan dengan menggunakan cara teori mahabbah.

Mahabbahadalah cinta, dan yang dimaksud adalah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain sebagai berikut:
- Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya
- Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi
- Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi, yang dimaksud dengan yang dikasihi disini ialah Tuhan.

Diantara ulama ada yang menempatkan mahabbah (cinta) sebagai bagian dari maqamat tertinggi yang merupakan puncak pencapaian sufi, dimana keseluruhan jenjang yang dilakui bertemu dalam maqom mahabbah.

Menurut as-Sarraj, mahabbah mempunyai tiga tingkat:


1.      Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan, serta senantiasa memuji Tuhan.

2.      Cinta orang yang shiddiq (الصديق), yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya, dan lain-lain. Cinta tingkat kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.

3.      Cinta orang yang ‘arif (العارف), yaitu orang yang tahu betul pada Tuhan. Cinta seperti ini timbul karena telah tahu betul-betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang damai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.

Imam Junayd ketika ditanya tentang cinta menyatakan bahwa seorang yang dilanda cinta akan dipenuhi oleh ingatan pada sang kekasih, sehingga tak satupun yang tertinggal kecuali ingatan pada sifat-sifat sang kekasih, bahkan ia melupakan sifatnya sendiri.

Paham mahabbah mempunyai dasar al-Qur'an, umpamanya:

“…maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya…”.


Juga ada hadits yang membawa paham demikian, misalnya:

“Hamba-hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku cinta padanya. Orang yang kucintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku”.

Adapun cara-cara kita menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah ialah:

  • Dengan cara mengenali semua nama-nama Allah dan semua sifat-sifat-Nya tersebut maka akan tumbuhlah rasa cinta kita kepada Allah
  • Berfikir tentang ciptaan Allah, dengan cara memikirkan segala ciptaan-Nya maka pasti kita akan menyadari betapa besarnya kekuasaan Allah. Dengan cara merenungi ciptaan Allah tersebut maka akan tumbuhlah rasa cinta kita kepada Allah.

Sufi yang termasyhur dalam sejarah tasawuf dengan mahabbahnya adalah seorang sufi wanita yang bernama Rabi’ah al-Adawiyah. Cinta yang mendalam kepada Tuhan memalingkan dia dari segala sesuatu selain Tuhan. Di dalam doanya ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan tidak pula dimasukkan dalam surga. Yang ia pinta adalah dekat dengan Tuhan. Ia mengatakan “aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut terhadap neraka, bukan pula karena ingin masuk surga, tapi aku mengabdi karena takut kepada-Nya”. Ia bermunajat “Tuhanku jika aku puja Engkau karena takut kepada neraka, bakarlah karena engkau”.

Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwanya sehingga ia menolak semua tawaran kawin, dengan alasan bahwa dirinya adalah milik Tuhan yang dicintainya, dan siapa yang ingin kawin dengan dia haruslah meminta izin dari Tuhan.

Penulis sufi menetapkan beberapa tahapan menumbuhkan cinta kepada Allah yaitu keikhlasan, perenungan, pelatihan spiritual, interaksi diri terhadap kematian meskipun tahap cinta dianggap sebagai tahap tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang ahli yang menyelaminya. Termasuk di dalamnya kepuasan hati (ridho), kerinduan (syauq) dan keintiman (uns). Ridho mewakili pada satu sisi ketaatan tanpa disertai adanya penyangkalan dari seorang pecinta terhadap kehendak yang dicintainya. Al-Hujwiri membagi empat golongan manusia yang ridho kepada Allah.

- Mereka yang ridho dengan pemberian-pemberian Allah, yaitu ma’rifat
- Mereka yang ridho kebahagiaan, yaitu dunia ini
- Mereka yang ridho terhadap penderitaan
- Mereka yang ridho menjadi pilihan Tuhan, yaitu cinta.

Syauq adalah kerinduan sang pecinta untuk bertemu dengan sang kekasih, dan uns adalah hubungan intim yang terjalin antara dua kekasih spiritual itu.

Adapun cinta menurut Ibnu al-‘Arabi menjadi tiga cara berwujud:

1. Cinta Ilahiyah: yang pada satu sisi ialah cinta khaliq kepada makhluk dimana ia menciptakan dirinya, yakni menerbitkan bentuk tempat dia mengungkapkan dirinya dan pada sisi lain cinta makhluk kepada Khaliqnya yang tidak lain adalah hasrat Tuhan yang tersingkap dalam makhluk, rindu untuk kembali pada Dia, setelah dia merindukan sebagai makhluk yang tersembunyi, untuk dikenal dalam diri makhluk inilah dialog abadi antara pasangan ilahi manusia.

2. Cinta spiritual: terletak pada makhluk yang senantiasa mencari wujud dimana bayangnya dia cari dalam dirinya atau yang didapati olehnya bahwa bayangan itu adalah dia sendiri. Inilah dalam diri makhluk cinta yang tidak memperdulikan, mengarah atau menghendaki apapun selain cukup sang kekasih.

3. Cinta alami: yang berhasrat untuk memiliki dan mencari kepuasan hasratnya sendiri tanpa memperdulikan kepuasan kekasih.

Cinta dan pengampunan Allah kepada manusia adalah rahmat. Sedangkan cinta manusia kepada Allah adalah suatu kualitas yang dimanifestasikan di dalam hati para mukmin. Sehingga dia akan selalu berusaha memuaskan kekasihnya, merasa serentak dan tanpa henti-hentinya untuk dapat memandang Allah serta tidak dapat dialihkan kepada siapapun kecuali Allah. Akan selalu merasa akrab dengan mengingat-ingatnya dan bersumpah tidak akan mengalihkan ingatannya kepada selainnya.

Para mukmin yang mencintai Allah terdapat dua macam:

1. Mereka yang menganggap bahwa kebaikan dan kedermawanan Allah kepada mereka dan dibimbing oleh anggapan tersebut untuk mencintai sang dermawan.
2. Bagi mereka yang tertawan hatinya oleh cinta dimana mereka berpendapat bahwa semua kebaikan-kebaikan Allah bagaikan sebuah hijab dan menganggap Allah sebagai dermawan akan membimbing pada perenungan kebaikan-kebaikan Allah.

Uraian di atas menjelaskan bahwa untuk menghilangkan sifat-sifat tercela seperti hasud, hirsh, takabur, ghadhab, riya’, sum’ah, ujub, dan syirik dan sebaginya, yaitu dengan cara pembinaan melalui tiga tahapan, yaitu takhalli, tahalli, tajalli.

Selain ketiga tahapan tersebut, dapat juga dengan cara menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah. Dengan adanya rasa cinta kepada Allah, maka apapun perbuatan yang kita lakukan semata-mata karena Allah. Jadi, untuk berbuat atau melakukan hal-hal yang tercela kita akan berfikir bahwa perbuatan tercela itu dibenci oleh Allah, maka karena rasa cinta kita kepada Allah kita akan menjauhi perbuatan tercela itu. Dan atas dasar rasa cinta kita kepada Allah, kita akan lebih merasa dekat dengan Allah dan rasa syukur kita akan apa yang diberikan Allah semakin bertambah. Kita akan merasa apa yang diberikan Allah kepada kita adalah karunia dan cobaan yang diberikan kepada kita itu atas dasar Allah masih sayang kepada kita dan masih memperhatikan kita.

 

KITAB MENUJU ALLAH ENTRI 1 : PENERIMA ANUGERAH PANCARAN CAHAYA

Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahaya-Nya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa. Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya tergantung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah Saw bersabda:

“Allah SWT berfirman di hari kiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmat-Ku dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Rasulullah Saw, membaca firman Allah Ta’ala: “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Adapan pancaran cahaya-cahaya-Nya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualiti wirid dan dzikir seseorang.

Dalam kitabnya Latha'iful Minan, Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari menegaskan,


“Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…”

Jangan terkesiama dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepada-Nya.

Dalam kitab Al-Hikam dijelaskan: “Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasia-Nya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”

Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya. “Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalanannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hamba-Nya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.

“Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajjuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagi-Nya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lain-Nya.

Sebagaimana dalam Al Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.

“Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hamba-Nya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipu daya.”

Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah. “Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhluk-Nya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya Sifat-Nya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”

Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa


“Shalat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan shalat, bukan wujud shalatnya.

“Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.

“Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifat-Nya. Terkadang hati sejenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya Sifat-Nya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.

“Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah Saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.

Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana


Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksi logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.

“Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.”
 
Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana.
 
Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipu daya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.

“Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasia-Nya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.

“Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifat-Nya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”

“Cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.

Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.